RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #13

13 Perempuan dengan Pulpen Merah

Malam itu, setelah mereka tiba di rumah, Tira tidak lagi bertanya apakah Aksa mencintainya. Kalimat sederhana yang diucapkan suaminya di dalam mobil masih terngiang pelan di kepalanya. Kalau nggak sayang, ngapain aku buru-buru pulang. Entah kenapa, semakin dipikirkannya, semakin dia sadar bahwa selama sembilan tahun menikah, Aksa memang tidak pernah pandai mengucapkan perasaannya. Laki-laki itu lebih sering memilih menunjukkannya melalui hal-hal kecil yang hampir selalu luput dari perhatian. Mengantar Kala ke sekolah sebelum berangkat bekerja, mengganti galon ketika dia lupa, menyetrika seragam tanpa diminta, sampai rela mengupaskan udang meskipun beberapa menit setelahnya tangannya akan terasa gatal.

Mungkin memang seperti itulah cara Aksa mencintai. Tidak banyak kata, tetapi selalu ada tindakan. Pikiran itu terus menemaninya hingga malam semakin larut. Di sampingnya, Aksa sudah tertidur lebih dulu setelah seharian menemani keluarga. Tira memandangi wajah suaminya beberapa saat sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.

***

10 tahun sebelumnya.

Lobi hotel sudah dipenuhi tamu ketika jam masih menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi. Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer bersahutan dengan dering telepon dari meja resepsionis. Beberapa tamu berdiri di antrean check-out, sementara di sisi lain rombongan tamu baru mulai berdatangan lebih cepat dari jadwal.

Aksa melangkah keluar dari ruang administrasi Front Office sambil membawa sebuah clipboard berisi laporan operasional hari itu. Kemeja putih yang dikenakannya masih tampak rapi tanpa sedikit pun lipatan. Name tag bertuliskan Aksa Pradana - Front Office Supervisor terpasang lurus di dada kirinya. Sebelum menuju lobi, dia berhenti sejenak di meja resepsionis.

"Pagi, Pak," sapa seorang resepsionis sambil menegakkan badan.

Aksa membalas anggukan kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke layar komputer yang masih menampilkan daftar kamar.

"Room 1108 sudah check-out?" tanyanya sambil menunjuk salah satu nomor kamar pada monitor.

"Sudah, Pak," jawab resepsionis itu cepat sambil menggerakkan mouse. "Housekeeping juga sudah konfirmasi kamar sedang dibersihkan."

"VIP arrival jam satu jangan sampai menunggu."

"Iya, Pak."

Aksa mengangguk pelan. Tidak ada kalimat tambahan. Dia melanjutkan langkahnya menyusuri area lobi, sesekali membalas sapaan beberapa staf yang berpapasan dengannya.

Pagi itu dia mendapat jadwal sebagai Manager on Duty. Selain memastikan operasional Front Office berjalan baik, dia juga bertanggung jawab mengawasi seluruh aktivitas hotel hingga malam nanti. Hari Sabtu selalu menjadi hari yang paling sibuk. Tingkat hunian hotel hampir penuh, restoran sudah menerima reservasi untuk makan siang, dan Grand Ballroom akan digunakan untuk pesta pernikahan dengan lebih dari delapan ratus tamu.

Handy talky yang tergantung di pinggangnya berbunyi pelan. "MOD monitor."

Aksa segera menekan tombol di sisi alat itu. "MOD masuk."

"Pak, pihak wedding organizer minta konfirmasi tambahan meja registrasi." Suara dari Departemen Banquet terdengar sedikit terburu-buru.

"Sudah disesuaikan dengan layout terbaru?"

"Belum, Pak. Masih menunggu persetujuan."

"Saya ke ballroom."

Lihat selengkapnya