Beberapa minggu setelah pesta pernikahan yang mempertemukannya dengan perempuan berpulpen merah itu, Aksa kembali mendapat jadwal sebagai Manager on Duty. Hari Sabtu lagi-lagi menjadi hari yang padat. Tingkat hunian hotel hampir penuh, restoran sudah menerima beberapa reservasi rombongan, sementara Grand Ballroom digunakan untuk acara seminar perusahaan yang akan dilanjutkan dengan gala dinner pada malam harinya.
Seusai morning briefing Front Office, Aksa mulai berkeliling memastikan setiap departemen berjalan sesuai standar. Dia sudah terbiasa berpindah dari lobi ke restoran, lalu ke area housekeeping sebelum akhirnya menuju ballroom. Handy talky di pinggangnya sesekali berbunyi, bergantian dengan sapaan para staf yang berpapasan dengannya di koridor hotel.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi." Jawaban Aksa selalu singkat, tetapi cukup membuat orang-orang tahu bahwa dia mendengar.
Saat melangkah memasuki area ballroom, suasana kembali dipenuhi kesibukan yang hampir sama seperti beberapa minggu lalu. Bedanya, kali ini tidak ada kepanikan. Para staf banquet bekerja sesuai tugas masing-masing. Sebagian sedang menyusun meja registrasi, sebagian lagi mengecek perlengkapan seminar yang sudah mulai berdatangan.
Di tengah kesibukan itu, perempuan yang sama kembali terlihat. Pulpen merah masih terselip di sela jemarinya. Aksa menghentikan langkah beberapa detik. Bukan karena ada masalah yang harus diselesaikan, melainkan karena tanpa sadar pandangannya memang jatuh ke arah perempuan itu.
"Mbak Tira." Seorang captain banquet menghampiri sambil membawa selembar kertas.
"Iya?" Tira menoleh sekilas, dia sedang fokus pada Banquet Event Order di tangannya.
"Vendor coffee break minta tambahan meja."
Tira menerima kertas itu, membaca sekilas, lalu memberi tanda menggunakan pulpen merahnya. "Tambah satu di sisi kanan. Jangan di depan pintu masuk, nanti tamunya numpuk."
"Siap." Captain itu baru saja berbalik ketika seorang staf lain kembali menghampiri.
"Mbak, LCD sebelah kiri belum nyala."
"Coba panggil tim engineering dulu. Kalau lima menit belum nyala, kabari aku lagi."
"Iya, Mbak."
Belum sempat staf itu pergi, seorang waitress kembali mendekat. "Mbak Tira."
"Hm?"
"Makan dulu, Mbak."
Tira bahkan tidak mengangkat kepala. Tangannya masih sibuk mencoret beberapa catatan pada Banquet Event Order.
"Iya, nanti."
Waitress itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban tersebut, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Aksa yang berdiri tidak jauh dari sana hanya memperhatikan sekilas sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kontrol ballroom.
Menjelang pukul sebelas siang, dia kembali melewati area yang sama. Suasana semakin sibuk. Para peserta seminar mulai berdatangan. Tim banquet bergerak cepat memastikan setiap meja sudah terisi perlengkapan rapat.
"Tira." Suara yang berbeda kembali memanggil.
Kali ini seorang chef keluar dari pintu dapur sambil melepas topi kokinya. "Iya, Chef?"
"Pasti belum makan."
Tira tersenyum tanpa menghentikan langkahnya. "Nanti ya, Chef."
Chef itu menggeleng pelan sambil tertawa kecil. "Nanti terus."
"Sebentar lagi."
"Jam berapa sebentar versi kamu, Tira?"
Beberapa staf banquet yang mendengar percakapan itu ikut terkekeh pelan. "Kalau Mbak bilang sebentar," celetuk salah seorang di antara mereka, "artinya dua jam lagi."
Tira hanya menggeleng geli. "Ih, kalian."
"Serius, Mbak."
"Udah sana kerja."
"Iya, Mbak."
Mereka kembali berpencar sambil masih saling melempar tawa kecil. Aksa yang kebetulan baru keluar dari ballroom mengernyit tipis. Entah mengapa sejak tadi hampir semua orang menyuruh perempuan itu makan.
Sore hari akhirnya tiba. Seminar berjalan lancar tanpa kendala berarti. Para peserta mulai meninggalkan ballroom, sementara tim banquet kembali sibuk membereskan ruangan untuk persiapan gala dinner malam nanti. Tira berdiri di dekat panggung sambil memeriksa kembali daftar kebutuhan acara berikutnya. Pulpen merahnya bergerak cepat memberi tanda pada beberapa bagian yang sudah selesai dikerjakan.
Sudah hampir pukul empat. Dia baru menyadari perutnya mulai terasa kosong. "Kayaknya habis ini makan deh," gumamnya pelan.
Dia baru saja hendak menutup map ketika pandangannya mendadak berkunang-kunang. Seluruh ruangan seperti berputar perlahan. Tira refleks memegang sisi meja terdekat. Napasnya berubah sedikit lebih berat.
"Mbak?"
Seorang staf banquet yang sedang melintas langsung menghentikan langkahnya.
"Nggak apa-apa," jawab Tira pelan sambil memaksakan senyum. "Cuma agak..." Kalimatnya terputus. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Beruntung sebelum benar-benar terjatuh, seseorang lebih dulu menopang lengannya dari samping.
Aksa.
Dia tidak bicara apapun. Tatapannya hanya menyapu wajah Tira yang terlihat jauh lebih pucat dibanding beberapa menit sebelumnya.
"Kursi." Satu kata itu langsung membuat dua staf banquet bergerak cepat mengambil kursi terdekat. Aksa membantu Tira duduk perlahan.
"Ambilkan air putih."
Seorang waitress segera berlari mengambil sebotol air mineral. Sementara itu, captain banquet yang sejak tadi memperhatikan langsung mendekat dengan wajah panik.
"Mbak, kenapa?"
Tira menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
Aksa menatap perempuan itu beberapa detik.
"Ayo ke klinik." Aksa memapah tubuh Tira yang mulai oleng.
“Kamu handle ballroom ini,” ucap Aksa pada Captain.
"Siap, Pak."
Tidak ada yang membantah. Semua bergerak sesuai instruksi. Di tengah kesibukan hotel, keadaan seperti ini memang bukan sesuatu yang boleh ditangani dengan tergesa-gesa.