RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #15

15. Perempuan yang Selalu Pulang Paling Akhir

Beberapa bulan berlalu sejak hari ketika Tira harus dibawa ke klinik karena tekanan darahnya turun. Sejak itu, hampir seluruh staf Banquet seolah memiliki tugas tambahan. Bukan lagi sekadar memastikan ballroom siap sebelum acara dimulai, tetapi juga memastikan supervisor mereka sempat makan di sela kesibukannya.

Sayangnya, kebiasaan seseorang yang sudah bertahun-tahun terbentuk tidak mudah berubah.

"Sudah makan, Mbak?" Pertanyaan itu terdengar hampir setiap hari.

"Nanti." Jawaban Tira pun masih tetap sama.

Hari itu Aksa mendapat jadwal shift sore. Sejak pukul tiga siang, area Front Office tidak pernah benar-benar sepi. Beberapa tamu datang untuk check-in, baik perorangan ataupun grup. Sesekali handy talky di pinggangnya berbunyi, memintanya membantu menyelesaikan keluhan tamu atau memastikan seluruh operasional hotel berjalan sebagaimana mestinya.

Menjelang pukul sembilan malam, suasana lobi mulai jauh lebih tenang. Aksa baru teringat charger telepon genggamnya tertinggal di dalam loker sejak pagi. Setelah menyerahkan sementara pengawasan lobi kepada staf yang sedang bertugas, dia berjalan menuju pintu belakang Front Office.

Koridor Back Office masih cukup ramai. Beberapa staf Accounting baru keluar dari ruangannya sambil membawa map, ada juga tim marketing yang tampak sedang lembur. Aksa juga mengangguk singkat kepada beberapa orang yang menyapanya sebelum melanjutkan langkah menuju area loker.

Di ujung koridor, tepat sebelum belokan menuju ruang ganti karyawan, terdapat Employee Dining Room yang dipisahkan oleh dinding kaca bening. Dari luar, siapa pun bisa melihat ke dalam ruangan itu.

Langkah Aksa melambat. Di salah satu meja dekat jendela, seorang perempuan duduk sendirian. Seragam banquet yang dikenakannya masih tampak rapi meski sedikit kusut di bagian lengan. Name tag masih terpasang. Sebuah Banquet Event Order terbuka di samping piring makan, sementara pulpen merah yang sudah begitu dikenalnya tergeletak di atas meja.

Tira. Dia baru menyendok nasi pertama ketika tanpa sengaja mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sesaat. Aksa refleks melirik jam tangan di pergelangan kirinya dan menunjukkan pukul 21.02. Tatapannya kembali jatuh ke arah perempuan itu. Sepertinya baru sempat makan.

Dia tidak segera masuk. Hanya berdiri beberapa detik di balik kaca, lalu melanjutkan langkah menuju ruang loker. Beberapa menit kemudian Aksa keluar kembali. Charger yang tadi dicarinya kini sudah berada di saku celana. Jalur menuju Front Office tetap harus melewati Employee Dining Room.

Entah karena haus, atau memang ingin mengambil segelas air putih sebelum kembali bekerja, langkahnya berbelok masuk ke dalam EDR.

Ruangan itu nyaris kosong. Jam makan malam untuk shift sore sebenarnya sudah dimulai sejak pukul lima. Di jam seperti ini tentu karyawan ada di departemen masing-masing. Bahkan petugas kitchen yang biasanya berjaga di sana pun tidak terlihat.

Tira masih duduk di tempat yang sama dan separuh isi piringnya sudah habis. Namun Banquet Event Order di sampingnya masih terbuka. Sesekali dia berhenti makan hanya untuk memberi tanda menggunakan pulpen merahnya.

Aksa mengambil sebuah gelas, mengisi air putih dari dispenser, lalu berdiri beberapa langkah dari meja Tira.

"Baru makan?"

Tira yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya langsung mengangkat kepala. "Oh... Pak Aksa."

Aksa tak menjawab, dia hanya mengangguk pelan sambil menunggu jawaban. Tira menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab.

"Iya, Pak. Baru sempat."

Aksa melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Jam sembilan."

"Iya."

"Masuk sore?"

"Iya."

"Jam makan shift sore mulai jam lima."

Tira tersenyum kecil sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Tadi masih setting ballroom. Habis itu lanjut ketemu klien, terus revisi Banquet Event Order buat besok. Jadi baru sempat makan sekarang."

Aksa hanya mengangguk singkat. "Hm." Dia meneguk air putih di tangannya. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

"Kamu nggak pernah libur?"

Pertanyaan itu membuat Tira tersenyum lagi. "Libur kok."

Lihat selengkapnya