Pagi itu hotel sudah kembali sibuk sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Meeting yang dipersiapkan sejak malam sebelumnya berjalan sesuai jadwal. Para peserta mulai memenuhi ballroom satu per satu, sementara staf banquet bergerak cepat memastikan tidak ada satu pun kebutuhan tamu yang terlewat. Di saat acara baru dimulai, Banquet Event Order untuk kegiatan berikutnya sudah lebih dulu tercetak di meja supervisor.
Seharusnya hari itu Aksa kembali mendapat jadwal shift sore. Namun sejak pagi buta telepon dari rekan kerja membangunkannya. Supervisor pagi mendadak tidak bisa masuk sehingga dia diminta menggantikan sementara. Itulah sebabnya, pagi itu Aksa sudah berdiri di depan seluruh staf Front Office untuk memimpin morning briefing seperti biasa.
Setelah memastikan semua hal berjalan lancar dan tidak ada keluhan tamu yang perlu ditanganinya, dia berjalan menuju area administrasi untuk menemui Sales Executive yang ingin mengonfirmasi kedatangan rombongan wedding akhir pekan nanti.
"Besok ada tambahan acara lagi, Pak," ujar salah satu staf dari bagian Sales sambil menyerahkan salinan Banquet Event Order. "Wedding delapan ratus pax, meeting di Cendana Room, sama gathering di Melati."
Aksa membaca sekilas lembaran di tangannya. "Semuanya di hari yang sama?"
"Iya."
"Banquet sanggup?"
Rina tertawa kecil. "Kalau ditanya sanggup atau nggak, jawabannya pasti sanggup. Soalnya anak banquet nggak pernah bilang nggak."
Aksa hanya mengangguk pelan. Kalimat itu terdengar seperti pujian, tetapi entah mengapa membuatnya kembali mengingat perempuan yang semalam masih berdiri di ballroom ketika dirinya sudah bersiap pulang.
Menjelang siang, dia harus melakukan pengecekan ke beberapa function room sebelum tamu berikutnya datang. Jalur tercepat menuju ballroom melewati service corridor yang menghubungkan gudang banquet dengan area dapur. Koridor itu jauh lebih ramai dibanding area depan hotel. Suara roda trolley bersahutan dengan bunyi piring dari kitchen, sementara beberapa staf housekeeping berlalu-lalang membawa linen bersih.
Baru beberapa langkah memasuki koridor, pandangan Aksa berhenti pada sebuah pemandangan yang cukup menarik perhatiannya. Empat orang staf banquet sedang berusaha mengeluarkan beberapa round table dari gudang penyimpanan. Meja-meja berdiameter besar itu disusun saling bertumpuk sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk memindahkannya.
Di antara mereka berdiri Tira. Seragamnya sudah sedikit basah di bagian punggung karena keringat. Kedua tangannya ikut memegang sisi meja sambil menghitung aba-aba.
"Satu... dua... angkat."
Meja bundar itu terangkat perlahan sebelum dipindahkan ke trolley. Salah seorang staf yang sedari tadi membantu tiba-tiba menerima panggilan melalui handy talky.
"Mbak, saya dipanggil Chef sebentar."
"Iya, nggak apa-apa."
Staf lainnya ikut menoleh. "Saya bantu angkat coffee break dulu ya, Mbak."
"Iya."
Dalam hitungan detik, yang semula ada empat orang tinggal dua orang. Tira hanya melirik tumpukan meja yang masih tersisa. Dia mengembuskan napas pelan, lalu kembali menyelipkan Banquet Event Order ke bawah lengannya.
"Kita lanjut aja."
Aksa menghentikan langkahnya. "Stafnya kurang?"
Tira menoleh. Ekspresinya sedikit terkejut melihat Aksa berdiri beberapa meter darinya.
"Oh, Pak Aksa." Terlihat dia tersenyum singkat.
"Nggak kok, Pak."
"Lalu?" Aksa melihat masih banyak round table yang belum dipindahkan dan di sana hanya ada Tira dan satu staf saja.
"Yang lain lagi ada kerjaan. Nanti juga balik lagi."
"Kenapa nggak ditunggu?"