RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #18

18. Alasan yang Tidak Lagi Diperlukan

Beberapa minggu telah berlalu sejak rangkaian acara wedding dan pelatihan perusahaan memenuhi hampir seluruh ruang function hotel. Kesibukan yang sempat membuat setiap departemen bekerja tanpa jeda kini mulai mereda.

Ballroom kembali kosong, ruang meeting hanya digunakan untuk pertemuan dalam skala kecil, sementara tamu yang datang didominasi oleh tamu individu dan perjalanan dinas. Hotel akhirnya kembali berjalan dengan ritme yang sudah sangat akrab bagi seluruh karyawannya.

Pagi itu suasana Front Office tidak terlalu padat. Beberapa tamu telah menyelesaikan proses check-out sebelum pukul dua belas siang, sedangkan rombongan berikutnya baru dijadwalkan tiba menjelang sore.

Aksa menyelesaikan pemeriksaan laporan malam seperti biasa sebelum menandatangani beberapa dokumen yang harus diserahkan kepada bagian administrasi. Baginya, hari itu tampak sama seperti hari-hari sebelumnya, tanpa agenda besar yang memerlukan koordinasi khusus antar departemen.

"Pak, Sales minta konfirmasi final jumlah kamar untuk grup besok," ujar salah seorang resepsionis sambil meletakkan map di atas meja. Aksa membuka halaman terakhir laporan itu sekilas, memastikan angka yang tercantum sudah sesuai dengan data reservasi, lalu menutupnya kembali.

"Saya ke sana sekarang," jawabnya singkat sebelum berdiri dan merapikan jas yang dikenakannya. Resepsionis itu mengangguk pelan, kemudian kembali melayani tamu yang baru saja datang ke meja penerima tamu.

Koridor menuju ruang Sales berada di sisi kiri lobby, sedangkan area function room membentang ke arah kanan. Aksa berjalan dengan langkah tenang seperti biasanya, melewati restoran dan beberapa tamu yang baru selesai sarapan. Namun ketika sampai di persimpangan koridor, langkahnya justru mengarah ke sisi kanan tanpa benar-benar disadarinya.

Baru setelah beberapa meter berjalan, ia berhenti dan memandang sekeliling seolah baru menyadari bahwa tujuan yang ditujunya bukanlah ruang Sales. Aksa mengembuskan napas pelan sebelum berbalik arah. Tidak ada siapa pun yang memperhatikan kejadian kecil itu, dan ia pun tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan.

Barangkali hanya karena terlalu sering melewati koridor tersebut selama beberapa bulan terakhir hingga tubuhnya bergerak mengikuti kebiasaan. Pikiran itu membuatnya kembali melangkah menuju ruang Sales tanpa mempersoalkannya lebih jauh.

***

Aksa tidak mengingat lagi kejadian kecil di koridor itu setelah pekerjaannya di ruang Sales selesai. Sisa shiftnya hari itu dihabiskannya dengan memeriksa daftar kedatangan tamu, memastikan seluruh reservasi grup telah sesuai dengan data yang masuk dari bagian reservasi.

Beberapa kali telepon di meja Front Office berdering silih berganti, disusul tamu yang meminta proses check-in dipercepat. Hingga menjelang shiftnya berakhir, semuanya berjalan seperti hari kerja pada umumnya.

Menjelang pukul empat sore, telepon internal di mejanya kembali berdering. Salah seorang staf Sales mengabarkan bahwa perusahaan yang akan mengadakan pelatihan meminta perubahan susunan meja registrasi di meeting room tiga. Perubahan itu tidak terlalu besar, tetapi tetap harus dikonfirmasi kepada banquet agar proses penataan ruangan tidak keliru.

Lihat selengkapnya