Dua hari setelah kembali bekerja, kondisi Tira sudah jauh lebih baik. Kesibukan hotel perlahan kembali seperti biasanya. Tidak ada wedding besar atau seminar perusahaan yang memenuhi seluruh ballroom. Namun justru di hari-hari seperti itulah setiap departemen sibuk dengan ritmenya masing-masing. Front Office dipenuhi tamu individu yang datang silih berganti, sementara Banquet mulai mempersiapkan beberapa meeting berskala kecil yang berlangsung bergantian sejak pagi.
Sejak datang ke hotel, Aksa dan Tira bahkan belum sempat berpapasan. Saat Aksa sedang berada di lobby, Tira sibuk berpindah dari satu meeting room ke meeting room lain. Ketika Tira kembali ke banquet office untuk mencetak Banquet Event Order berikutnya, Aksa justru sedang membantu menangani permintaan salah seorang tamu VIP. Hotel terasa cukup luas untuk membuat dua orang yang bekerja di gedung yang sama tidak bertemu hingga siang hari.
Baru menjelang pukul dua siang, Aksa menutup map laporan yang sejak tadi diperiksanya. Dia melirik jam tangan di pergelangan kirinya, lalu mengembuskan napas pelan. Jam makan siang seharusnya sudah lewat hampir dua jam. Setelah memastikan seluruh pekerjaan yang mendesak telah selesai, dia berjalan menuju Employee Dining Room yang berada di belakang area Back Office.
Jam makan siang hampir berakhir. Employee Dining Room sudah jauh lebih lengang dibanding biasanya. Buffet berbentuk huruf U yang memenuhi sisi ruangan masih dipenuhi berbagai macam menu. Nasi putih, sup hangat, sayur dan aneka lauk lainnya, hingga beberapa jenis sambal tersusun rapi di dalam chafing dish yang masih mengepulkan uap tipis. Seorang staf kitchen berdiri di dekat ujung buffet sambil sesekali mengganti wadah lauk yang mulai kosong.
"Siang, Pak Aksa," sapa staf kitchen itu sambil tersenyum.
"Siang."
"Baru makan, Pak?"
"Iya."
Staf itu terkekeh kecil. "Saya kira tadi Bapak sudah makan."
Aksa hanya mengangguk pelan sebelum mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi, tumis brokoli, ayam goreng dan mengambil semangkuk sup bening.
Di saat yang hampir bersamaan, pintu EDR kembali terbuka. Tira masuk sambil melepas pelan name tag yang terasa sedikit mengganjal di dadanya dan meletakkan di saku jasnya. Dia mengambil piring, lalu mulai berjalan mengikuti jalur buffet. Senyum kecil langsung muncul ketika melihat chafing dish berisi udang goreng yang masih penuh.
"Wah..."
Suara pelannya membuat staf kitchen ikut tertawa.
"Masih banyak, Mbak."
"Hehe, iya. Tumben jam segini masih penuh."
"Kirain udah habis ya?"
"Iya. Soalnya biasanya kalau saya telat makan begini menu utama tinggal remahannya saja."
Staf kitchen tertawa lalu sambil membantu menambahkan lauk yang baru matang ke dalam wadah buffet. "Ya, tergantung stock dan jumlah karyawan yang masuk, mbak."
Tira mengambil beberapa udang ke atas piringnya, lalu melanjutkan mengambil lauk lain. Baru beberapa langkah berjalan, dia berhenti.
"Eh.. Pak Aksa?"
Aksa yang sedang menuang air putih menoleh. "Oh... Tira."
"Bapak baru makan juga?"
"Iya."
Mereka kembali berjalan menuju meja makan. Ruangan yang semula dipenuhi puluhan orang kini hanya menyisakan beberapa karyawan dari departemen berbeda yang sedang menghabiskan makan siang mereka. Hampir seluruh meja sudah kosong. Tanpa banyak berpikir, Aksa memilih meja yang paling dekat dengan jendela. Baru saja dia hendak duduk, Tira menghentikan langkah di samping meja itu.
"Boleh gabung, Pak?"
Aksa mengangguk singkat. "Iya."
Tira menarik kursi di hadapannya lalu meletakkan nampan di atas meja. Baru beberapa suap nasi masuk ke mulutnya, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke piring milik Aksa.
"Lho..."
Aksa mengangkat kepala. "Kenapa?"
"Bapak nggak ambil udang?"