RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #20

20 Bukan Kebetulan Lagi

Hari itu hotel kembali berjalan seperti biasanya. Tidak ada acara besar yang membuat seluruh departemen harus bekerja hingga larut malam. Setelah meeting terakhir selesai, para staf banquet mulai merapikan perlengkapan yang masih tersisa di ballroom, sementara Front Office kembali sibuk menerima tamu yang datang menjelang malam. Kesibukan tetap ada, hanya saja tidak lagi terasa terburu-buru seperti beberapa minggu sebelumnya.

Menjelang pukul lima sore, Aksa menyelesaikan overhandle kepada supervisor shift berikutnya. Beberapa poin penting mengenai tamu VIP dan reservasi grup esok hari disampaikan satu per satu sebelum akhirnya dia menandatangani buku serah terima. Setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu ditanganinya, dia mengambil tas kerja yang sejak tadi diletakkan di bawah meja.

"Pak."

Aksa menoleh, "Iya?"

"Sudah selesai?"

Danu menghampiri Aksa di koridor  sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Sudah."

Keduanya berjalan melewati koridor belakang hotel yang mulai lengang. Sebagian besar karyawan shift pagi sudah pulang, sementara shift berikutnya terlihat mulai mengambil alih pekerjaan. Sesekali mereka berpapasan dengan beberapa staf yang menyapa sebelum kembali melanjutkan langkah masing-masing.

"Meeting tadi lancar?" tanya Aksa memecah keheningan.

"Lancar."

"Besok?"

"Masih dua meeting dan prepare untuk wedding akhir pekan."

Aksa mengangguk pelan.

"Front Office gimana?"

"Aman."

Percakapan mereka kembali berhenti. Tidak canggung, memang begitulah cara dua orang supervisor yang sudah terbiasa bekerja bersama berbicara. Baru ketika mereka menunggu lift di depan area Back Office, Danu tiba-tiba tersenyum kecil tanpa alasan yang jelas.

"Pak."

"Iya?"

"Saya mau nanya sesuatu boleh?"

Aksa menoleh sekilas. "Apa?"

Danu menggaruk pelan tengkuknya sambil tertawa kecil. "Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa."

Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersamaan. Begitu pintu kembali menutup, Danu baru melanjutkan kalimatnya. "Bapak akhir-akhir ini sering ke Banquet."

Aksa menjawab tenang. "Hanya koordinasi."

Danu mengangguk. “Iya sih. Awalnya saya juga mikir begitu."

Lift mulai bergerak turun menuju lantai dasar, sementara Aksa tetap berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana.

"Tapi..."

Danu menoleh sambil tersenyum tipis.

"...kayaknya bukan itu aja. Hm, Bapak suka Tira, ya?”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Aksa tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu, lift terasa lebih sunyi dari biasanya.

Lihat selengkapnya