Malam semakin larut ketika rumah akhirnya kembali sunyi. Kala dan Sora sudah tertidur di kamar mereka masing-masing setelah seharian bermain. Lampu ruang keluarga hanya menyisakan cahaya kekuningan yang temaram, sementara suara televisi terdengar pelan tanpa benar-benar ditonton oleh siapa pun.
Tira keluar dari kamar anak-anak sambil menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan mereka. Begitu berbalik, pandangannya langsung menangkap sosok Aksa yang masih duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka di atas meja. Jemarinya bergerak pelan di atas keyboard, sesekali berhenti untuk membaca kembali laporan yang sedang dikerjakannya.
"Kok belum tidur?" tanya Tira sambil duduk di samping suaminya.
"Sebentar lagi."
"Ada laporan?"
"Hm."
Tira mengangguk kecil. Dia tidak bertanya lebih jauh. Selama sembilan tahun menikah, dia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Aksa memang jarang membawa pekerjaan ke rumah. Namun jika ada laporan yang harus selesai malam itu juga, laki-laki itu selalu memilih mengerjakannya setelah anak-anak tidur agar tidak mengurangi waktu bersama keluarga.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Tira menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memijat pelan tengkuk yang terasa pegal. Hari itu tidak ada sesuatu yang luar biasa melelahkan, tetapi entah mengapa tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya.
Aksa menghentikan gerakan jemarinya sejenak. "Capek?"
"Sedikit."
"Istirahat."
Tira terkekeh kecil. "Ibu rumah tangga istirahatnya kapan, sayang?"
Aksa menoleh sekilas. "Hari Minggu."
"Terus siapa yang masak?"
"Kan bisa beli."
Jawaban datar itu membuat Tira kembali tertawa. Entah sudah berapa kali percakapan seperti itu terjadi di antara mereka. Aksa memang selalu memiliki solusi yang terdengar sederhana untuk setiap hal yang menurut Tira sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Tawa itu perlahan mereda setelah Tira beranjak menuju dapur, tak lama dua cangkir teh hangat masih mengepulkan uap tipis diletakkannya di atas meja. Aksa menutup laptopnya pelan, lalu mengembuskan napas panjang sebelum berdiri. Dia membawa kedua cangkir itu menuju teras depan rumah. Begitu membuka pintu, angin malam langsung menyambut. Tira sudah duduk lebih dulu di kursi rotan, memandangi jalan kompleks yang mulai sepi.
Aksa duduk di kursi sebelahnya. Tidak ada percakapan selama beberapa menit. Mereka memang terbiasa menikmati keheningan tanpa merasa canggung. Sesekali hanya terdengar suara motor yang melintas di ujung jalan dan gesekan dedaunan yang tertiup angin malam.
"Sayang."
"Iya?"
"Kamu capek nggak?"
Aksa menoleh pelan. "Capek apa?"
"Hidup."
Sudut bibir Aksa terangkat tipis. "Pertanyaannya berat."
"Lah, ayo jawab."
Aksa tersenyum kecil sambil menatap langit yang mulai dipenuhi bintang. "Kalau ditanya capek ya capek."
Tira ikut menoleh. "Ada tapinya?"
Pria itu mengangguk pelan, "Tapi bahagia."
Jawaban itu membuat Tira mengangguk pelan. Dia sudah menduga suaminya akan mengatakan hal yang sama. Selama bertahun-tahun menikah, Aksa memang selalu terlihat lelah sepulang kerja. Namun, laki-laki itu tidak pernah sekalipun membuat rumah terasa ikut lelah.
Aksa bergantian menatap wajah istrinya. "Kalau kamu?"
Tira tidak langsung menjawab. Jemarinya mengusap pelan sisi cangkir yang mulai terasa hangat di telapak tangan. Tatapannya lurus ke depan, seolah sedang mencari sesuatu yang bahkan tidak tahu di mana harus menemukannya.