RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #22

22 Halaman Pertama

Pagi kembali datang dengan kesibukan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Aroma bawang putih yang ditumis memenuhi dapur, sementara Kala sibuk mencari kaus kaki yang entah sejak kapan selalu menghilang setiap Senin pagi. Di ruang tamu, Sora berjalan ke sana kemari sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya, sesekali mengikuti kakaknya yang sedang terburu-buru mengenakan sepatu.

"Kakak, tunggu."

"Nggak bisa, nanti Kakak telat."

"Tunggu sedikit."

Kala menoleh sambil terkekeh kecil, lalu berjongkok di depan adiknya.

"Nanti siang Kakak pulang."

Sora mengangguk puas, seolah janji itu sudah cukup membuatnya rela melepaskan kakaknya pergi.

Setelah sarapan selesai, Aksa mengantar Kala ke sekolah seperti biasanya. Beberapa menit kemudian dia kembali ke rumah untuk mengambil tas kerjanya yang tertinggal di atas sofa.

"Mau berangkat sekarang?" tanya Tira.

"Iya."

Tira mengangguk kecil sambil merapikan kerah kemeja suaminya yang sedikit terlipat.

"Hati-hati."

"Iya."

Aksa sempat memandang wajah istrinya beberapa detik.

"Tir."

"Ya?"

"Jangan lupa istirahat."

Tira tersenyum menatap wajah teduh sang suami, "Iya."

Tidak ada kalimat lain. Aksa hanya mengusap pelan kepala Sora yang sedang menyusun balok di lantai, lalu melangkah keluar. Suara pintu yang menutup perlahan membuat rumah kembali tenang dan rutinitas kembali mengambil alih.

Tira mencuci piring, menyapu lantai, lalu melipat pakaian yang sejak pagi dijemur di halaman belakang. Sesekali Sora datang menghampirinya hanya untuk menunjukkan gambar kelinci yang baru saja diwarnainya, lalu kembali berlari menuju ruang tamu.

"Mama."

"Iya?"

"Lihat."

Tira berjongkok di samping putrinya.

"Wah..."

"Kelinci."

"Iya. Cantik."

Sora tersenyum bangga sebelum kembali bermain. Tira ikut tersenyum. Namun begitu berdiri, senyum itu perlahan memudar. Entah kenapa, percakapan semalam bersama Aksa masih terus berputar di kepalanya.

"Ini cuma Tira yang lagi lupa jalan pulang."

Menjelang siang, Sora akhirnya tertidur setelah cukup lama meminta dibacakan cerita yang sama. Tira menutup pintu kamar perlahan dan rumah kembali sunyi. Dia melangkah menuju dapur untuk membuat segelas air hangat.

Namun ketika melewati meja makan, langkahnya berhenti. Pandangan itu kembali jatuh pada laci kecil di ujung meja. Beberapa detik dia hanya berdiri. Lalu perlahan membukanya. Buku bersampul cokelat itu masih berada di tempat yang sama. Tira mengusap pelan sampulnya sebelum menarik kursi dan duduk.

Halaman demi halaman kembali terbuka. Tulisan-tulisan yang dulu terasa asing kini perlahan terasa akrab. Coretan mengenai wedding, revisi Banquet Event Order, sampai paragraf yang beberapa bulan lalu membuatnya berhenti membaca.

Dia tersenyum melihat catatan yang sempat dia tulis.

"Dulu aku sempat bilang mungkin belum sekarang."

Tangannya meraih pulpen yang terselip di sela-sela halaman. Kali ini, dia tidak buru-buru membuka tutupnya. Dia hanya menggenggamnya, cukup lama seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini tercecer di antara rutinitas. Tira menarik napas pelan lalu membuka halaman kosong yang masih menunggunya sejak malam itu.

Lihat selengkapnya