Beberapa minggu berlalu sejak malam ketika Aksa memberikan sebuah laptop baru kepada Tira. Tidak banyak yang berubah di rumah itu. Pagi masih dimulai dengan suara alarm Aksa, disusul suara Kala yang terburu-buru mencari perlengkapan sekolah. Sora masih sering berlari tanpa tujuan sambil membawa boneka kelincinya, sementara Tira tetap menjadi orang pertama yang memastikan sarapan tersedia sebelum semua orang meninggalkan rumah.
Pekerjaan rumah tidak tiba-tiba berkurang. Sora tetap membutuhkan seseorang untuk menemaninya bermain. Kala tetap pulang membawa cerita tentang sekolah. Tidak ada kehidupan baru yang tiba-tiba datang menggantikan kehidupan lama Tira.
Hanya saja, sekarang ada satu hal kecil yang berbeda. Di sudut meja ruang keluarga, sebuah laptop selalu berada di sana. Tidak tersimpan di dalam tasnya atau dibiarkan berhari-hari tanpa disentuh. Sesekali Tira membukanya ketika Sora sedang tidur siang. Kadang hanya beberapa menit sebelum kembali ke dapur atau sampai matahari mulai bergeser ke sisi rumah dan suara anak-anak memanggilnya dari kamar.
Dia tidak selalu berhasil menulis. Ada hari ketika satu halaman hanya berisi dua paragraf. Ada hari ketika dia membuka dokumen kosong selama hampir satu jam tanpa mengetik satu kata pun. Namun kali ini, ketika pikirannya buntu, Tira tidak lagi menutup laptop sambil merasa gagal. Dia hanya menyimpan tulisannya lalu kembali lagi keesokan harinya. Perlahan tapi pasti seperti yang dikatakan Aksa.
***
"Mama."
"Iya?"
"Papa sudah pulang?"
"Belum."
Kala meletakkan mainannya, lalu berjalan mendekati meja ruang keluarga. Pandangannya langsung jatuh pada laptop yang masih terbuka.
"Mama lagi nulis?"
Tira menoleh sambil tersenyum.
"Iya."
"Masih cerita yang itu?"
Tira mengangguk. “Iya sayang.”
Kala berdiri di samping kursi ibunya, mencoba melihat layar dari belakang.
"Boleh baca?"
Tira langsung menutup laptopnya.
"Nanti."
Kala terkekeh kecil. "Kenapa?"
"Belum selesai."
"Kalau belum selesai memangnya kenapa?"
Tira menatap putrinya beberapa detik. Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu mengingatkannya pada dirinya sendiri beberapa bulan lalu. Pada halaman kosong yang begitu lama dibiarkannya tanpa satu pun tulisan.
"Nggak kenapa-kenapa."
Tira tersenyum. "Mama cuma mau menyelesaikannya dulu."
Kala mengangguk. "Kalau udah selesai, aku boleh baca?"
"Boleh."
"Janji?"
"Janji."
Tira kembali membuka laptopnya setelah Kala melangkah menjauh dari sana. Layar putih itu masih menampilkan paragraf terakhir yang baru saja ditulisnya. Dia membaca ulang beberapa kalimat, lalu tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, tulisan itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang sedang dikejarnya. Tulisan itu terasa seperti tempat untuk berhenti.