Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #2

fakta yang mengejutkan

1 tahun sebelum kejadian.

“Mohon maaf sebelumnya, hasil tes ini akan sulit dipercaya. Tapi saya harus mengatakan ini pada Njenengan semua,” ucap seorang lelaki muda yang mengenakan jas Dokter. Dia baru saja mempelajar hasil tes yang Umar jalani. Matanya tampak berkaca-kaca mengetahui apa yang terjadi dan rahasia yang disenbunyikan Umar

“Dokter, katakan sebenarnya! Apa yang terjadi pada ccu saya. Apa yang terjadi pada Umar?” tanya Fatiah sambil menggoyang tubuh lelaki yang ada di hadapannya. Wanita itu tidak sabar untuk mengetahui penyakit yang cucunya alami.

“Mas Umar positif megidap HIV, dan kondisi penyakitnya sudah cukup parah.”

Apa yang dikatakan dokter yang bernama Shaka, berhasil membuat Fatimah bagai tersambar petir. Tubuhnya hampir saja roboh setelah mendengar apa yang cucunya derita. Beruntung Arumi – Tante Umar dari pihak Ibu – yang menemani Fatimah sejak Umar memasuki IGD sigap memegangi tubuh wanita yang sudah begitu renta.

“Bu Fatimah, istighfar. Istighfar, Bu!” pinta Arumi.

“Umar, kenapa dia bisa unya penyakit seperti itu?” tanya Fatimah dan memberi isyarat pada Shaka untuk memeriksa kondisi Umar kembali.

“Dokter, periksa kondisi cucu saya sekali lagi! Tolong, ulangi tes Lab yang baru Umar jalani.” Arumi juga ikut memohon. Shaka tidak ada pilihan lain. Semuanya akan sia-sia jika dipaksakan. Hasil yang ada juga akan sama.

“Maaf, Bu Fatimah, Bu Arumi. Ini hasilnya valid. Dokter spesialis terkait juga mengatakan hal yang sama. Jika diulang, hasil yang keluar juga akan sama. Saya tidak bisa mengulang semua ini, karena hasilnya, pasti akan sama.” Shaka hanya bisa menjelaskan semua itu.

“Shaka, aku tau kau anak pintar. Aku tau bagaimana prestasimu selama masih sekolah hingga duduk di bangku perkuliahan. Tolong katakan padaku, kenapa dengan keponakanku yang satu ini? Tolong jelaskan padaku, apa yang terjadi pada Umar? Kenapa Umar bisa mengidap penyakit seperti ini?” tanya Arumi yang mencoba mengulik. Shaka hanya bisa terdiam. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang Umar katakan pada mereka. Cerita yang disampaikan Umar, membuatnya sesak dan tidak kuasa menahan tangis. “Shaka, tolong katakan padaku, Le! Katakan padaku apa yang terjadi sama Umar?”

“Bu Arumi, saya tidak sanggup menceritakan semuanya. Alangkah lebih baik, jika Njenengan semua, mendengarkan langsung dari yang bersangkutan.” Shaka hanya bisa mengatakan hal itu dengan air mata yang terus menetes. Arumi tau, ada sesuatu yang mengganjal Shaka sampai akhirnya dia tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. “Tapi, yang jelas Mas Umar sudah tersesat ke jalan yang salah, dan dia tidak cerita pada siapapun. Dia sudah terjerat pergaulan bebas.”

“Umar, kenapa semua ini terjadi sama dia? Kenapa dunia ini tidak adil pada keponakanku?” tanya Arumi. Tubuh wnita yang berusia 42 tahun itu tampak lemas dan terduduk di lantai.

“Bu Arumi.” Shaka langsung membantu Arumi untuk duduk di kursi yang tersedia.

“Shaka, kenapa Umar ampai mengalam hal ini? Apa yang jadi kesalahan kami? Seharusnya, kalo igtu kesalahan kami, kami saja yang harus mendapat hukumn, bukan Umar.” Arumi hanya bisa menangis. “Aku merawatnya sejak dia masih SMP. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku sudah merawatnya dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.”

Lihat selengkapnya