“Umar, dunia memang kejam. Dunia ini memang kejam, dan kita harus menghadapi semuanya.” Arumi tersenyum dan menghapus air mata keponakan yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri. “Le, ada Eyang. Bicara juga sama Eyang.”
“Eyang, aku minta maaf.”
“Le, tidak perlu disesali apa yang sudah terjadi. Aku sudah memaafkan apa yang terjadi. Semua ini sebenarnya berat untuk kita hadapi, apalagi kamu. Tapi, aku yakin kita ada kemampuan untuk menjalani semua itu. Sekarang, kamu harus segera sembuh dan eyang ingin kamu bisa hidup seperti orang pada umumnya.” Fatimah mendekat dan memegang tangan sang cucu. Umar hanya bisa terdiam dan menatap Shaka yang tampak berkaca-kaca.
Umar ingat dengan samar, wajah dokter itu. Wajah itu, dulunya adalah remaja yang terkenal pemberani dan berprestasi di Wanarandu dan sudah belasan tahun pergi ke luar desa. Dia mengingat, lelaki itu harus kelur dari Wanarandu setelah keluarganya terkena musibah dan rumahnya terbakar. Setelah kejadian itu, ia tidak pernah mendengar kabarnya, sampai akhirnya sekarang mereka dipertemukan.
“Dokter Shaka.” Umar memangil lelaki itu walaupun suaranya nyaris tidak terdengar. Shaka yang tidak mendengar panggilan Umar langsung mencoba keluar dari ruangan itu dan ingin melupakan apa yang terjadi padanya. Ruangan itu membuatnya ingat apa yang terjadi di masa lalunya. “Dokter Shaka.”
Arumi yang mendengar Umar tengah membutuhkan Shaka, langsung mendekat dan meminta dia untuk berhenti. “Shaka, aku mohon, jangan keluar! Aku mohon, tetaplah di sini! Umar membutuhkanmu saat ini.”
“Mas Umar, ada apa?” tanya Shaka. Umar meminta Shaka mendekatinya. Dia ingin memegang wajah yang dia ingat secara samar.
“Dokter Shaka, aku ingat wajah ini.” Umar mengusap wajah Shaka yang berurai air mata. Shaka terdiam beberapa saat dan ingin sekali menjauh. Dia tidak pernah ingin mengingat kejadian saat itu. Dia ingat bagaimana kejamnya malam itu. Malam itu, sebuah kejadian membuatnya harus menerima kenyataan, jika keluarganya tidak akan pernah utuh.
“Mungkin, Mas Umar salah orang. aku, tidak pernah mengenalmu sebelum ini.” Shaka mencoba pergi, tapi tangannya digenggam oleh Umar dan memberikan isyarat jika Shaka tidak boleh pergi.
“Dokter Shaka, dulu tinggal di Wanarandu kan? Dokter Shaka pernah tinggal di Wanarandu kan?” tanya Umar. Shaka terdiam dan memilih tidak menjawab.
“Shaka, jawablah dengan jujur, Le. Aku tau semuanya. Aku memang baru mengenalmu saat SMA, tapi aku tau semuanya, termasuk apa yang terjadi saat kamu belum bekerja di tempatku. Aku minta, jawablah pertanyaan Umar dengan jujur!” Arumi meminta Shaka untuk tetap di tempat.
“Bu, saya tidak mau mengigat apa yang terjadi di masa lalu. Masa lalu saya, hanya dipenuhi luka. Mengingat semua itu, hanya membuat saya terkurung dalam luka yang sudah saya coba tutupi.” Shaka mencoba menahan air matanya. Arumi mendekat dan tersenyum. Dia yang menenal Shaka sejak masih SMA, banyak tau apa yang menimpa lelaki muda itu belasan tahun yang lalu.
“Shaka, aku tau jika semuanya berat untuk kau ingat. Kamu sudah seperti anakku sendiri, dan aku tau kalo kamu bersedih. Aku tau kamu sakit hati dengan apa yang terjadi dengan masa lalumu. Kalian sama. Kalian mempunyai nasib yang sama di masa lalu. Aku mohon, beri dukungan pada Umar. Kalian bisa saling mendukung satu sama lain.” Arumi meminta agar Shaka bisa membantu Umar untuk proses penyembuhannya.
“Bu, saya tidak bisa memberi dukungan penuh buat Mas Umar. Saya hanya, melakukan tugas sebagai seorang Dokter. Semua yang saya lakukan mulai di IGD, adalah kewajiban saya sebagai seorang dokter.” Shaka pergi dan memberi isyarat jika dia tidak mampu.
“Shaka.” Shaka terhenti dengan panggilan Arumi. Dia menoleh dan menatap perwmpuan yang pernah menolongnya di masa lalu. “Kau belum menjawab pertanyaan Umar. Apakah, kau keberatan denga pertayaan itu?”
Shaka terdiam dan Arumi mendekatinya. “Shaka, jawablah pertanyaan Umar, sebelum kamu melanjutkan pekerjaanmu.”
“Aku, tidak bisa menjawabnya.” Shaka akhirnya pergi dan Arumi hanya isa terdiam melihat kepergian lelaki muda itu.