Fatimah terdiam dan meneteskan air mata. Dia teringat anak sulungnya. Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa, bukanlah perempuan seperti yang dilihat banyak orang. Dia adalah perempuan yang begitu licik. Dia sangat tau, apa yang akan dilakukan oleh Ismawati bersama sang suami yang tidak lain adalah anggota dewan. Semuanya tidak bisa diangap remeh.
“Arumi, ini semua tidak seperti yang kau kira. Ini tidak seperti yang kau lihat. Ada sesuatu yang membuat aku harus mengawasi Umar dengan baik. Aku harus terlibat dalam pengawasan Umar, karena ada sesuatu yang mengintainya.” Fatimah terdiam dan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Usianya sudah renta dan sudah satnya tubuhnya istirahat. Tapi, apa yang terjadi dalam keluarganya, membuat dirinya tidak bisa tenang dan menikmati masa tuanya. Ada sesuatu yang harus dia jaga. Harta peninggalan anak sulungnya yang seharusnya menjadi milik umar, harus dia jaga dan dia pastikan berada di tangan yang tepat.
“Bu Fatimah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku menangkap ada sesuatu yang membuat Njenengan khawatir?” tanya Arumi dan Fatimah hanya bisa terdiam. Tubuhnya yang mulai berangsur lemah hanya bisa memandangi Umar yang terbaring tak berdaya di tempat perawatan.
“Nduk, Umar ini tidak lagi punya orang tua. Ayahnya sudah meninggal sekian tahun yang lalu dan Ibunya entah berada di mana. Tidak semua orang yang berada di sampingya adalah orang baik, bahkan dari keluarganya sendiri. Tidak semua orang yang berada di Wanarandu, akan menerima Umar dengan segala kondisinya sekarang ini.”
“Bu, aku sebenarnya tidak melarang kalo Umar berada di tempatmu. Dia juga cucu Ibu, dan Ibu berhak tinggal sama dia. Tapi kalo melihat kekhawatiranmu, aku rasa dia akan lebih baik bersamaku. Umar akan aman. Bu Fatimah tidak perlu mengkhawatirkan Umar. Dia aman bersamaku.” Arumi tersenyum dan Fatimah hanya bisa diam.
“Nduk, aku minta maaf. Sekali lagi aku hanya mau minta maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaanu. Aku bukan meragukan kasih sayangmu pada Umar. kamu sudah membuktikan semuanya. Tapi ada sesuatu yang memang harus aku jaga. Usiaku memang sudah senja, tapi aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Ada hal yang aku khawatirkan, terkait Umar. aku harus menjaga sesuatu yang seharusnya menjadi haknya.”
“Bu Fatumah.” Fatimah menangis dan langsung keluar ruangan. Melihat semua itu, Arumi langsunb menyusul wanita itu. Umar diminta untuk tetap beristirahat dan Shaka langsung pergi melaksanakan tugasnya yang lain.
Di luar ruangan.
Bu Fatimah, apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati, Ibu?” tanya Arumi.
“Arumi, aku tau jika semua ini tidak seharusnya terjadi. Aku tidak meragukan kasih sayangmu pada Umar. Aku melihat sendiri, bagaimana kamu menyayangi Umar. Kamu menyayanginya dengan begitu ikhlas dan luar biasa. Kau menyayanginya, sama seperti Suci menyayangi Umar sebelum dia menghilang. Tapi, aku harus menjaga agar peninggalan ayah Umar bisa terjaga dengan baik. Aku hanya ingin menjaga harta itu. Makanya aku ingin Umar berada di Wanarandu, agar tidak ada orang yang berniat untuk mengambil harta itu, apalagi saudaranya sendiri.” Fatimah menceritakan semuanya sambil meneteskan air mata.
Arumi hanya bisa terdiam dan menengok Umar dari jendela. Dia sendiri juga tidak tau, dimana keberadaan kakaknya. Suci – Ibu kandung Umar – sudah menghilang sejak perceraiannya dengan Yusuf beberapa tahun silam.
“Mbak Suci, dimanakah dirimu? Umar sedang membutuhkan kehadiranmu sekarang ini. Umar butuh kehangatan kasih sayangmu sekarang ini,” lirih Arumi sambil meneteskan air mata. “Mbak, dimanapun kamu, aku berharap kamu sehat dan bisa kembali memeluk anakmu. Anakmu membutuhkan perhatianmu.”
***
Di sebuah rumah.
Seorang lelaki berdiri menatap seorang wanita yang tengah terdiam. Kabar yang mereka terima tentang Umar, membuat Wanita yang bernama Ismawati hanya bisa terdiam. Kabar itu sudah merusak citranya sebagai kepala desa. Apa yang terjadi pada keponakannya, akan menghancurkan karirnya juga suaminya.
“Ismawati, keponakan kamu itu memang memalukan. Dia kena HIV. Itu memalukan bagi keluarga kita.” Lelaki yang bernama Ismail mengatakan semua itu dan Ismawati hanya bisa diam. Dia tidak bisa melakukan apapun walau dia tau jika semua itu akan merusak semuanya.