Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #5

ketulusan Imran

“Ayah, kenapa kau masih saja mengkhawatirkan Ibu? Dia bukan lagi siapa-siapapmu? Dia tidak ada hubungan apapun denganmu?” tanya lelaki muda itu. “Tidak seharusnya, seorang lelaki mengkhawatirkan perempuan yang bukan siapa-siapanya.”

“Kamu gak tau kenapa kami bercerai, Le. Kamu tidak tau, akar masalahnya, Le.”

“Ayah, Ibu sudah menghina Ayah selama ini. Ibu sudah merendahkan Ayah yang hanya seorang pekerja lepas.” Lelaki muda itu hanya bisa meneteskan air mata. “Ayah, tidak sepantasnya, seorang lelaki terlalu mengkhawatirkan orang lain yang bukan siapa-siapanya, apalagi kalo itu berhubungan dengan lawa jenis. Ayah selalu mengatakan itu kan padaku?” tanya lelaki muda itu kembali.

“Le, kau benar.” Lelaki tua itu hanya bisa tersenyum.

“Ayah, kenapa Ayah masih mengkhawatirkan perempuan itu?” tanya lelaki muda.

“Tidak perlu dipikirkan. Aku minta maaf atas semua yang terjadi.”

“Baiklah, aku pergi dulu. Jaga diri Ayah baik-baik.”

***

Di rumah sakit.

Imran berjalan menyusuri Lorong rumah sakit dan berniat menjenguk Umar. Dia menjenguk sepupunya sebaga bentuk kepedulianya dan berharap Umar masih mau menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.

“Eyang.” Imran mendekati wanita tua yang tengah duduk di salah satu koridor rumah sakit. Wajahnya tampakm sangat gelisah. “Eyang, kenapa Eyang ada di sini?”

“Imran, kau di sini, Le?” tanya Fatimah yang tampak kaget dengan keberadaan Imran di tempatnya berada.

“Lho, memangnya kenapa? Aku salah ada di sini?” tanya Imran. “Eyang, bagaimanapun Mas Umar itu tetaplah saudaraku. Aku tetap harus menjenguknya. Kami masih bersaudar dan Mas Umar tetaplah teman masa kecilku.”

“Le, kau datang sendiri ke sini?”

“Terus, aku datang sama siapa? Ibu sekarang pasti sedang repot degan tugas-tugasnya.”

“Sedang repot, atau memang tidak mau?” tanya Fatimah dan membuat Imran terdiam. Dia sangat mengerti, jika sang ibu begitu membenci kedua orang tua Umar. “Aku bukannya tidak tau apa yangb Ibu dan Bapak tiri kamu lakukan. Aku tau semuanya, Le.”

“Eyang, aku mengerti tentang apa yang jadi masalah dari keluarga kita. Mungkin alasan lebih tepatnya, memang malu dengan apa yang sedang Mas Umar hadapi.”

“Imran, aku tidak peduli dengan apa yang Ibu kamu akan lakukan dan apa yang dia inginkan. Umar akan tetap tinggal di rumahku. Tidak ada siapapun yang bisa menghentikan niatku ini, termasuk bapakmu yang katanya pejabat itu.” Fatimah berdiri dan langsung meninggalkan Imran. Imran yang melihat langkah Neneknya, hanya bisa mengejar dan mencoba bicara.

“Eyang, aku tau apa yang Eyang mau. Aku sama sekali gak keberatan dengan niat Eyang, toh Mas Umar juga bagian dari keluarga kita. Tapi, apa sudah dipikirkan lagi terkait resikonya?” tanya Imran dan membuat Fatimah terdiam beberapa saat, dan sorot matanya langsung mengenai wajah sang cucu yang tengah menanti jawaban.

“Jangan pernah mengajariku masaah itu, Le! Aku sudah punya pengalaman terkait semua itu.” Apa yang dikatakan Fatimah membuat Imran terdiam beberapa saat. Dia bukan menyepelekan sang Nenek. Dia tau sang Nenek punya pertimbangan saat memutuskan sesuatu.

“Eyang, aku minta maaf kalo pertanyaanku menyinggung. Aku sama sekali tidak bermaksud meragukan Eyang. Tapi, aku rasa ada banyak hal yang harus kita pikirkan untuk Mas Umar. kondisi Mas Umar sekarang tidak bisa kita samakan dengan orang sakit pada umumnya. Banyak orang yang punya pandangan buruk pada orang yang punya penyakit seperti Mas Umar.” Imrn menatap sang nenek dengan mata yang berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya