“Aku gak apa-apa.” Umar menjawab sekenanya. Imran yang melihat jawaban dan ekspresi dari sepupunya, hanya bisa diam sejenak dia mengerti kenapa Umar bisa seperti itu padanya.
“Mas Umar, aku tau kalo Ibuku sudah jahat sama kamu. Aku tau, kalo Ibuku tidak begitu ramah padamu sejak kau masih kecil. Tapi, kumhon percayalah padaku. Aku tidak seperti dia. Aku meyayangimu sama seperti Nenek dan Bu Arumi menyayangimu.” Imran hanya bisa meneteskan air mata melihat Umar yang seakan tidak peduli padanya.
“Imran, duduklah dulu, Le! Umar tidak berniat seperti itu. Dia sama sekali tidak pernah berniat seperti itu padamu. Dia hanya tidak ingin terganggu saja.” Fatimah meminta sang cucu untuk duduk di sampingnya.
“Eyang, tapi kenapa Mas Umar seperti membenciku? Aku tidak pernah membencinya. Aku sama sekali tidak membencinya, walaupun Mas Umar kondisinya seperti ini. Aku gak malu mengakui Mas Umar sebagai saudara. Kami kan sudah akrab sejak masih kecil, walaupun Ibu tidak begitu peduli dengan kondisinya.”
“Le, tidak seperti itu. Bicaralah seperti biasanya! Kau bisa bicara dengan Umar seperti biasanya kalian bicara. Kau akan melihat, bagaimana Umar masih menyayangimu.” Fatimah tersenyum melihat kedua cucunya berada di tempat ini.
“Eyang.”
“Imran, kau masih menyayanginya dan mengangap dia sebagai saudara. Aku juga yakin, Umar masih menganggapmu sebagai saudara juga. Aku melihat, kalian masih saling menyayangi.” Fatimah tersenyum dan menatap Umar yang hari ini mulai bisa duduk.
Umar hanya diam dan meneteskan air mata. Dia hanya memandang Imran dengan mata yang basah. Imran terdiam dan memegang tangan Umar. Dia ingin memina keikhlasan atas apa yang pernah terjadi di masa lalu. Imran tau jika Umar pasti sakit hati dengan apa yang Ibunya lakukan.
“Mas, aku tau semua yang terjadi sama kamu. Aku tau, ini gak adil buatmu. Ibu sudah merampas banyak hal darimu. Aku tau semua itu, Mas. Aku datang untuk bilang, kalo aku sama sekali tidak seperti yang Ibuku lakukan padamu. Aku juga mau mengembalikan semua yang pernah Ibu rampas darimu. Benda ini adalah milikmu dan aku tidak bisa memakainya. Aku tidak bisa memakai benda itu, jika pemilik barang tidak ikhlas.” Imran membawa sebuah benda yang selama ini memang Umar miliki. Umar hanya bisa diam dan tidak mengatakan apapun. “Mas, diterima ya.”
“Aku tidak lagi butuh barang itu. Aku tudak membutuhkan barang itu lagi. Bawalah!” pinta Umar dengan air mata yang mengalir begitu saja.
“Mas, aku mohon. Aku mohon, terima benda ini! Aku tidak bisa tenang kalo masih membawa benda ini. Ini milikmu, dan aku tidak bisa tenang selama aku masih membawa benda ini.” Imran mencoba meyakinkan sepupunya. Tapi, Umar tidak mau menerima benda itu. Dia tidak akan pernah menerima benda yang pernah dirampas oleh Ismawati.
“Aku tidak lagi mevutuhkan barang itu. Bawa barang itu pergi dari sini! Aku tidak butuh lagi barang itu.” Umar menatap Imran. Imran tidak bisa berbuat banyak mendengar apa yang baru Umar ucapkan.
“Mas.” Imran akhirnya terdiam dan tidak banyak bicara. Dia menatap Fatimah yang juga melihat apa yang terjadi.
“Le, benda ini kan yang kau ceritakan beberapa tahun yang lalu? Betul kan ini yang kau maksud?” tanya Arumi.
“Tapi barang itu sudah dirampas sama Budhe. Benda itu sudah dirampas sebelum aku melarikan diri dari rumah terkutuk itu. Aku bahkan dihina sama Budhe malam itu. Aku gak mau menerima benda itu, karena selalu saja mengingatkan dengan hinaan yang pernah Budhe ucapkan.” Umar menceritakan semuanya. Fatimah yang mendengar penuturan Umar hanya bisa meneteskan air mata. Ismawati sudah benar-benar keterlaluan. Ismawati memang menunjukkan gelagat tidak menyuaki Umar sejak dia masih kecil.
“Mas, kau serius tidak mau menerimaku? Kau serius tidak mau menerima benda ini?” tanya Imran. Umar terdiam melihat Imran yang berada di sampingnya. Imran hanya bisa menangis melihat semua yang dilakukan Umar padanya.
Imran terdiam dan memilih meninggalkan ruangan itu dengan hati yang kacau. Hanya ada air mata saat Imran meninggalkan ruangan itu.