Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #7

saat pertikaian mulai terjadi.

Semuanya sia-sia. Tidak ada pergerakan apapun di sekitar Ismail. Hanya ada beberapa ekor kucing dan ayam warga yang tengah berlalu-lalang. Ismail hanya bisa terheran melihat keanehan yang ada. Dia sangat yakin, jika ada orang yang baru saja menguping apa yang baru dia katakan.

“Aneh. Aku yakin, tadi ada orang. Kenapa sekarang gak ada? Kemana orang itu? Dua kali, aku merasa ada orang yang menguping apa yang aku katakan.” Ismail langsung pergi.

Dari balik semak-semak yang tidak terpantau oleh Ismail, seorang lelaki menatap Ismail yang menjauh dengan amarah. Lelaki itu hanya menatap Ismail dengan tangan yang mengepal. Rencana jahat dari Ismail harus digagalkan.

“Kau pikir, rencanamu akan berhasil begitu saja? Gak akan. Aku tidak akan membiarkan semua itu berhasil dan impianmu mengambil harta benda milik Yusuf, tidak akan pernah terjadi.” Lelaki itu tersenyum dan menjauh dari rumah.

Di rumah sakit.

Ismawati sudah sampai di tempat itu dan berjalan menyusuri Koridor. Tidak lama, Dia menjumpai Imran dan Fatimah. Fatimah yang melihat kedatangan anak pertamanya langsung pasang badan dan ingin tau, maksud anaknya datang ke tempat ini.

“Ngapain kamu ke sini?” tanya Fatimah. Matanya yang langsung melotot dan membuat Ismawati tidak bisa berbuat banyak. “Katakan, mau apa kau ke sini? Apa kedataganmu ke sini hanya untuk buat keributan? Kalo kamu hanya ingin membuat keributan, lebih baik kau pulang dan layani saja suamimu itu. Gak perlu datang ke sini.”

“Ibu, tidak seperti itu.” Ismawati mencoba menjelaskan semuanya. “Aku ini budhenya Umar. Aku berhak letemu sama dia”

“Jangan mencoba membohongiku, Ismawati! Aku tau siapa kamu. Aku tau, bagaimana watakmu, terutama setelah menikah dengan Ismail. Kau selalu saja bikin ulah di keluargaku. Kau selalu saja membuat semuanya jadi masalah. Katakan, mau apa kau ke sini?” tanya Fatimah dengan tatapan yang sangat tajam.

“Ibu, aku minta maaf jika semuanya sudah menyinggung. Tapi aku ingin bicara tentang Umar. Aku tidak ingin dia tinggal di Wanarandu. Ini semua masalah apa yang warga tengah bicarakan. Warga di Wanarandu tidak menerima Umar dengan kondisi seperti ini.”

“Ismawati, aku tegas ingin mengatakan ini padamu, kalo Umar akan tinggal bersamaku. Tidak perlu sok peduli dengan Umar. Selama kau tidak bisa menyayangi anak kandungmu, aku tidak akan pernah membiarkan kau menyentuh Umar.” Fatimah dengan tegas meminta Ismawati tidak menengok Umar yang sedang dalam perawatan. “Aku tidak yakin, kalo apa yang kau katakan, adalah pendapa warga Desa. Bisa jadi, itu adalah apa yang kau pikirkan. Kau malu kan punya keponakan seperti Umar? Ngaku aja kamu?”

“Bu, gak seperti itu.” Ismawati memaksa masuk. Imran mencegah sang Ibu memasuku tempat Umar dirawat. “Jangan halangi aku! Aku ingin bicara denga Umar.”

“Selama Ibu seperti ini, aku gak akan membiarkan Ibu bisa bertemu Mas Umar.” Imran membawa sang Ibu menjauh dari depan ruangan perawatan.

“Bu, izinkan aku bertemu Umar. Aku ingin bertemu dia. Tolong, Bu! Ini masalah penting.” Ismawati memohon pada sang Ibu. Fatiah hanya menggeleng dan tidak ingin cucunya bertemu denga Ismawati dan semakin membuat mentalnya jatuh.

Lihat selengkapnya