Fatimah meminta satpam membawa wanita itu keluar. Dia tidak peduli siapa Ismawati. Baginya, dia tetaplah anaknya dan tidak pernah dia biarkan, perempuan itu mengusik ketenangan anggota keluarganya.
“Eyang, gak apa-apa?” taya Imran.
“Gak apa-apa, Le. Terima kasih sudah mau membantuku.”
“Eyang, aku gak menyangka, Eyang bisa melakukan itu pada Ibu.”
“Imran, terkadang kita harus tegas kepada orang lain. Kau harus tau, setinggi apapun jabatan Ibu kamu, dia tetaplah anak kecil buatku. Ibu kamu pasti juga merasakan itu padamu. Aku bukan gak sayang sama Ibu kamu, Le. Tapi dia dengan perangainya yang seperti itu, tidak bisa aku biarkan untuk melalukan semua rencana buruknya.” Fatimah bercerita dengan air mata yang terus menetes. Dia sebenarnya tidak mau melakukan itu, tapi semuanya harus terjadi, karena dia tidak ingin ada sesuatu yang menimpa cucunya.
“Eyang tau rencana buruk Ibu?” tanya Imran.
“Aku sampai sekarang memang gak punya bukti terkait dugaan ini. Tapi, aku yakin suaminya sudah merencanakan sesuatu. Aku gak tau apa yang direncanakan lelaki itu. Imran, sepertinya Ayah tiri kamu sedang mengincar harta milik Paklek kamu. tapi, aku belum punya bukti. Aku hanya sempat mendengar omongan, kalo dia menikahi Ibu kamu, hanya untuk mengincar harta Paklek kamu.” Imran yang mendengar pengakuan dari Neneknya, hanya bisa meneteskan air mata. Dia tidak menyangka, jika sang Ibu akan dimanfaatkan oleh orang lain dengan cara seperti ini.
Mereka berjalan dan akhirnya sampai di tempat Umar. Arumi tersenyum melihat kedua orang itu kembali.
***
Malam harinya.
Para warga datang ke tempat Fatimah. Mereka sepertinya ingin menuntut agar keluarga besar Fatimah bisa mengusir Umar dari desa ini. Imran yang baru pulang dari rumah sakit dan tau apa yang terjadi di rumah Neneknya langsung mendekat dan membubarkan warga secara paksa.
“Ada apa ini? Kenapa ada ramai-ramai di sini?” tanya Imran. “Ini rumah Nenek saya. Kalo kalian tidak membubarkan diri, saya bisa menuntut Njenengan semua.”
“Mas Imran, sama sekali gak seperti itu.” Salah seorang warga langsung mendekat dan meminta agar Imran tidak salah paham.
“Bubar! Bubarkan diri kalian! Atau aku akan panggil polisi untuk tindakan kalian malam ini,” amarah Imran yang meledak-ledak membuat warga tidak bisa berbuat apapun.
“Mas Imran, tapi kami tidak mau ada aib di desa ini. Kami hanya ingin membantu Bu Kades untuk mengusir aib yang ada di desa ini.” Seorang warga kembali bersuara.
“Tau apa kau? Kau tau apa tentang apa yang terjadi di keluarga kami?” tanya Imran dan membuat semua irang terdiam. Mereka hanya saling pandang dan tidak mampu menjawan pertanyaan itu. “Kalo kalian gak tau apa-apa, gak usah ikut campur! Itu sama saja kalo kalian menunjukkan, kalo kalian adalah aib bagi desa ini. Bubar, atau kalian aku laporkan polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.”
Mereka akhirnya membubarkan diri. Ibrahim yang tidak lain adalah ayah kandung Imran, langsung mendekat dan mencoba memenangkan anaknya. Melihat anarah Imran yang begitu meledak, membuatnya khawatir akan apa yang terjadi.
“Le, kau gak apa-apa?” tanya Ibrahim.
“Ini gak bisa dibiarkan. Perempuan itu sudah sangat keterlaluan, Ayah. Masa dia menggerakkan masa ke rumah Ibunya sendiri? Apa maksudnya coba? Dia, mengerakkan masa ke sini, untuk mengusir keponakanya? Apa dia sudah gak punya hati sebagai manusia?” tanya Imran sambil meneteskan air mata. Dia menggeleng dan Ibrahim mengajaknya duduk di salah satu kursi yang ada.