“Sudahlah, Ayah! Dia bilang Ayah gak perlu ikut campur. Jangan ikut campur. Aku akan memberi pelajaran pada wanita ini. Aku gak takut dengan statusnya. Kalo dia salah, kenapa aku harus diam saja?”
Imran yang sudah emosi langsung mendekati sang Ibu. Ibrahim hanya bisa memegangi tangan anaknya.
“Le, jangan seperti ini!” pinta Ibrahim sambil memegangi tangan anaknya dan menahan apa yang aka dilakukan oleh anak bungsunya.
“Andai saja Mas Fadhil ada di sini, kau tidak akan bisa melakukan semua ini. Kau beruntung, karena Mas Fadhio gak ada di desa ini. Mas Fadhil gak akan pernah membiarkanmu melakukan kejahatan ini.” Imran langsung menuding Ismawati. Ismawati langsung terdiam mendengar nama itu. Fadhil, anak sulungnya yang sekarang entah berada di mana.
Ibrahim juga terdiam mendegar Imran menyebut kakaknya. Ibrahim hanya bisa diam dan sepertinya menyimpan sesuatu terkait anak sulungnya. Ibrahim tau sesuatu tentag keberadaan Fadhil sekarang ini.
Ismawati langsung pergi. Dia tidak bisa terus berdebat dengan anaknya. Bagaimanapun juga, Imran tetaplah anaknya dan dia tidak pernah ingin, bermusuhan dengan anak sendiri. Imran hanya bisa tersenyum melihat ibunya tidak bisa berbuat banyak terkait apa yang terjadi. Tapi, dia hrus tetap waspada dengan suaminya. Lelaki itu bisa berbuat apapun, bahkan yang tidak bisa mereka prediksi.
“Ayah, semuanya beres. Aku kan sudah bilang kalo Ibu gak akan bisa untuk….” Imran terdiam melihat Ayahnya melamun. Jelas sekali jika lelaki itu sedang ada sesuatu yang tengah mengganjal hatinya. “Ayah?”
“Eh, kenapa, Le? Barusan, kau bilang apa?” tanya Ibrahim.
“Ayah gak apa-apa?”
“Kenapa? Apakah aku terlihat seperti orang yang punya masalah?” tanya Ibrahim.
“Ayah, kenapa sih? Kok mendadak Ayah jadi aneh begini?” tanya Imran. “Tadi Ayah kan gak apa-apa. Kenapa sejak Ibu datang, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal hatimu?”
“Enggak. Gak ada appaun.” Ibrahim tersenyum. Dia tidak mungkin cerita pada anak bungsunya jika Fadhil sebenarnya tidak pergi jauh. Anak sulungnya hanya berada disekitar kecamatan ini, hanya aja tidak ada yang tau keberadaannya sekarang. Hanya beberapa orang yang tau terkait keberadaan Fadhil sekarang ini.
“Ayah?” tanya Imran yang masih saja terheran. Ibrahim hanya tersenyum melihat anak bungsunya.
Di tempat lain.
Shaka yang baru selesai dinas, langsung pulang menuju sebuah rumah yang sederhana dan sebenarnya tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja. Dia ingin melepas lelah setelah hampir seharian menangani pasien dengan kondisi yang berbeda-beda.
Sesekali, Shaka berinteraksi dengan para warga yang masih saja beraktivitas. Dia sangat disegani oleh warga karena kelakuannya yang bisa dibilang tidak macam-macam selama tinggal di tempat itu.
Sampai akhirnya, Shaka melihat sosok lelaki yang dia kenali, dari kejauhan. Shaka memperhatikan Lelaki yang tengah berdiri di pos keamanan.
“Fadhil? Kamu Fadhil kan?” tanya Shaka. Lelaki yang dimaksud langsung berlari setelah mengetahui ada orang yang mengenalinya. “Fadhil. Kamu mau kemana, Dhil?”
Shaka mengejar lelaki itu sampai akhirnya dia kehilangan jejak. Shaka mengamati sekitar yang merupakan batas perkampungan. Shaka mau tidak mau harus berhenti di tempat itu, dan jika dipaksakan akan membahayakan dirinya sendiri.
“Kemana larinya? Apa dia sembunyi di tempat seperti ini?”
Shaka terdiam hampir 15 menit di tempat itu sampai ada seseorang yang menyapanya. Dia tidak lain adalah Sakinah – adik kandungnya – yang tengah bersama sang Ibu.
“Kak Shaka. Malah melamun di sini? Ngapain melamun di sini? Awas kesambet.” Sakinah yang melihat kakaknya hanya diam, terlihat sangat khawatir. Dia bukan tidak tau jika tempat itu adalah tempat yang sangat berbahaya.
“Sakinah, kau di sini?” tanya Shaka yang terheran.
“Bgaimana aku gak ke sini? Aku lihat kau lari kayak orang ngejar setan. Terus kamu diam di sini. Aku manggil Bunda karena takut kamu kenapa-napa. Ngejar siapa sih tadi itu?” tanya Sakinah yang penasaran.