Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #10

mencoba meminta bantuan

“Nduk, sepertinya kakak kamu masih kepikiran kejadian semalam. Sampai tadi pagi, Kakak kamu masih yakin kalo orang yang dia lihat semalam itu, adalah Fadhil.” Aina bercerita tentang pembicaraannya dengan Shaka seusai sholat Shubuh.

“Bunda, tapi kita juga gak ada bukti keberadaan Mas Fadhil. Bisa saja, Kak Shaka itu salah melihat. Itu mungkin kan? Aku tau, semalam itu Kak Shaka kelihatan capek banget.” Sakinah hanya bisa menatap foto kakaknya yang terpajang di dinding.

“Bunda tau. Bunda sangat ngerti maksud kamu. Setelah dia harus keliling di ruangan inap, dia harus melayani pasien rawat jalan.” Aina terdiam dan yakin jika anaknya capek. Beberapa kali ditanya, Shaka hanya tersenyum dan selalu saja bilang menikmati perannya sekarang ini.

“Bunda, aku takutnya kalo Kak Shaka salah lihat. Aku tau, memang ada orang yang berdiam diri di pos ronda. Tapi kan kita gak tau siapa dia sebenarnya. Aku sendiri juga gak melihat jelas siapa dia.” Sakinah tampak khawatir dengan Shaka.

“Nduk, kita cari tau siapa dia. Aku yakin, ada maksud dari semua ini.” Aina meminta agar anak bungsunya membantu untuk semua ini.

“Ya sudah, aku berangkat dulu.” Sakinah langsung berangkat dan Aina hanya bisa diam.

Di tempat Shaka.

Shaka tengah berjalan bersama salah seorang rekan kerjanya. Mereka banyak bicara terkait apa yang terjadi semalam. Lelaki yang juga seorang dokter, melihat hal yang sama seperti yang semalam dia dengar dari salah seoarng tetangganya.

“Dokter Shaka, kau kenal dengan lelaki semalam?”

“Kau, lihat juga lelaki yang aku sapa? Dokter Ali melihatku mengejar orang itu?” tanya Shaka.

“Yah, Dokter Shaka ini gimana? Emang kamu semalam interaksi sama dedemit gitu? Enggak kan? Jelas banget dia manusia. Lihat dong. Dia jelas terlihat. Warga juga banyak yang lihat tuh orang.” Shaka terdiam. Melihat Shaka melamun, Ali langsung menepuk bahunya. “Dokter Shaka, kenapa sih kau pagi ini? Kau kecapekan?”

“Enggak. Aku gak apa-apa. Aku baik kok.” Shaka langsung tersenyum.

“Eh, pertanyaanku belum kau jawab. Kenal gak sama lelaki semalam? Karena warga sudah melihat lelaki itu dua minggu belakangan.”

“Aku, seperti mengenalnya. Aku merasa, dia adalah teman lamaku. Dia sepertinya temanku saat masih SD dan sudah lama berpisah.” Shaka tersenyum.

“Teman lama? Tapi, kenapa lelaki itu malah lari kalo dia teman lama kamu? Apa ada sesuatu yang tengah dia sembunyikan?”

“Itu yang bikin aku penasaran. Aku gak tau kenapa dia tiba-tiba berubah. Selama ini, aku tau dia merantau. Dia kerja di daerah lain. Hampir dua tahun sih dia merantau. Gak tau bagaimana ceritanya, tiba-tiba aku melihatnya di pos ronda.”

“Dokter, aku tau. Mungkin ada sesuatu yang harus kau pecahkan.” Shaka hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan temannya. Mereka akhirnya berpisah menuju tempat mereka bertugas.

Belum jauh Shaka melangkah, ada seorang perawat yang meminta bantuan. Sepertinya, ruangan yang menjadi tanggung jawabnya kemarin, belum ada dokter yang berkeliling.

“Dokter, tolong ke ruang Melati dulu sebelum bertugas. Sejak tadi pagi, tidak ada dokter yang visit ke ruangan itu.”

“Dokter yang lain kemana?”

“Gak tau, Dok. Beberapa lagi tindakan, sisanya sepertinya sedang ada tugas keluar.”

Lihat selengkapnya