“Bu, tapi saya rasa, Umar memang harus tinggal di rumah Ibu. Ini gak bisa ditawar lagi. Kalo Umar masih ada bersama Ibu, Ismawati gak akan berani macam-macam.” Ibrahim langsung mengomentari apa yang aka Fatimah lakukan. Fatimah sebenarnya masih sangat khawatir dengan apa yang dilakukan anak sulungnya.
“Le, aku juga berpikir seperti itu. Aku minta bantuan kalian. Aku takut kalo Ismawati sampai mengerahkan warga desa, untuk mengusir cucuku.” Apa yang dikatakan oleh Fatimah membuat Imran dan Ibrahim hanya bisa saling andang. Semalam, semua itu sudah mulai terjadi.
“Ibu, aku gak tau untuk sekarang ini. Aku harus bertemu Shaka.” Ibrahim terdiam dan ingat jika Shaka punya seorang adik. “Eh, dia punya adik kan? Kira-kira, dia sudah kerja atau masih kuliah? Mungkin, kita bisa minta informasi dari adiknya. Siapa nama adiknya? Sakinah kalo gak salah.”
“Iya, Mas Shaka kan punya adik cewek. Kalo gak salah namanya Mbak Sakinah. Ada apa?” tanya Imran.
“Dia udah kerja?” tanya Ibrahim.
“Kalo gak salah ya, kabarnya Mbak Sakinah sekarang, sudah jadi Dosen.” Imran menceritakan apa yang dia ketahui. Dia juga menyebut nama kampus tempat Sakinah mengajar.
“Ya sudah. Mungkin nanti siang aku ke sana.”
***
Di tempat kerja Sakinah saat jam istirahat.
Sakinah baru saja selesai mengajar dan ingin istirahat. Aktivitasnya sejak pagi membuatnya ingin melepas Lelah. Setelah istirahat, dia juga harus bertemu dengan beberapa mahasiswanya yang ingin konsultasi terkait tugas akhir mereka.
Ibrahim datang dan tersenyum pada Sakinah. Sakinah yang menyadari kehadiran Lelaki itu, tampak terdiam dan juga menyapa dengan senyuman.
“Sakinah, maaf mengganggu waktu kerjamu. Kau sedang luang?” tanya Ibrahim.
“Luang. Kebetulan baru selesai ngajar juga. Mungkin setengah jam lagi saya ada janji sama mahasiswa untuk bimbingan. Ada apa ya, Pakdhe?” tanya Sakinah.
“Eh, kita duduk di gazebo saja, biar bicaranya enak.” Mereka berjalan menuju tempat yang mereka maksud. “Begini Sakinah. Aku ini sebenarnya sedang butuh bantuan kakak kamu. Kira-kira, kapan dia bisa aku temui? Apakah bisa kalo hari ini?”
“Kalo mau ketemu Kak Shaka, mungkin bisa ambil saat jam senggang. Kak Shaka soalnya kerjanya kan sistem Shift. Sekarang ini kebetulan dapat Shift pagi. Tapi, biasanya kalo hari kerja seperti sekarang, Kakak itu ada jadwal untuk praktek. Di poli sebelah tempatnya kerja biasanya melayani untuk rawat jalan.” Sakinah langsung cerita terkait kesibukan kakaknya sebagai dokter.
“Sakinah, jadi apa bisa kalo aku bertemu hari ini?” tanya Ibrahim. Sakinah terdiam beberapa saat melihat Ibrahim yang sepertinya begitu ingin bertemu kakaknya.
“Kalo memang mendesak, Pakdhe bisa ketemu sama Kak Shaka nanti sore. Kak Shaka kan selesai dinas jam tiga. Kalo sore, Poli biasanya baru beroperasi jam empat. Bisa Pakdhe buat janji gitu sama Kak Shaka, atau bisa datang ke ruangannya Kak Shaka langsung. Ada di poli rumah sakit. Kalo di atas jam dua, biasanya ruangannya Kak Shaka lagi sepi.”