“Bu, aku mohon, mengertilah! Jangan keras kepala seperti ini! Aku mohon mengertilah situasi ini! Ini situasi sulit.”
“Tolong jawab pertanyaanku, Ismawati! Apakah salah dengan penyakit yang Umar derita? Kalo memang Umar salah, katakan padaku, salahnya dimana.” Apa yang baru Fatimah katakan membuat Ismawti hanya bisa diam. Dua tidak bisa menjawab pertanyaan Fatimah. “Kalo kamu tidak bisa menjawab, berarti kamu mengakui kalo Umar tidak bersalah. Ini semua hanyalah alasanmu untuk menolak Umar di keluarga kita.”
“Bu, tapi ini masalah warga desa.”
“Aku tidak peduli apa yang dibilang warga desa. Aku punya kamu yang menjabat sebagai Kades dan suami kamu yang punya jabatan penting. Kalo Umar masih tidak bisa tinggal di kampung halamannya sendiri, buat apa jabatan yang kalian punya? Mending tidak usah punya jabatan mentereng, kalo keponakanmu tidak punya rasa aman di tempat kelahirannya sendiri.” Fatimah mengatakan semuanya di hadapan semua orang.
“Bu, tapi penyakit Umar ini menular. Penyakit Umar ini aib.”
“Siapa yang bilang aib? Katakan, siapa yang bilang kalo penyakit Umar ini sebuah aib?” tanya Fatimah dan membuat Osmawati kebingungan. Mendengar perdebatan kedua peremuan itu, Arumi mencoba mendekat dan melerai perdebatan mereka berdua.
“Maaf, saya harus ikut campur masalah ini. Saya tau penyakit ini menular. Tapi, bukan berarti dia harus dikucilkan. Dia berhak hidup seperti orang lain. Dia berha mendapatkan haknya sebagai manusia, seperti kita yang sehat,” kata Arumi.
“Arumi, gak perlu ikut campur. Ini masalah keluarga kami.” Ismawati mencoba membuat Arumi terdiam. Tapi, sepertinya itu tidak berhasil.
“Maaf kalo saya menyinggung. Tapi pernyataan Mbak Ismawati, sama saja seperti sebuah persekusi. Mbak Ismawati kan orang berpendidikan. Orang yang punya pendidikan bagus tidak akan mengatakan hal memalukan seperti barusan, apalagi Mbak Ismawati ini Bibinya Umar. Seorng saudara, tidak seharusnya mengatakan hal itu, apalagi di hadapan orang yang bersangkutan.” Arumi mengatakan semuanya dan membuat Ismawati terdiam. “Mbak, aku rasa seorang Bu Fatimah tidak pernah mengajarkan semua itu pada anak-anaknya.”
“Kau tau apa, Arumi? Kau tau apa masalah penyakit ini?”
“Mbak, aku memang tidak berpendidikan seperti kamu. Tapi aku punya kenalan seorang Dokter. Dokter itu banyak menjelaskan masalah penyakit yang Umar derita. Terus, Mbak Is bisa bilang begitu sumbernya darimana?” tanya Arumi dan Ismawati hanya bisa terdiam.
“Is, apa yang kau katakan barusan, benar permintaan warga apa pendapat kamu sendiri? Kalo ini pendapatmu sendiri, aku tidak butuh semua itu. Aku tau siapa kamu. kamu kepala desa yang egois.” Fatimah langsung menoleh ke cucunya yang tengah terdiam. “Ismawati, kau seorang Kepala Desa, kau harusnya menjadi pemimpin yang baik bagi warganya, bukan seperti ini.”
“Umar, kau tidak akan bisa pulang ke Wanarandu. Kau sudah membawa aib bagi desa Wanarandu.” Ismawati langsung berteriak. Teriakan Ismawati membuat Umar menangis. Air mata yang membasahi pipi Umar membuat Fatimah naik pitam.
Plak!
“Kau bisa diam gak sih? Kenapa selama ini kau hanya bisa menekan keponakanmu? Katakan, apa salah dia?” tanya Fatimah setelah melayangkan sebuah tamparan pada anaknya. “Sekali lagi aku bilang sama kamu, Umar akan tinggal sama aku. Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan.”
“Bu, ini demi warga desa.”
“Aku tidak peduli itu semua, Ismawati.”
Pertengkaran antara Ismawati da Fatimah, berhasil memancing perhatian banyak orang. Orang yang ada di luar ruangan, juga ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya, seorang lelaki datang dan melerai pertengkaran itu.
“Permisi, ada apa ini? Kenapa ada pertengkaran di ruang inap?” tanya lelaki yang tidak lain adalah Shaka.
“Shaka?” tanya Ismawati yang menyadari Shaka berada di sini. Lelaki yang mengenakan jas dokter langsung mendekat dan meminta semuanya diam.