Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #13

orang tua Umar

“Shaka, aku mohon jangan keras-keras! Keberadaan Fadhil, hanya kita berdua yang tau. Adik dan Eyangnya sendiri gak tau tentang keberadaan Fadhil sekarang ini. Dia sekarang memang aku rahasiakan keberadaannya, karena sedang dalam bahaya. Kalo Ayah tirinya sampai tau, dia bisa dibunuh.” Shaka terkejut dengan apa yang baru dikatakan Ibrahim. Fadhil mau dibunuh?

“Ayah tirinya, mau membunuh Mas Fadhil? Kenapa sampai ada niat itu? Apa keberadaan Mas Fadhil mengancam?” tanya Shaka yang penasaran. Shaka khawatir dengan kawan lamanya. Selama mereka berteman, Fadhil banyak membantunya.

“Le, aku sendiri juga gak tau. Tapi yang jelas, keberadaan Fadhil akan mengancam bisnis yang sedang dikembangkan ayah tirinya. Ismail menikah dengan Ibu dari kedua anakku, bukan sekedar pernikahan biasa. Ini pernikahan dengan tujuan politis. Ismail ingin mengembangkan bisnisnya dan melebarkan sayap ke bidang lain. Wanarandu, saat ini sedang diincar. Selama ini, Fadhil yang tegas menolak rencana yang akan Ismail buat. Makanya, dia aku minta pergi dari Wanarandu, agar bisa terhindar dari niat jahat lelaki itu.” Ibrahim tidak bisa menahan air mata mengingat apa yang sudah Fadhil lalui.

“Pakdhe, kenapa memang dengan Mas Fadhil? Memang, kenapa Mas Fadhil bisa mengancam? Apakah hanya mengancam bisnis ayah tirinya?” tanya Shaka.

“Le, bisnis yang Ismail kembangkan, adalah bisnis haram. Tapi, aku tidak bisa cerita ini sekarang. Ini sudah hampir jam empat. Saatnya kamu harus ke Poli. Lakukan tugasmu sebagai Dokter! Aku minta nomermu, nanti aku akan kasih tau, apa yang harus kau lakukan.”

“Baik, Pakdhe.” Shaka menuliskan nomer ponselnya di posel milik Ibrahim.

“Baik. Terima kasih. Shaka, ini adalah tindakan beresiko. Aku memintamu untuk bareng-bareng melawan seorang pejabat yang licik. Aku tau, kau bisa menghadapinya, karena secara gak langsung, kau dikelilingi oleh orang yang punya pengaruh lebih darinya. Kau sadar atau enggak, orang yang ada di sekelilingmu, punya pengaruh melebihi pengaruh yang Ismail miliki.” Ibrahim meyakinkan jika Shaka akan bisa melakukan semua ini.

“Pakdhe, tapi, bagaimana dengan adik dan Ibu saya?”

“Ibu sama adik kamu bakal aman. Aku tau kalo kamu dekat dengan Arumi dan Dokter Cahyani. Arumi itu bukan pengusaha biasa. Kamu juga dekat dengan Dokter Cahyani yang gak lain adalah pimpinan rumah sakit ini. Direktur rumah sakit ini juga bukan perempuan biasa. Keluarga mereka, punya pengaruh yang gak bisa kamu remehkan. Aku yakin, Ismail tidak akan berani menyentuh Ibu dan adik kamu.” Shaka terdiam. Melihat jam yang menunjukkan hampir pukul empat sore, Shaka akhirnya memilih menuju Poli. Benar saja, di Poli dia sudah ditunggu oleh beberapa pasien.

Ibrahim tersenyum melihat kepergian Shaka. Dia kali ini yakin, jika kehadiran Shaka akan membatasi langkah Ismail untuk melakukan kejahatannya.

“Ismail, kau tidak akan berkutik. Kau pikir, dengan jabatanmu sebagai anggota dewan dan istrimu sebagai kepala desa, membuatmu bisa bergerak leluasa? Tidak, aku memastikan semua itu gak akan terjadi. Aku sudah menghadirkan Shaka. Kehadirannya akan membungkam kesombonganmu dalam sekejap. Aku pastikan, kau akan tunduk di hadapan anak muda yang bernama Shaka.” Ibrahim melangkahkan kakinya menuju tempat Umar dirawat. “Shaka memang seorang anak muda yang terlihat polos. Tapi, kepolosan Shaka dan orang yang ada di sekelilingnya, pasti membuat Ismail tidak bisa melakukan apapun.”

Sesampainya di ruangan Umar.

Lihat selengkapnya