“Mas, aku harap Mbak Suci bisa ketemu sama Umar. Umar butuh kehadiran Ibunya, saat kondisnya seperti ini.” Arumi menatap Ibrahim yang juga menangis.
“Le, aku juga merindukan Suci. Aku juga jengkel dengan ulahnya yang tiba-tiba pergi begitu saja. Tapi, aku tidak bisa egois dengan keadan Suci dan Umar. kalo aku berada di posisi Suci, mungkin aku akan pergi juga. Aku memang tidak membenarkan ulahnya, tapi aku akan melakukan hal yang sama jika beraa di posisinya. Umar juga butuh kehadiran Ibunya. Akan lebih baik, jika Ibunya Umar bisa berkumpul dengan anaknya.” Fatimah juga mengatakan hal demikian. Ibrahim hanya bisa terdiam dan menatap Umar dengan senyum.
“Insya allah, Ibu kamu akan segera pulang.”
***
“Kak Shaka. Jangan melamun! Nih orang, pulang kerja bukannya istirahat malah ngelamun di pos ronda.” Sakinah yang baru saja pulang dari perkumpulan kampung, langsung menegur Saka yang tengah melamun. “Kalo kesambet aku gak mau tanggung jawab.”
“Kau ini, ngagetin aja. Gak ngagetin gitu kenapa sih?” tanya Shaka. Sakinah sendiri terdiam dan memandang Shaka dengan senyuman. “Malah ketawa.”
“Kak, kau ini kesambet apa sih? Ayo pulang! Dicariin Bunda dari tadi. Kayak anak kecil aja, pulang harus dicariin.” Shaka masih diam dan tidak bergerak. “Kak, ayo pulang! Gak lucu kalo aku harus menarikmu.”
“Cerewet nih anak.” Shaka akhirnya memakai sandalnya. Seorang wanita datang melihat Shaka dan adiknya malah bertengkar di pos ronda.
“Heh, kalian berdua. Pulang! Sudah malam bukannya istirahat malah berantem di sini.”
“Iya, Bu.” Shaka akhirnya berdiri. Dia berjalan dengan wajah yang lesu. Sakinah yang meliha kakaknya seperti demikian, langsung menarik tangan kakaknya dan meminta Shaka berjalan lebih cepat.
“Ih nih orang. Buruan! Nanti kalo Bunda ngomel, aku gak mau taggung jawab.”
“Ih, bawel banget sih kau ini.”
“Gimana aku gak bawel lihat kau seperti ini? Pilih mana, aku omelin di sini atau Bunda yang ngomelin kamu di rumah? Kalo kamu masih sepeti ini, aku akan lapor ke Bunda.” Sakinah mengomel sepanjang jalan. Shaka akhirnya menuruti adiknya karena tidak ingin sang Ibu mengomel karena ulahnya sekarang.
Aina yang meliha Sakinah pulang bersama kakaknya, hanya bisa menggeleng. Jelas sekali jika Sakinah baru saja mengomeli kakaknya.
“Kalian ini, udah besar tetap aja kelakuannya kayak anak kecil. Berantem mulu. Kalo jauh, juga kangen.” Aina langsung saja tersenyum melihat kedua anaknya memasuki rumah.
“Bunda, harusnya Bunda itu ngomel ke Kak Shaka. Dia pulang kerja, bukannya istirahat malah ngelamun di pos ronda. Nanti kalo kesambet bagaimana?”
“Memangnya kakak kamu ini orang gampang kesambet gitu? Udah, ini udah malam. Kalo kalian terus berantem seperti ini, aku akan mengomelin kalian berdua.” Mereka terdiam dan Sakinah akhirnya pergi. “Shaka, makan sana!” titah Aina. Shaka hanya bisa diam dan terus mengingat apa yang dikatakan Ibrahim tadi sore.