Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #15

apa salah Mas Umar?

Ibrahim langsung pergi. Fatimah yang melihat kepergian Ibrahim dengan wajah memerah, tampak khawatir. Dia berharap tidak ada hal yang membahayakan keselamaan keluarganya.

Di Wanarandu.

“Mas Imran, sekali lagi kami tidak bisa menerima kehadiran Umar. Kami tidak ingin ada aib di desa ini.” Seorang warga berbicara dengan suara yang begitu lantang.

“Apa hubunganya dengan Njenengan? Apa kondisi Mas Umar merungikan Njenengan semua?” tanya Imran.

“Sudahlah Imran. Gak perlu membela Umar. selama ini Umar sudah bikin malu kampung ini.”

“Apa Mas Umar bikin ulah? Kalo Mas Umar bikin ulah, katakan padaku apa ulah Mas Umar yang membuat kalian malu? Apa yang jadi salah Mas Umar? Apa hanya Mas Umar penderita HIV?” tanya Imran. Warga terdiam dan saling pandang. “Ini masalah keluarga kami. Jangan pernah Njenengan semua ikut campur urusan ini. Kebiasaan, kalin selalu saja ikut campur urusan rumah orang.”

“Imran ini masalah semua penduduk desa.” Ismail langsung menjawab. Dia berjalan dengan begitu angkuh.

“Memang kamu siapa? Kamu hanya pendatang di sini. Kamu saja bukan penduduk desa ini.” Imran dengan berani, menantang Ismail.

“Jangan berlagak kamu ya. Aku bisa laporkan kamu ke Ibu kamu.”

“Laporkan! Kau pikir aku takut? Laporkan pada Ibu. Suruh Ibu ke sini! Biar semua orang tau siapa sebenarnya kalian. Aku tidak takit dengan orang sepertimu.”

“Kurang ajar! Berani menantang rupanya?” tanya Ismail. Imran tidak mundur dengan ancaman dari ayah tirinya. Dia menerima tantangan lelaki itu dengan berani.

“Hadapi aku di sini. Hajar aku di sini. Permalukan aku, seperti cita-citamu selama ini. Hajar aku di sini, karena itu kan yang kamu mau? Hajar aku di hadapan mereka, biar semua orang tau, kalo kamu adalah lelaki pengecut.” Imran terus menantang lelaki yang tepat di hadapanya. “Hajar aku! Kau pasti akan viral dengan kelakuanmu. Wanarandu pasti viral dengan ulah seorang anggota dewan yang sangat tidak manusiawi.”

Perkelahian itu nyaris terjadi. Jika Ibrahin tidak datang tepat waktunya, bisa saja nasib Imran sekarang ini begitu malang.

“Berhenti! Hentikan ulah kalian! Memalukan. Apa kalian pikir, dengan berkelahi seperti ini, kalian akan terlihat keren? Aku jawab enggak. Kalian sudah mempermalukan desa ini.” Ibrahim berteriak dan membuat semua orang langsung mundur. “Kalian semua, mau apa mengepung rumah seorang wanita tua? Mau apa kalian dengan rumah seorang wanita tua?”

“Kami hanya ingin meminta agar Mas Umar tidak tinggal di sini.” Salah seorang warga langsung bersuara.

“Kenapa? Apa karena dia adalah aib? Menurut kalian, Umar adalah aib bagi desa ini?” tanya Ibrahim. Pertanyaan itu membuat mereka terdiam. “Kalo kalian mengangap Umar itu aib, lalu yang kalian lalukan ini bukan aib? Kalian sudah mengepung dan berniat menghancurkan rumah yang dimiliki seorang wanita yang sudah renta. Kalian mau melakukan itu pada seorang wanita tua?”

“Pak Ibrahim.”

“Kenapa? Ada yang keberatan? Terus, kalian bawa jerigen seperti ini buat apa? Untuk apa jerigen ini? Kalian mau membakar rumah Bu Fatimah?” tanya Ibrahim dengan amarah yang terlanjur memuncak. “Kalian gak kasihan dengan Bu Fatimah? Rumah ini, rumah peninggalan mendiang suaminya, dan kalian ingin menghancurkan rumah ini? Di mana hati nurani kalian?”

Lihat selengkapnya