“Kau? Kenapa kau memukulku? Apa salahku?” tanya Umar. Kondisi Umar yang masih lemah membuat dia tidak sanggup untuk membalas.
“Aku tau kau tidak sanggup membalas, karena kamu sekarang sedang tidak sehat. Kau mau lagi?” tanya lelaki itu. Dua buah pukulan kemali dilayangkan. wajah Umar semakin berdarah.
Tidak lama, lelaki yang menandangi Umar mendapat pukulan dari lelaki lain. Lelaki itu tidak lain adalah Imran. Imran yan melihat Umar tidak bisa membalas pukulan dari lelaki itu, langsung mendekat dan melayangkan tiga buah pukulan.
“Imran?” tanya semua orang yang berada di situ. Umar sendiri terkejut dengan apa yang baru Imran lakukan.
“Imran, kau lakukan ini padaku?” tanya lelaki yang berama Ilyas. “Aku tidak puya urusan denganmu. Minggir!”
“Kenapa? Kau kaget, aku bisa menghajarmu? Aku bahkan bisa membunuhmu di sini.” Imran mendekati lelaki yang ada di hadapannya. “Kau harus ingat, kalian punya masalah dengan saudaraku ini, sama saja kalian sudah menyulut masalah denganku. Kalian yang bikin gara-gara dengannya, aku tidak akan tinggal diam. Kalo kamu mengaku lelaki sejati, lawan aku! Aku adalah lawan sepadan untukmu.”
“Kau. Kau sudah menantangku.” Lelaki itu mendekat. Imran tidak gentar.
“Iya, aku memang menantangmu. Aku memantangmu berkelahi. Kita berkelahi di sini dan disaksikan warga desa yang hadir. Kau mau?” tanya Imran. Imran tersenyum melihat lelaki yang ada di hadapannya.
“Kau belum tau siapa aku. Aku anak pejabat di desa ini.”
“Anak pejabat? Kau tau kan siapa aku?” tanya Imran dengan nada menantang. “Kalian pasti tau siapa aku. Aku juga anak pejabat di desa ini. Jabatan orang tuamu itu bisa hilang jika Ibuku tidak menghendakinya lagi.”
“Jangan mentang-mentang kau anak kepala desa, kau sombong seperti ini.”
“Kenapa? Kau takut denga tantanganku? Aku anak Kepala Desa Wanarsndu, menantang kalian berkelahi di hadapan warga desa ini. Biar masyarakat tau, kalo anak pejabat desa, bisa melakukan hal memalukan seperti barusan.” Imran menatap Ilyas dan beberapa orang temannya.
“Ilyas, jangan ambil resiko. Imran ini jago bela diri. Dia pegang sabuk hitam. Kalau kamu memaksakan diri, yang ada kamu babak belur. Kamu akan terseret masalah.” Salah satu teman Ilyas mencoba mengingatkan.
Ilyas mundur. Dia sadar jika Imran bukanlah orang yang mudah dilawan.
“Kemana kalian? Takut? Dasar lelaki pengecut. Anak kepala dusun ternyata lelaki pengecut. Kau ternyata hanya berani ke orang lemah.” Imran langsung menyudutkan Ilyas yang mundur beberapa langkah.
“Jaga mulutmu, Imran! Kau akan tau bagaimana aku bisa menghajarmu.”
“Kenapa tidak sekarang? Aku sekarang ada di hadapanmu. Kamu punya kesempatan untuk menghajarku.” Imran tersenyum.
“Kau.” Ilyas menunjuk Imran yang ada di hadapannya.
“Kenapa? Kau tersinggung? Kau tersinggung aku bilang pengecut?” tanya Imran. “Kalo kamu memang bukan pengecut, hadapi aku dan lakukan apa yang kau katakan.”