“Tapi, bagaimana denga semua orang?” tanya Umar. Semua terdiam. Imran mendekat dan memegang tngan sepupunya.
“Mas, ada aku dan Ayah. Kami tidak akan membiarkan kamu mengalami hal seperti tadi. Mas, aku juga mau minta tolong, jangan keluar tanpa sepengetahuan kami! Kami juga gak mau sampai Mas Umar kenapa-napa.”
Umar terdiam dan meneteskan air mata. Imran tau semua ini berat bagi Umar. Tidak hanya bagi Umar, tapi bagi semua orang yang menyayanginya.
Imran menatap sang Ayah yang tengah terdiam. Ibrahim mengerti jika Imran juga sangat berat melihat semua ini.
“Le, Eyang hanya butuh kehadiran cucunya di rumah ini. Aku mohon, jangan pergi dari sini! Ini semua demi kebaikan Eyang.”
“Bulek Arumi juga bisa menemaniku. Bulek Arumi, selama ini gaj pernah kesulitan menghadapi aku.” Umar langsung mengatakan semua itu.
Mereka terdiam dan tidak lama, Ismawati datang dengan wajah yang penuh amarah. Fatimah meminta semuanya minggir. Dia akan menghadapi Ismawati secara langsung.
“Mau apa kamu ke sini? Kalo kamu hanya mau bikin keributan, lebih baik pergi.” Fatimah menatap putrinya dengan amarah yang sama. Dia tidak pernah mau anaknya berbuat ulahb di rumahnya.
“Mana Umar?” tanya Ismawati. Fatimah menatapnya tajam. Ismawati yang melihat tatapan mata sang Ibu, hanya bisa terdiam dan melihat Umar yang berada di samping anak bungsunya. “Umar, kau sudah bikin keributan di desa ini. Au memulai keributan di desa ini. Kau, sudah berkelahi dengan orang lain. Kau sudah bikin malu keluarga Kades.”
“Bu, jangan keterlaluan! Ibu gak tau kejadiannya,” Imran membentak Ismawati. Mendengar apa yangb Imran katakan, Ismawati tampak kaget. Dia tidak menyangka, anak bungsunya sudah berani membentaknya seperti ini.
“Imran, janga ikut campur! Kau gak tau apa-apa.”
“Bagaimana bisa Iu bilang aku gak tau apa-apa? Aku ada di sana saat kejadian. Aku lihat sendiri, bagaimana kejadiannya. Gak hanya tau, aku terlibat dalam kejadian itu. Kalo gak percaya, tanya keluarga Pak Carik.” Imran menatap sang Ibu dengan air mata.
“Le, jangan kasar sama Ibu kamu. Bagaimanapun, dia tetap Ibu kamu.” Ibrahim mengingatkan anaknya yang menurutnya sudah melampaui batas.
“Ayah, orang sepeti ini harus aku panggil Ibu? Bahkan, dia sekarang tidak peduli sama kedua anaknya yang dia lahirkan. Dia lebih peduli dengan anak tirinya yang datang ketika kami sudah besar. Kami gak ada nilainya di hadapan wanita ini. Ayah tau kan, Mas Fadhil bahkan dihona oleh perempuan yang dia lairkan.” Imran menangis mengingat semua yang terjadi. Sejak pernikaha Ismawati dengan Ismail, keluarga itu menjadi sangat berbeda. “Ayah, kami anak yang dia lahirkan. Ibu melahirkanku dan Mas Fadhil. Tapi, apa yang terjadi sama kami? Ayah lihat sendiri kan? Ayah lihat semuanya kan? Ibu bahkan tidak peduli dengan kami. Mas Fadhil sekarang entah berada di mana, dan Ibu sama sekali tidak pernah menanyakan kabarnya. Kalo sama anaknya saja dia gak sayang, bagaimana dengan keluarganya yang lain? Aku bahkan meragukan Ibu bisa manah sebagai Kepala Desa.”
“Le.” Ibrahim hanya memanggil putranya. Dia yang mendengar semua kekecewan terhadap Ibunya membuatnya tidak bisa membiarkan semua ini terjadi.
“Sudah. Aku tidak punya urusan sama kalian. Urusanku sekarang, hanya dengan Umar.” ismawato mengatakan semua itu denga nada tinggi. Imran yang mendengar apa yang Ibunya katakan, hanya bisa terdiam dan menangis. Ibunya sudah berbeda. Selama ini, dia tidak pernah mendengar bentakan dari wanita yang melahirkannya. Tapi, sekarang ini bentakan adalah makananhya sehari-hari.
“Ini rumah Eyang. Ibu kenapa marah-marah di rumah Eyang? Ibu pikir kami ini tuli? Kami kami gak tuli. Kami masih bisa mendengar. Jadi gak perlu teriak-teriak,” suara Imran tidak kalah kencang dari Ismawati.
“Imran. Kurang ajar kamu!” Ismawati mendekat dan berusaha menampar Imran. Fatimah pasang badan dan mencegah Ismawati melakukan aksinya. Tapi semuanya terlambat.
Plak!