“Le, kamu pasti tau apa yang sudah terjadi dengan keluarga Eyang. Kau tau apa yang terjadi pada Umar.” Ibrahim mengatakan semuanya dan Fadhil terdiam setelah mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia tau, Umar memang punya penyakit dan sekarang harus tinggal dengan Eyangnya. Dia tidak bisa menebak, kenapa Eyangnya begitu keras ingin Umar bisa kembali ke rumah itu.
“Mas Umar? Mas Umar punya masalah? Dia sekarang tinggal sama Eyang kan? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Fadhil.
“Itu yang jadi masalah. Ibu kamu terus menekan. Dia terus menekan Umar.” Fadhil yang medengar itu, hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa mengatakan apapun terkait Ibunya. Semuanya sudah berubah. Ibunya tidak lagi seperti yang dia kenal selama ini. Ismawato jadi orang temperamental dan begitu gila dengan jabatan. Apapun yang berhubungan dengan jabatan dan uang, akan Ismawati perjuangkan walaupun mengorbankan kelurganya sendiri.
“Ibu sudah berbeda sejak menikah dengan lelaki itu. Entah kenapa, dia jadi temperamental dan menghalalkan segala cara untuk jabatan Kades. Aku juga heran, kenapa orang temperamental seperti Ibu, bisa jadi Kepaa Desa.” Fadhil menatap langit. Dia sangat merindukan sang Ibu seperti yang dia kenal selama ini. “Bagaimana dengan kondisi Mas Umar dan adikku? Mereka baik-baik saja kan?”
“Fadhil, kau tau sendiri apa yang terjadi sejak pernikahan Ibu kamu dengan Ismail. Semuanya tetaplah sama. Apakah itu bisa dikatakan baik-baik saja?” tanya Ibrahim. Fadhil hanya bisa diam. Dia meneteskan air mata mengingat semua itu. Sekarang, dia tidak bisa diam lagi. “Dhil, adik kamu sekarangmulai sering tersulut emosi kalo berhadapan dengan Ibu kamu. Imran bahkan berani membentak Ibunya di hadapan banyak orang.”
“Ya Allah.”
“Dhil, kita gak bisa tingal diam. Aku mohon, bantu aku! Lelaki itu harus kita hentikan. Kalo kita tidak menghentikanya, desa itu akan digadaikan.” Ibrahim hanya bisa meneteskan air mata.
“Ayah, apa lelaki itu jadi meluaskan usahanya? Desa itu akan dia buat untuk lahan usahanya?” tanya Fadhil. “Ayah, bagaimanapun caranya, dia harus segera dihentikan. Aku merasa, dia punya niat jahat.”
“Le, kita akan sulit melawan. Kita sulit melawan kehendak Lelaki itu. Dia punya kuasa. Dia punya posisi penting di wilayah ini. Dia anggota Dewan dan jabatanya tidak bisa kita anggap remeh.”
“Ayah, kenapa tidak minta bantuan Paklek? Paklek bisa mencegah kejahatannya. Paklek kan ketua partai tempat dia bernaung.” Fadhil mengusulkan itu.
“Tidak semudah itu, Le. Tidak semudah itu untuk melaporkan ini sama Paklek kamu. Kita harus punya bukti yang cukup. Kalo kita gak punya bukti yang cukup, yang ada malah jatuhnya fitnah. Kalo sudah begitu, kita yang bakal kena.”
“Tapi, rekaman itu ka sudah cukup untuk membongkar semuanya.” Fadhil mengingatkan Ayahnya tentang rekaman itu.
“Enggak, Le. Enggak. Itu rekaman sama sekali gak membongkar. Bukti yang kita miliki, belum begitu kuat. Kalo kita memaksakan memakai bukti itu, dan gak ada bukti lain, yang ada kita yang bakal kena.” Ibrahim menjelaskan semuanya. Fadhil yang mendengar penjelasan sang Ayah, akhirnya terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia yakin, jika rekaman yang ada di tangannya, bisa menjadi bukti yang cukup untuk menghentikan kejahatan Lelaki itu. Tapi, sepertinya semua ini tidak bisa disederhanakan seperti itu.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”
“Seperti recanaku. Kau temui Shaka. Kehadirannya akan membantu semua ini.” Ibrahim menatap anaknya. Fadhil akhirnya tidak bisa membantah. “Fadhil, kalo dilihat, memang Shaka gak ada kaitannya dengan masalah kita. Tapi, dia akan membantu kita untuk menghentikan Lelaki itu. Dia dekat dengan pimpinan RSUD yang gak lain adalah orang dekat petinggi di pemerintah provinsi dan petinggi partai. Dia bisa membuat, apa yang dilakukan Ayah tiri kamu terdengar oleh mereka. Kalo sudah begitu, mereka tidak akan berkutik.”
“Baiklah! Aku akan termui Shaka.”
Di tempat lain.