Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #19

Bertemu Mas Fadhil

“Mas Imran, Bu Fatimah. Maaf lho bertamu jam segini.”

“Ada apa? Apa ada perlu yang mendesak?” tanya Imran kembali. Lelaki itu hanya terdiam dan melihat Umar yang tengah duduk.

“Pak Carik, ada perlu apa? Kalo masalah tempat tinggal Umar, saya sudah menegaskan, dia akan tetap tingal di sini. Saya gak peduli dengan tekanan orang seperti Njenengan, terutama Ismawati.” Fatimah langsung mengatakan hal itu dengan begitu tegas.

“Maaf sebelumnya, karena saya sudah bicara dengan Mas Umar. Mas Umar sebenarnya kurang begitu nyaman tinggal di sini. Tolong, saya mengatakan hal ini bukn karena tidak ingin Mas Umar berada di sini.”

“Saya sudah bilang, Umar akan tinggal di sini. Saya harus menjaga apa yang seharusnya menjadi haknya. Saya hanya ingin, menjaga Umar dan apa yang seharusnya menjadi hak cucu saya. Bagaimanapun kondisinya, dia akan tetap ada di sini. Aku tidak akan pernah takut denga tekanan yang diberikan Kepala Desa. Kalo dia sampai berani mengusir Umar, mereka akan berhadapan denganku.”

“Eyang, kumohon jangan egois. Desa ini tidak lagi menerimaku. Warga desa tidak lagi mau menerimaku. Bahhkan Budhe Ismawati juga menolakku.” Umar memohon agar dirinya bisa keluar dari desa ini.

“Umar, aku tidak bisa melakukan itu. Kau akan tetap berada di desa ini.” Fatimah dengan tegas, tetap berada dengan pendiriannya.

“Eyang, aku mohon!” pinta Umar.

“Eyang, pikirkanlah lagi! Eyang sudah punya pengalaman hidup yang lebih banyak dari kami. Tolong, pikirkan apa yang Mas Umar alami. Aku juga tidak mau Mas Umar seperti ini. Mas Umar sudah seperti kakakku sendiri. Mas Umar seperti Mas Fadhil buatku. Aku gak mau kakakku kenapa-napa. Aku gak mau, melihat Kakakku sampai kena masalah di desa ini.” Imran menatap Fatimah dengan mata yang basah.

“Jangan ganggu keputusanku! Aku paling tidak suka kalo keputusanku diganggu.” Fatimah memilih pergi dan Umar meminta agr Fatimah bisa menimbang keputusannya kembali.

“Eyang.” Umar bersimpuh. Imran yang melihat itu hanya bisa mengeleng dan meminta Umar berdiri.

“Mas, kumohon berdiri! Jangan seperti ini! Kumohon, jangan seperti ini!” pinta Imran. Umar menolak dan terus berlutut di hadapan Neneknya. Fatimah memegang pundak Umar dan memintanya berdiri.

Fatimah sebenarnya jga tidak ingin cucunya mengalami nasib seperti ini. Tapi, dia tidak punya pilihan lain. semuanya harus dia lakukan, demi menjaga harta peninggalan mendiang anaknya.

“Eyang, izinkan aku pergi!” pinta Umar. Carik hanya bisa terdiam melihat permohonan Umar yang seperti itu.

“Maaf, kalo saya terkesan ikut campur. Saya tidak pernah sekalipun punya niat untuk ikut campur urusan keluarga Bu Fatimah. Tapi, semua ini sepertinya sudah terlalu jauh. Saya juga peduli dengan kondisi Mas Umar.” lelaki itu mendekat dan menatap Umar yang tengah menangis.

“Pak Carik, tolong saya.”

“Mas Umar, saya tau. Saya sangat tau apa yang Sampeyan hadapi. Tapi saya hanya orang lain di keluarga Bu Fatimah. Saya juga berharap, Sampeyan bisa ke tempat Bu Arumi. Di sana Sampeyan bisa dapat ketenangan. Sampeyan juga bisa fokus sama penyembuhan penyakit yan Sampeyan derita.” Lelaki itu tersenyum dan menyentuh pipi Uar denga air mata yang keluar.

“Pak Carik, Njenengan sudah terlalu jauh mencampuri urusan keluarga saya. Jangan mentang-mentang Njenengan punya jabatan di desa ini, terus seenaknya ikut campur urusan orang.” Fatimah langsung menoleh. Dia tetap pada pendiriannya. Umar akan tetap di sini. Kehadiran Umar akan membatasi gerak Ismail untuk mengambil tanah milik Yusuf.

“Sekali lagi, saya minta maaf jika terlalu jauh untuk urusan ini. Saya berharap apa yang menjadi keputusan Njenengan, adalah keputusan yang terbaik untuk keluarga besar, termasuk Mas Umar. Saya permisi.” Lelaki itu pergi.

“Eyang, kenapa Eyang seperti itu?” tanya Imran. Fatimah hanya diam dan meneteskan air mata. Dia sebenarnya tidak tega melihat Umar terus mendapat tekanan dari orang sekitarnya.

Umar akhirnya pergi setelah menyadari jika dia tidak punya kuasa di rumah ini. Imran yang melihat ada sesuatu yang tidak beres, langsung mengejar Umar. Jelas sekali jika Umar sedang menangis. “Mas Umar.”

Lihat selengkapnya