Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #20

rencana licik membongkar kelicikan lain.

“Ikut aku! Aku akan bertemu Fadhil. Aku akan mengantarmu menemui Kakak kamu.” Ibrahim menggandeng tangan anaknya dan mengajak ke sebuah tempat. Tempat yang tidak lain adalah sebuah rumah sederhana dan tampak seorang lelaki yang tengah mengerjakan sesuatu. Melihat lelaki itu, Imran hanya bisa terdiam dan tak kuasa menahan air mata. Lelaki itu adalah Fadhil.

“Mas Fadhil. Mas Fadhil.” Imran berjalan dan mendekati Fadhil yang terdiam setelah mendengar suara yang begitu dia kenal.

“Fadhil, adik kamu mau ketemu. Aku tau, kalian saling merindukan satu sama lain.” Ibrahim mendekati anak sulungnya dan Fadhil hanya bisa terdiam. Melihat adiknya berada di hadapannya, dia tidak kuasa menagha air mata.

“Imran, apa kabar?” tanya Fadhil yang langsung memeluk adiknya.

“Mas, kenapa kamu gak bilang kalo ada di Malang? Kenapa kau gak menjenguk Eyang dan Mas Umar?” tanya Imran. Fadhil terdiam dan entah bagaimana caranya untuk cerita tentang semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir. “Mas Umar dan Eyang sekarang dalam kondisi sulit.”

“Maaf, aku bukan gak mau menjenguk, tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan, sampai harus sembunyi dulu. Aku tidak bisa keluar begitu saja, karena aku sendiri juga dalam bahaya. Kau tau, suami baru Ibu, punya cara yang licik. Dia waktu itu hampir saja membunuhku arena lantang menolak pabriknya dibangun di desa kita.” Fadhil menjelaska semuanya dan Imran hanya bisa terdiam. Imran teringat apa yang menjadi ancaman kakaknya.

“Imran, kakak kamu bukan gak pernah datang ke desa. Dia memang di sini, tapi dia selalu mengawasi desa, terutama keluarga Eyang. Dia tau apa yang diderita Umar sekarang ini dan Fadhil tau semuanya apa yang akan dilakukan Ismail di desa kita.” Ibrahim menjelaskan semuanya dan Imran hanya bisa terdiam mendengar semua itu. Dia tidak pernah menyangka, Fadhil ternyata sudah di Malang selama itu dan melakukan banyak hal tanpa diketahui banyak orang. “Fadhil menyelinap ke Desa secara diam-diam, karena dia juga sangat mengkhawatirkan kalian. Imran, kakak kamu bahkan tau saat kejadian malam itu. Kejadian saat rumah Eyang digruduk masa dan kau menghadapi mereka dengan lantang.”

“Mas Fadhil.”

“Imran, aku minta maaf sudah menyinggung dirimu. Tapi, aku lakukan ini demi keselamatan kalian juga. Suami Ibu, sekarang liciknya keterlaluan. Kau tau sendiri kan, aku hampir saja dibunuh oleh lelaki itu. Kalo ayah tidak menengahi dan melempar masalah itu ke Paklek, mungkin saja aku hanya tinggal nama.” Fadhil tersenyum dan memegang tangan adiknya. “Imran, aku sebenarnya tau saat kamu membubarkan masa yang sudah megepung rumah Eyang. Kau luar biasa.”

“Itu, karena bantuan Ayah.”

“Bukan. Itu karena ketegasanmu. Ayah hanya sekedar membela Eyang. Ketegasanmu harus aku acungi jempol.”

“Mas.” Imran lagsung memeluk Fadhil.

“Imran, ayah minta rahasiakan keberadaan kakak kamu. Kakak kamu akan membantu kita menemukan Bulek kamu, seperti yang Eyang minta. Kita akan menemukan Bulek kalian, apapun yang terjadi.” Ibrahim hanya bisa tersenyum setelah mengatakan semua itu. Imran terdiam dan menatap Fadhil yang masih memegang tangannya.

“Bulek Suci? Mas, aku mohon, Eyang meminta kita buat cari Bulek Suci. Mas Umar mencarinya sejak dia menghilang. Bu Arumi juga sudah begitu capek mencari dimana keberadaan Bulek Suci. Tadi, Eyang cerita, kalo punya firasat gak enak terkait Bulek Suci.” Imran yang mendengar nama itu, hanya bisa menangis.

“Imran, kita akan cari Bulek Arumi bareng-bareng. Kita, akan minta bantuan Shaka untuk semua ini. Dia akan terlibat walau secara tidak langsung. Aku yakin, dia akan membantu kita, dengan keekatannya dengan beberapa orang berpengaruh di wilayah ini.”

“Mas Shaka? Anaknya Bulek Aina maksudmu?” tanya Imran.

“Iya. Ayah sudah bicara dengannya. Sekarang, giliranku untuk bertemu dengannya. Aku harus segera bertemu Shaka.”

“Mas, tapi apa hubunganya masalah ini dengan Mas Shaka?” tanya Imran. Dia tidak mengerti, kenapa Shaka harus dilibatkan. Yang dia ketahui, Shaka hanyalah seorang anak dari kalangan warga biasa dan tidak punya kekuasaan apapun.

Lihat selengkapnya