“Maaf, Dokter. Saya menyela pembicaraan. Tapi, ini sebenarnya masalah umum penderita HIV dengan lingkungannya.” Imran langsung mewakili Umar menjawab pertanyaan itu. Hamidah hanya bisa tersenyum dan sudah banyak menangani kasus seperti yang Umar alami.
“Kalo masalah itu, saya akan minta bantuan Psikolog di sini. Mas Umar sepertinya belum percaya diri hidup berdampingan dengan penyakitnya. Mas, kamu boleh punya penyakit seperti ini, tapi bukan berarti Mas Umar tidak bisa bergaul dengan banyak orang.”
“Dok, kenapa saya harus seperti ini?” tanya Umar. Hamidah hanya bisa tersenyum dan mencoba memahami apa yang Umar alami. Semuanya memang tidak bisa dianggap sepele.
“Mas Umar, akan saya kenalkan dengan seorang Psikolog yang ada di sini. Namanya Mas Fajin. Kamu bisa ngobrol denganya. Saya harap kamu bisa segera keluar dari masalah yang sedang kamu hadapi.” Hamidah tersenyum dan mengajak Umar ke tempat periksa.
Di ruangan lain, Shaka bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Irwan. Mereka bisa saling kenal karena Irwan adalah salah satu pasien yang dia tangani. Hari ini, Irwan datang karena jadwal konseling dengan salah seorang Psikolog di rumah sakit itu.
“Mas Irwan, sedang ada jadwal konseling?” tanya Shaka.
“Dokter Shaka, aku memang jadwal konseling hari ini. Dokter Shaka lagi istirahat?”
“Kebetuan lagi istirahat. Baru selesai keliling. Mungkin satu jam lagi harus tugas di Poli. Bagaimana perkembangannya?” tanya Shaka dan membuat Irwan hanya bisa diam. Dia tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya menjadi beban di hatinya. “Mas Irwan? Mas, kenapa? Kok malah bengong? Ada sesuatu yang membebani hatimu?”
Irwan kaget dengan pertanyaan Shaka.
“Maaf.” Irwan tersenyum dan tampak begitu malu dengan semua yang terjadi.
“Kalo ada masalah, jangan dipendam sendiri!”
“Maaf, nanti jatuhnya malah curhat.”
“Kalo bisa membantu, kenapa enggak? Mas Fajrin mumpung lagi sama kita.” Mereka sadar Fajrin sudah ada di belakang Irwan.
“Mas Fajrin, sudah lama di sini?” tanya Irwan yang tampakbegitu malu dengan kehadiran Fajrin.
“Enggak, baru saja datang. Tadi ada klien yang harus aku tangani terlebih dahulu. Mas Irwan, ada apa? Saya sempat mendengar pembicaranmu dengan Dokter Shaka. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal hatimu.” Fajrin meminta Irwan untuk cerita terkait semua itu.
“Mas, aku sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal, selama ini. Aku punya seorang teman, yang sudah putus kontak selama bertahun-tahun. Dia pernah satu komunitas bersamaku. Terakhir bertemu, saat aku memintanya untuk pergi dri basecamp kami. Aku memintanya pergi karena sudah tau, basecamp itu sudah dipantau kepolisian, dan aku gak mau sampai dia kena masalah. Dia berhak tetap memiliki kehidupan seperti orang lain.” Irwan tampak meneteskan air mata saat mencertikan semuanya. Fajrin yang mendengar semua itu tampak tersenyum.
“Mas, Sampeyan ternyata masih peduli dengan orang lain. Sampeyan masih mau menyelamatkan orang yang sebenarnya gak bersalah.” Fajrin mencoba menenangkan Irwan yang mulai menangis.
“Mas Fajrin, dia gak ada kaitannya dengan komunitas kami. Dia hanya korban. Keluarganya sudah retak dan dia terperangkap bujuk rayu pimpinan komunitas kami. Aku gak bisa membiarkan dia terus bersama kami, apalagi dia sudah melakukan hubunga terlarang.”
“Hubunga terlarang? Hubungan apa itu?” tanya Shaka.