Rumahku (Bukanlah) Surgaku (Di balik sujud terakhir Umar)

Zainur Rifky
Chapter #22

kehidupan yang berat.

“Mas Umar, aku akan tutup mata tentang apa yang kamu alami dan lakukan di masa lalu. Masa lalu, biarlah berlalu dan sekarang ini, tugas kita menatap masa depan yang belum terlukis. Masa lalu memang gak bisa diubah, tapi masa depan belum kita jalani. Kita bisa melukis masa depan, seindah mungkin.” Fajrin hanya bisa tersenyum dan Umar hanya menunduk.

“Aku sudah kotor. Aku melakukan hal nista di masa lalu dan semuanya punya pengaruh sampai sekarang. Aku bahka ditolak lingkungan tempat tinggal. Aku sudah ditolak dan tadi pagi saja aku dapat cacian. Aku selalu dapat cacian dan hinaan yang menyakitkan.”

Umar menceritakan semuanya di hadapan Fajrin. Fajrin hanya bisa tersenyum dengan semua yang Umar ceritakan. Semua itu adalah hal penting agar dia bisa membantu lelaki yang ada di hadapannya untuk bisa segera keluar dari masalahnya.

“Mas Umar, semuanya pasti berat. Semuanya tidak mudah untuk dilalui. Tapi, masih ada saudara yang peduli denganmu. Mas Umar datang ke rumah sakit ini gak sendiri kan?” tanya Fajrin.

“Sama Eyang dan sepupu.” Umar menyebut kedua orang itu.

“Berarti mereka masih peduli. Mereka masih sangat peduli dengan kondisi Mas Umar sekarang. Itu adalah sesuatu yang patut disyukuri.” Umr hanya diam mendengar apa yang Fajrin kataan. “Mas, tadi sempat bilang terkait orang tuanya, terutama Ibunya. Bagaimana kabar Beliau sekarang ini?”

“Aku gak tau. Aku bertemu Ibu terakhir kali, waktu masih usia empat tahun. Waktu itu, Ibu pamit kerja di luar negeri. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu Ibu.” Umar langsung menangis. Dalam hatinya, da sanat merindukan sang Ibu. “Aku sempat bertemu Ayah, saat masih SMA. Sejak saat itu, aku bisa tinggal dengan Ayah sampai akhirnya beliau nmeninggal. Sekarang, aku hanya ingin Ibu kembali. Aku hanya ingin bertemu Ibu.”

“Semoga segera dipertemukan dengan Ibunya. Aku tau, ini berat buat Mas Umar, tapi Mas Umar bisa menjalaninya. Aku gak bisa membayangkan, bagaimana Mas Umar melalui semua ini dengan penuh ujian, tanpa sosok orang tua yang jadi malaikat dalam kehidupanmu.” Fajrin hanya bisa memegang tangan Umar. “Mas, boleh bertemu keluarganya?”

“Buat apa?” tanya Umar.

“Mas, Sapeyan ini masih punya keluarga, dan saya harus bicara dengan keluarga Sampeyan. Mereka harus tau apa yang harus dilakukan.” Umar terdiam dan menatap jendela. Terlihat Imran yang tersenyum melihat tatapannya.

“Boleh.” Umar memberi isyarat agar Imran bisa menemaninya di ruangan itu. Imran yang menangkap isyarat dari seiupunya, langsung memasuki ruangan dan mendekati Umar.

“Permisi, maaf mengganggu.” Imran mendekati Umar dan langsung dudu di sampingnya. “Maaf, kalo terkesan kurang sopan. Tapi, sepertiya saudara saya butuh ditemani.”

“Gak apa-apa. Silahkan ditemani, karena kebetulan saya juga ada perlu sama keluarganya.”

“Ada perlu apa ya?” tanya Imran.

“Tentang apa yang Mas Umar alami. Saya rasa ada sesuatu yang harus keluarganya lakukan. Saya, hanya ingin lingkungnya Mas Umar mendukung untuk perkenmbangan Mas Umar.” Fajrin langsung mengatakan semua yang ingin dia utarakan. Imran hanya bisa terdiam mendengar apa yang Fajrin katakan. Semua itu akan sangat sulit untuk dilakukan, mengingat apa yan terjadi dalam kelurganya. Perseteruan antara Ibu dan Neneknya, membuat semuanya semakin sulit. “Mas Imran, bagaimana?”

“Eh, akan saya coba. Sebenarnya, bisa dilakukan, tapi di lingkungan yang lain. Tapi semuanya tidak bisa sesederhana yang kita bayangkan. Tapi, akan saya coba untuk melakukan semua itu.” Imran hanya mencoba tersenyum. Semua akan berat. Semua akan berat untuk dijalani. Dia tau bagaimana watak Ibunya. Dia takut jika apa yang akan dia lakukan akan membuat semuanya kacau. Dia dilema untuk apa yang harus dilakukan.

“Imran, aku mau ke tempat Bulek Arumi saja.” umar langsung mengatakan itu. Imran terdiam dan sebenarnya menginginkan hal yang sama.

“Mas, kalo boleh memilih, aku juga ingin Mas Umar tinggal di tempat Bu Arumi. Bukan aku gak sayang sama kamu. tapi, melihat lingkungan di sana sangat mendukungmu, aku merasa di sana adalah tempat yang cocok untuk kau tinggali.” Imran hanya bisa meneteskan air mata. “Mas, tapi ini masalah keputusan Eyang. Kita tau, apa yang jadi keputusan Eyang dan tidak ada seorangpun yang bisa menentang keputusannya.”

Lihat selengkapnya