“Mas, ada apa? Apa kau tau sesuatu?” tanya Imran.
“Imran, aku sempay mendengar pembicaran kalian. Aku mohon maaf kalo ini lancang. Tapi, kau harus dengar rekaman ini!” pinta Fadhil yang membawa recorder.
“Dengar rekaman ini? Apa hubunganya denga apa yang Mas Umar katakan?” tanya Imran. “Masalah yang mana? Karena Mas Umar punya dua masalah yang kalo dipikir-pikir, semua sumbernya dari Ibu.”
“Dengarlah dulu! Kau akan tau apa yang sudah dilakukan oleh Ibu dan suami barunya.”
Imran akhirnya memutar rekaman yang dibawa kakaknya. Terdengar, percakapan antara seorang lelaki yang tidak lai adalah Ismail dengan beberapa orang. Rupanya, percakapan itu adalah narasi fitnah yang Ismail hembuskan ke warga desa selama beberapa hari terakhir, terkait Umar.
“Kurang ajar! Ternyata dia selama ini yang menjadi dalang atas semua yang terjadi di keluarga Eyang.” Imran hanya menahan amarah dan ingin sekali membanting rekaman itu.
“Imran, jangan lakukan iti!” pinta Fadhil yang melihat adiknya ingin membanting rekaman yang dipegang.
“Mas, ini kau dapat dari mana? Siapa yang merekam ini dan memberikanya padamu?” tanya Imran yang menangis dengan dada yang sesak.
“Ayah memberikan ini padaku semalam. Rekaman ini, sebenarnya diambil oleh Pak Carik. Pak Carik sebenarnya diam-diam membantu kita. Beliau sebenarnya menentang keputusan Ibu tentang pengelolaan Lahan di Desa kita.”
“Pak Carik? Pak Carik masih perduli dengan keluarga kita?” tanya Imran yang hanya bisa menggeleng. “Berarti, Pak Carik masih dengan Mas Umar. apa yang dia sarankan beberapa hari ini, murni karena ingin Mas Umar bisa hidup dengan tenang seperti warga yang lain.”
“Imran, Pak Carik masihb sangat peduli dengan keluarga Eyang. Beliau sangat mengohormati Eyang, karena Pak Carik pernah dibantu sama Eyang saat kesulitan.” Fadhil mengatakan semua dan Imran hanya bisa terdiam.
“Mas, kalo Pak Carik saja peduli dengan keluarga Eyang, kenapa Ibu bahkan berani menentang Eyang denga cara seperti itu? Ibu sudah keterlaluan. Ibu bahkan berani membentak Eyang.”
“Imran, aku hanya bisa memohon bantuanmu untuk sekarang ini. Aku sekali lagi minta bantuanmu. Kamu harus melakukan semua ini. Kita gak mau, sampai Ibu kenapa-napa. Ibu hanya dijebak oleh Ismail. Imran, aku masih yakin, Ibu berubah karena dipengaruhi oleh Ismail. Ibu tidak sejahat itu.” Fadhil menatap adiknya yang tengah terdiam.
“Baiklah. Aku akan coba.” Imran langsung pergi dan Fadhil sangat berharap adiknya berhasil mengumpulkan bukti kejahatan Ismail. Keluarga besar Ibunya harus selamat dari kelicikan Ismail.
Di rumah Ismawati.
“Mas, aku bahkan gak habis pikir dengan apa yang Ibu dan Imran pikirkan? Mereka mati-matian membela keponakanku itu. Dia sudah jadi aib bagi keluargaku, bahkan untuk desa ini. Tapi masih saja dilindungi.” Ismawati hanya bisa menahan amarah melihat keakraban anak dan Ibunya untuk membela Umar. baginya, Umar hanyalah aib di keluarga besarnya.
“Is, jangan marah seperti itu!”
“Bagaimana aku gak marah? Umar itu aib. Dia aib bagi desa ini dan keluargaku. Terus aku harus diam saja melihatnya berkeliaran di sini? Itu gak akan aku biarkan. Aku gak akan pernah membirkan Umar bisa berkeliaran bebas di desa ini. Aku gak mau sampai desa ini ketularan penyakit yang anak itu derita.” Ismawati sangat geram dengan apa yang Umar alami.
“Ismawati, serahkan saja padaku! Masalah mereka, biar aku yang bereskan.” Ismail tersenyum licik.