Di tempat Fatimah. Ibrahim sengaja datang untuk menjenguk keponakan dan mantan mertuanya yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Sesampainya di rumah Fatimah, Ibrahim mendapati ponselnya berbunyi da langsung menatapnya. Tampak, sebuah notif dari anak bungsunya. Meliha notif pesan, Ibrahim hanya bisa tersenyum saat aaknya mengabarkan, dia sudah berada di rumah Ismawati dan tidak kesulitan membujuk Ibunya agar dia bisa menginap di rumah itu. Imran juga mengatakan, dia bisa menjalankan misi yang mereka sudah susun.
“Le, mana Imran? Biasanya dia sudah pulang kalo malam seperti ini. Tapi, kenapa sampai jam segini anakmu belum juga pulang?” tanya Fatimah. Ibrahim hanya terdiam dan harus mengatakan apa yang Imran lakukan kali ini.
“Bu, Imran minta maaf sebelumnya. Malam ini, dia ingin menginap di tempat Ibunya.” Fatimah hanya diam dan menatap Ibrahim yang mendekatinya.
“Mereka masih akur?”
“Ibu, bagaimanapun, Ismawati tetaplah Ibu bagi anakku, sama seperti Ibu, yang masih Ibu dari mantan istriku. Dia berhak dekat dengan Ibunya.” Ibrahim haya bisa mengatakan semua itu dan Fatimah hanya bisa diam dan menyadari sesuatu.
Umar yang mendengar apa yang Ibrahim katakan hanya bisa diam dan tidak mau berkomentar apapun untuk sekarang ini. Ibrahim hanya bisa memahami apa yang Umar alami sejak beberapa hari ini. “Umar, kamu sepertinya tidak senang dengan semua itu.”
“Aku tidak bisa bergantung sama siapapun. Aku sekarang gak bisa percaya sama siapapun. Semua orang bisa jadi penghianat saat kondisiku seperti sekarang ini.” Ibrahim terdiam beberapa saat mendengar apa yang baru terucap. Dia memang menyadari apa yang Umar katakan adalah sebuah kenyataan. Siapapu bisa jadi penghianat saat kondisi sedang tidak berpihak dengan mereka.
“Aku tidak menyalahkan pemikiranmu. Orang lain, memang tidak bisa dipercaya begitu saja. Kamu memang tidak perlu terlalu percaya sama orang, karena orang lain tidak pernah mau mengertimu.” Ibrahim megusap wajah keponakannya yang sejak kecil terkenal begitu bersih.
“Siapa yang mau mengerti? Siapa yang mau mengerti dengan peyakit yang aku derita? Bahkan Ibu yang aku harapkan, sampai sekarang gak tau dimana keberadaannya. Aku sejak usia empat tahun, tidak lagi hidup bersama Ibu. Ibu memiih pergi dari hidupku.” Ibrahim langsung terdiam dan menatap Fatimah. Dia ingat apa yang dikatakan Imran pagi tadi. Fatimah memintanya mencari keberadaan Suci, bagaimanapun kondisinya.
“Insya Allah. Le, aku janji akan mencari Ibumu sampai ketemu. Aku akan bantu kamu, mencari Ibu kamu. Kita akan temukan Ibu kamu bareng-bareng.” Ibrahi tersenyum. Hatinya sebenarnya merasa begitu terpukul. Keegoisan kedua orang tua Umar, justru membuat Umar menjadi korbannya. Tapi, semua itu bykan alasan untuk tidak mencari keberadaan Suci. Umar tidak bersalah dan selamanya akan tetap membutuhkan kehadiran orang tuanya. “Umar, Insya Allah Fadhil akan bantu kita. Aku sudah bicara sama dia, dan Fadhil sudah menyanggupinya.”
“Fadhil?” tanya Umar.
“Le, Fadhil masih memantau kabar kalian. Dia tetap peduli dengan kalian dan masih menanyakan kabar kalian.” Ibrahim tersenyum dan menatap kedua orang yang ada bersamanya.
“Ibrahim, bagaimana kondisi Fadhil? Apa dia baik-baik saja?” tanya Fatimah.
“Dia baik-baik saja. dia tidak kurang apapun. Hanya saja, dia belum bisa pulang karena kerjaannya belum selesai sepenuhnya.”
“Semoga dia bisa segera pulang. Aku ingin bersama semua cucuku di rumah ini.” Fatimah hanya bisa tersenyum dan tidak kuasa menahan air mata.
“Insya Allah. Doakan dia bisa pulang sesegera mungkin.” Ibrahim hanya bsa tersenyum pada Fatimah
“Le, kau istirahatlah! Besok, masihb kerja di temat Bulek kamu kan? Kamu harus tetap kerja dan sekarang, kamu harus istirahat.” Fatimah hanya tersenyum. Melihat Umar mulai istirahat, wanita yang usianya mulai lanjut itu mengajak Ibrahim untuk bicara di ruang tamu. Ada hal yang harus dia bicarakan, tentang Suci. “Ibrahim, aku ingin bicara. Ini, tentang Suci.”