“Mas, aku masih peduli. Aku masih perhatian sama kamu. Mas Umar, aku sudah janji sama Eyang akan bantu kamu cari Ibu kamu.” Imran tersenyum dan Umar tidak merespon. “Mas, kau mau ke rumah Bu Arumi kan? Boleh aku antar?”
“Tidak perlu. Aku bisa ke sana sendiri.” Umar terdiam dan meminta Irwan dan Imran berhenti perhatian padanya. Imran terdiam dan terus berjalan mengikuti langkah sepupunya. Dia sadar kalo sepupunya wajar berperilaku seperti ini.
“Mas.” Imran tersenyum dan berdiri sejajar dengan Umar. Umar hanya diam dan tidak peduli dengan Imran. Imran hanya berjalan sampai seseorang berteriak dan membuat mereka berhenti. Imran dan Umar yang melihat Lelaki muda itu, hanya bisa diam.
“Umar, masih hidup kau rupanya? Hebat juga kau, bisa bertahan dengan virus ini?” tanya Lelaki itu sambil mengejek. Lelaki itu tidak lain adalah Ilyas, datang dengan gaya sok menantang. Imran yang mulai terpancing emosinya, ingin sekali menghajar Lelaki itu. Umar sendiri mencegah Imran dan tidak ingin menambah masalah.
“Mas?” tanya Imran melihat Umar mencegahnya.
“Tidak perlu. Nambah masalah saja.” Umar mencoba pergi. Ilyas yang melihat Umar tidak peduli dengannya, mencoba terus mengintimidasi, dan melakukan kekerasan fisik pada Umar. Umar yang refleks denga apa yang Ilyas lakukan, langsung menghindar dan membuat Lelaki itu terjatuh.
“Kau? Sudah berani rupanya?” tanya Ilyas. Ilyas mencoba kembali menyerangnya dan secara refleks kembali, Umar mendorongnya hingga dia kembali terjatuh.
Umar yang tidak percaya dengan semua itu, hanya menggeleng dan memilih pergi. Dia tidak mau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.
“Mas.” Imran yang juga kaget dengan apa yang Umar lakukan, langsung pergi dan mengikuti kemana Umar melangkah. Dia yakin, semua ini pasti akan jadi masalah di Wanarandu megingat orang tua Ilyas bukanlah orang sembarangan.
Imran yang melihat Umar pergi dengan air mata, hanya bisa terdiam dan memutuskan mengikutinya. Dia tidak mau sampai sepupunya kenapa-napa akibat ulahnya yang sama sekali tidak disengaja.
“Mas Umar.” Imran menepuk bahu Umar. umar mencoba melepaskan pegagan tangan sepupuya.
“Pergi! Jangan ganggu aku lagi!”
“Mas, aku tidak berniat mengganggumu. Aku sama sekali tidak punya niat mengganggu hidup kamu.” Imran mencoba membuat Umar kembali percaya padanya, tapi semuanya sepertinya tidak bisa begitu saja dia lakukan.
“Aku memang salah berharap lebih ke orang lain. Aku memang salah, punya harapan lebih ke kalian. Kalian sama sekali tidak pernah mau menganggapku ada. Aku tidak pernah ada di hidup kalian. Bagi kalian, aku hanyalah beban dan aib. Jadi, ebihb baik aku pergi.”
“Mas, gak seperti itu. Aku tidak bermaksud menganggapmu tidak ada. Bagaimanapun, kau tetaplah saudaraku. Kau tetaplah teman masa kecilku.” Imrn menatap sepupunya dengan air mata yang terus mengalir.
“Pergilah! Karena Ibu kamu pasti datang bersama pasukannya. Aku tau siapa dia, dan aku tau bagaimana konsekuensi kalo punya masalah sama dia. Dia tidak mau menganggapku ada, sama eperti kalian.” Umar memilih pergi dan Imran tidak punya pilihan selain menemui ayahnya.
Dia pergi ke rumah Fadhil karena yakin, Ayahnya ada di tempat Kakaknya. Fadhil yang melihat adiknya datang dengan kondisi menangis, tampak kaget dan mendekatinya. Dia ingin tahu kenapa Imran datang dengan kondisi seperti ini.