Ketika aku pergi, akankah mereka mengenangku? Saat aku tidak lagi berkumpul dengan mereka, seperti apa mereka mengenangku?
***
“Umar, kenapa kamu pergi secepat ini, Le? Kenapa kamu pergi secepat ini?” tanya seorang wanita yang berdiri di halaman sebuah rumah. Rumah itu tidak lain adalah ruahnya yang dia tinggali bersama sang cucu, sejak kedua orang tuanya pergi entah kemana.
Wanita itu tetap berdiri dengan segala macam kenangan yang dia lalui bersama cucunya. Matanya basah dan kakinya tidak lagi kuat untuk berdiri. Tubuhnya sudah renta, tapi dia harus menanggung segala macam kesedihan, atas apa yang terjadi pada cucunya.
Fatimah namanya, dia baru saja pulang dari tanah suci, untuk menunaikan panggilan dari Ilahi, untuk bertamu ke rumah agungnya di dunia ini. Tapi kepulangannya ke tanah air harus penuh dengan air mata. Sang cucu yang menemaninya berangkat, tidak bisa pulang menemaninya. Cucunya yang bernama Umar, tidak diizinkan pulang ke tanah kelahirannya. Dia meninggal dunia di Masjidil Haram saat menunaikan rangkaian Ibadah.
Fatimah mengingat hari itu. Mengingat hari disaat Umar harus menghadap Ilahinya. Hari itu adalah hari yang tidak bisa dia lupakan sampai kapanpun.
Flashback on
Fatimah ingat kejadian saat hari jumat di tanah suci. Umar – sang cucu – tengah menunaikan sholat di depan ka’bah. Tidak ada prasangka apapun sebelum Umar menunaikan Sholat.
Sampai akhirnya, saat Umar tengah bersujud, dia tidak kunjung bangun dari sujudnya. Hampir setengah jam, Umar tidak bangun dari sujud, dan membuat Fatimah merasa gelisah dengan sang cucu. Dia meminta salah seorang jamaah untuk membangunkan cucunya.
“Innalillahi wainna ilaihi Rojiun.” Salah seorang yang mencoba mengecek kodisi Umar, langsung mengucapkan kalimat itu. Sontak saja Fatimah lemas dan menangis di samping jasad sang cucu.
“Umar.” Fatimah memeluk jasad cucunya dengan air mata yang mengalir begitu deras.