“Bu, Ibu ini seorang Kades. Ibu ini memimpin di desa ini. Pemimpin harus mengayomi semua warganya. Kalo Ibu masih saja bertengkar sama Eyang, bagaimana Ibu bisa mengayomi orang lain? Bagaimana Ibu bisa melindungi orang desa ini, kalo sama keluarganya saja Ibu cekcok.” Imran menatap Ibunya dengan air mata yang mengalir.
“Imran, Ibu hanya mau memberi hukuman sama Umar.”
“Bu, tidak seperti ini caranya. Kalon Ibu melakukan cara ini, ibu sama saja bilang, kalo Mas Umar adalah aib.”
“Le, kau harus tau sesuatu. Umar memang aib di desa ini.” Imran terdiam beberapa saat.
“Ibu.” Imran terdia dan masih mengingat apa yang Fadhil katakan. Dia tidak boleh berdebat dengan Ibunya apapun itu yang jadi alasannya.
“Ismawati, lebih baik kamu pulang. Kamu pulang saja! Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini kalo kamu hanya bikin keributan!” teriak Fatimah dan Imran tidak bisa berbuat banyak.
“Bu, aku hanya ingin bertemu Umar.”
“Gak, gak ada waktu bagimu untuk bertemu Umar.” Fatimah menyeret Ismawati dan memintanya pergi. Ismawati tidak bisa berbuat banyak kali ini. Dia tidak bisa berbuat apapun saat menghadapi ibunya.
Di dalam rumah, Umar menyiapkan beberapa baju dan siap pergi malam ini juga. Dia tidak tahan dengan apa yang terjadi dia tidak tahan dengan pertengkaran demi pertengkaran di keluarga Eyangnya. Memang benar apa yang dikatakan Pak Carik, dia harus pergi ke tempat Arumi dan tinggal di sana.
“Mas, mau kemana? Mas Umar, kau mau minggat?” tanya Imran yang melihat Umar membawa sebuah tas yang berisi beberapa baju. Suara Imran membuat Ismawati dan Fatimah menoleh ke arah rumah. “Mas Umar.”
“Umar, kemana kamu, Le?” tanya Fatimah yang langsung mengikuti langkah cucunya.
“Biarkan aku pergi! Seharusnya aku tidak pernah tinggal di sini. Di sini tidak pernah cocok untukku. Desa ini tidak akan pernah menerima orang sepertiku.”
“Umar, bukan seperti itu, Le.” Fatimah hanya bisa menggenggam tangan Umar yang terus berjalan.
“Eyang, tolong jangan keras kepala! Aku ingin hidup damai. Aku tidak ingin hidup mendengar kalian ribut. Sejak Ayah dan Ibu pergi, kalian sering ribut dan sejak aku kena penyakit, hampir setiap hari kalian ribut seperti sekarang. Kalian pikir aku senang melihat kalian ribut? Sama sekali enggak. Aku gak pernah ingin melihat kalian ribut seperti barusan.”
“Umar, jangan pergi! Tetaplah di sini! Eyang mohon sama kamu, tetaplah di sini! Eyang mohon sama kamu.” Fatimah memohon, tapi Umar sepertinya tidak peduli.
“Apa untungnya sih, mempertahankan aku di sini? Aku gak berguna kan? Aku hanya aib bagi kalian. Aku hanya bikin malu. Biarkan aku pergi! Aku akan pergi seperti yang kalian mau, karena dari awal aku jga gak bisa tingal di sini. Kalian semua egois. Kalian semua egois.”
“Le, siapa bilang kamu tidak berguna? Kamu berguna. Kamu berguna paling enggak buat aku. Aku merasa kehadiranmu sangat berguna.” Fatimah memohon.
“Bohong.” Umar memilih pergi dan Fatimah langsung mengikuti kemana langkah Umar. Imran dan Ismawati yang khawatir dengan keselamatan Fatimah, hanya bisa mengikuti langkah wanita itu.
Sepanjang perjalanan, Fatimah terus membujuk Umar agar kembali ke rumahnya. Umar tidak bergeming dan terus berjalan hingga ke perbatasan desa.
“Le, kamu yakin mau pergi malam-malan begini?” tanya Fatimah. Umar terdiam dan menatap Eyangnya yang masih berharap dia kembali ke rumah.
“Kenapa sih Eyang masih saja keras kepala?” tanya Umar yang mulai emosi.
“Le, eyang minta sama kamu.”