Rumahku (Bukanlah) Surgaku

Zainur Rifky
Chapter #27

kepercayaan Umar

“Iya, Le. Dia ketakutan sepertinya.”

“Aku, boleh ketemu Aisha? Aku ingin mendengar cerita ini langsung dari dia.”

“Ayo, Le. Kau bisa dengar langsung dari dia.” Ismawati mengajak anaknya menuju rumah.

Di halaman Rumah, Aisha masih terdiam dan tidak tau harus berbuat apa. Dia benar-benar melihat Fadhil dan tidak mungin penglihatannya salah.

“Aisha, kau belum masuk?” tanya Ismawati yang baru sampai bersama Imran.

“Mama, aku masih belum percaya.”

“Aisha, jangan panik begitu dong! Duduklah!” pinta Imran yang mencoba mencairkan suasana.

“Imran, kau di sini?”

“Aku sengaja datang ke sini, setelah Ibu cerita kalo kamu lihat kakak aku. Itu benar?” tanya Imran dan ingin mendengar langsung semua yang Aisha sudah lihat.

“Imran, aku serius lihat kakak kamu. Dia keluar rumah.”

“Orang yang kamu maksud Mas Fadhil itu, bawa sesuatu gak?”

“Sepertinya, barang yang ada di kamar Mama. Tapi, aku gak tau barang apa tu. Kaya rekaman atau apa gitu. Tapi aku kurang tau apa itu. Gak jelas.” Imran menatap ismawati dan Aisha. Dia tau maksud Aisha. Sebuah rekaman yanb mungkin punya sesuatu di dalamnya. “Ma, tadi Papa juga nemukan pesan. Kayak ancaman gitu.”

“Ancaman? Ancaman yang seperi apa? Mas Fadhil mengancam kalian?” tanya Imran. Aisha menunjukkan sebuah kertas yang berisi tulisan yang cukup rapi. Imran sendiri tampak kaget dengan tulisan itu.

“Lho, tulisan siapa ini?” tanya Imran sambil menunjukkan tulisan itu ke Ismawati. “Bu, kalo beneran ini ulah Mas Fadhil, tulisannya gak seperti ini. Tulisan Mas Fadhil gak sebahgus ini. Dan bahasanya dia gak seperti ini. Ibu masih ingat kan bagaimana tulisan dan gayanya Mas Fadhil?”

“Aisha, mohon maaf ya, Nduk. Tapi, ini memang buka tuisan dan karakter bahasanya Fadhil. Gak mungkin Fadhil bahasanya kasar seperti ini. Dia juga gak punya tulisan yang rapi seperti ini.”

“Terus, tadi itu siapa?”

“Aku aka cari tau. Sekarang kalian istirahat aja. Aku yakin dia tidak akan ke sini. Dia hanya iseng. Aku segera akan cari tau siapa dia, karena Mbak Sakinah beberapa hari yang lalu juga cerita kalo Mas Shaka ketemu sosok yan mirip sama Mas Fadhil. Aku jadi takut, kalo ada orang yang mau mencoreng nama baik Mas Fadhil. Aku kan gak mau seperti itu.” Imran hanya bisa mengatakan itu dan Ismawati tampak kaget dengan apa yang dikatakan anak kandungnya.

“Shaka, lihat orang yang mirip Fadhil?” tanya Ismawati.

“Iya. Kan Ayah beberapa hari yang lalu sempat ketemu Mbak Sakinah waktu ada keperluan di tempat kerjanya. Mbak Sakinah cerita seperti itu. Kan aku juga khawatir.” Imran tediam dan melihat Ibunya mulai khawatir.

“Imran, Ibu minta tolong ya.”

“Serahkan semuanya padaku! Ya sudah, Ibu istirahat. Besok masih harus ngantor kan?”

Imran tersenyum dan memilih pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalaan pulang, Imran hanya bisa tersenyun melihat keberhasilan kakaknya membuat saudara dan ayah tirinya merasa terganggu.

Di tempat lain.

“Pak Carik.”

“Bagaimana, Le? Kau sudahb ambil barang yang kita butuhkan?” tanya Carik.

Lihat selengkapnya