“Aku, punya virus ini.”
“Umar, jangan bersedih seperti ini! Aku sama sekali gak membencimu. Memang, apa yang memalukan dari penyakitmu? Sama sekali gak ada.” Arumi menggandeng tangan Umar yang masih saja murung.
“Mas Umar, aku bukan mau ikut campur urusan kalian. Hanya saja aku tau karyawan di tempat Bu Arumi. Yang aku tau, ada beberapa dari mereka yang kondisinya seperti kamu. mungkin, kau lebih tau, bagaimana persaudaraan diantara karyawan di tempat usaha Bu Arumi selama ini.” Shaka menimpali dan Umar hanya bisa diam.
“Umar, apa yang Shaka katakan itu betul. Kau tau sendiri. Gak ada dari mereka yang saling merendahkan.” Arumi kembali bicara.
“Bulek, tapi selama ini kan….” Arumi menutup mulut Umar dan menggeleng.
“Maksud kamu, sering membantah dan gak nurut sama aku?”
“Tapi kan memang seperti itu.” Umar mengingat semua yang dia lalui bersama Arumi. Dia tidak jarng membuat Arumi Marah dan sering tidak tenang.
“Le, aku menganggap itu kenakalan biasa. Justru, aku ingin minta maaf kalo tidak bisa memberi apa yang jadi kebutuhanmu.” Arumi hanya bisa menatap Umar dan tak terasa meneteskan air mata.
“Mas, kalo boleh kamu jujur, kamu mau tinggal sama siapa?” tanya Shaka. Dia ingin memancing Umar untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Arumi.
“Aku, mungkin memilih tinggal sama bulek.” Umar menatap Arumi dan Arumi hanya bisa diam mendengar jawaban itu. Jawaban itu, adalah murni dari Umar.
“Bu Arumi, sudah dengar sendiri dari yang bersangkutan. Dia sebenarnya meminta tinggal sama Ibu.” Shaka hanya bisa tersenyum dan Arumi hanya bisa diam mendengar kejujuran Umar.
“Umar, tapi bagaimana dengan Eyang kamu? Eyang asti marah kalo kamu tinggal di sini.” Arumi menatap keponakannya yang berharap bisa berada di tempat itu.
“Bulek, tolong!” pinta Umar.
“Umar, bukan bulek gak mau. Tapi, aku hanya memikirkan bagaimana reaksi Eyang kamu. Aku gak mau punya masalah sama Eyang kamu.”
“Bulek, kenapa gak bisa? Kenapa Bulek gak bisa melakukan itu?” tanya Umar.
“Bulek minta maaf ya, Le. Bulek juga ingin kamu tinggal sama bulek seperti sebelumnya.” Arumi hanya bisa meneteskan air mata dan Umar hanya bisa terdiam mendengar apa yang baru Arumi katakan.
“Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa aku tidak bisa diterima seperti orang lain?”
“Mas Umar.” Shaka menggenggam tangan Umar yang sedang menangis.