Rumahku (Bukanlah) Surgaku

Zainur Rifky
Chapter #29

Imran, Fadhil dan Shaka

Sesampainya di tempat Fadhil, terlihat kakaknya yang sedang terdiam dan memandangi beberapa pekerjaan yang sepertinya baru saja dia selesaikan. Melihat adiknya berdiri di hadapannya, Fadhil langsung berdiri dan mendekati Imran yang tengah gelisah.

“Imran, kau di sini? Ada perlu apa?” tanya Fadhil yang terheran.

“Mas, apa yang terjadi semalam? Kau gak apa-apa kan selama berada di Wanarandu?” tanya Imran yang jelas tampak khawatir.

“Imran, apa yang sebenarnya terjadi? Aku gak apa-apa. Kau lihat sendiri, aku gak apa-apa.” Fadhil terheran dan meminta adiknya duduk. Imran tidak bisa tenang begitu saja melihat kakaknya yang hampir saja ketahuan ayah tirinya.

“Mas, kau semalam hampir ketahuan sama Ibu. Andai kau tidak menemukan tempat yang pas untuk bersembunyi di waktu yang tepat, bisa saja suami Ibu bisa marah dan menghabisimu.” Imran memegang tangan Fadhil yang hanya bisa menenangkan adiknya.

“Enggak. Aku hanya ketemu Aisha. Itu saja hanya sekilas, saat aku pergi dari rumah itu.” Fadhil menggenggam tangan Imran yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Mas Fadhil, aku mau tanya satu hal. Apa yang kau dapatkan dan bagaimana bisa Pak Carik tau tentang keberadaanmu. Kau, semalam bertemu Pak Carik kan?” tanya Imran dan Fadhil langsunv saja meminta adiknya untuk diam dan dia mau tidak mau harus menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi. Fadhil tidak bisa menyembunyikan semua ini begitu saja dari adiknya. Imran berhak tau apa yang terjadi selama ada di Malang dan bagaimana dia bisa memasuki Wanarandu tanpa ketahuan siapapun.

“Imran, aku minta maaf atas kejadian selama ini. Aku sudah banyak merahasiakan semua ini darimu. Aku sebenarnya sudah lama di Malang dan sudah beberapa kali bertemu Pak Carik. Beliau minta bantuan padaku terkait anaknya yang sekarang entah berada di mana. Beliau yang membantuku memasuki Wanarandu dan tidak diketahui siapapun.” Fadhil tersenyum dan tidak ada yang dia sembunyikan dari adiknya. Imran yang mendengar cerita Fadhil hanya bisa meneteskan air mata.

“Mas, jadi kau sudah melakukan sejauh itu?” tanya Imran. Fadhil tersenyum kepada dik yang selama ini sudah menemaninya.

“Aku minta maaf sebelumnya. Aku harus melakukan semua ini demi kalian. Aku tidak bisa membiarkan kalian terus ditekan oleh Ibu dan suaminya. Aku tidak bisa melihat Eyang yang sudah usia senja harus memikul beban yanb cukup berat.”

“Aku tidak bisa menyalahkanmu, Mas. Aku sama sekali tudak bisa menyalahkanmu. Mas, apa yang sudah kau dapat selama ini? Kau sudah tau kejahatan dari Pak Ismail?” tanya Imran.

“Ini tidak bisa aku ceritakan semuanya padamu. Aku ingin mengumpulkan semua buktinya dulu. Tapi, yang aku tau, dia memang punya rencana jahat pada keluarga almarhum Paklek Yusuf. Dia ingin merebut harta Paklek, yang jumlahnya fantastis. Ini gak bisa aku biarkan, karena semua itu hak Mas Umar.”

“Mas, kenapa dia begitu serakah?” tanya Imran sambil meneteskan air mata.

“Imran, aku gak tau itu. Mungkin dia ingin memperluas jaringan bisnisnya di desa ini, dan harta mendiang Paklek, akan dia rebut menggunakan kuasa dari Ibu. Makanya, dia sekarang berambisi menyingkirka Mas Umar, karena Pak Ismail memangap, Mas Umar adalah ancaman baginya.” Fadhil hanya bisa terdiam beberapa saat dan membuat Imran hanya bisa meneteskan air mata. “Imran, ada apa?”

“Mas, sampai segitunya?” tanya Imran.

“Imran, aku banyak tau dan mendengar sendiri apa yang dia lakukan. Pak Ismail memang sudah melakukan hal sampai sejauh itu.” Fadhil memeluk adiknya yang terus menggeleng.

“Kau, sampai mendegarnya secara langsung?”

“Kenapa? Kamu kaget? Memang iya, aku mendengarnya sendiri. Pak Ismail tidak sadar jika aku berada di dekatnya waktu itu.”

“Mas, aku jelas kaget. Aku gak tau kalo kamu bisa dapat banyak bukti seperti itu. Mas, bukti itu banyak yang ada di tanganmu.” Imran terdim dan memandangi Fadhil.

“Gak perlu kaget. Aku sudah melakukannya dan rekaman yang kau dengarkan saat di Rumah Sakit, aku sendiri yang mengambilnya di Rumah Ibu.” Fadhil tersenyum dan Imran hanya bisa menggeleng dan mencoba memahami.

“Mas, kau serius sudah sejauh itu?” tanya Imran. Fadhil hanya bisa tersenyum dan Imran terdiamdengan apa yang sudah dilakukan kakaknya.

“Imran, aku minta maaf sudah merahasiakan ini. Aku hanya mau satu hal darimu. Tolong kendalikan mereka dari dekat. Aku yakin, kalo kamu masih bisa mengambil hati Ibu tanpa menjauhi Eyang dan Mas Umar.”

“Semoga saja aku bisa. Aku akan coba. Mungkin Ibu bisa aku ambil hatinya, tapi tidak dengan Pak Ismail. Pak Ismail sebenarnya tidak begitu menerimaku. Kau tau, Ibu saja sempat berdebat dengan Pak Ismail malam itu karena aku menginap di rumah mereka. Tapi, Ibu bisa membuat Pak Ismail terdiam karena alasan sama-sama punya anak.”

Lihat selengkapnya