Rumahku (Bukanlah) Surgaku

Zainur Rifky
Chapter #30

keributan di rumah sakit

“Kau, masih hidup rupanya?” tanya Ismail dengan suara tinggi. Shaka yang mendengar pertanyaan itu, sontak saja terkejut. Seorang anggota dewan bisa mengatakan hal itu di hadapan umum tanpa rasa malu sedikitpun.

“Kenapa? Kaget kalo aku masih hidup? Kaget aku bisa di Rumah Sakit ini?” tanya Fadhil.

“Kau, jangan harap bisa mendekati Ibu kamu.”

“Kenapa? Dia tetap Ibuku. Desa itu, tetap desa kelahiranku dan tempatku menghabiskan masa kecilku. Aku tetp berhak bertemu Ibuku dan main ke Desa Wanarandu.” Fadhil tanpa rasa takut, mengataian semua itu di hadapan Ismail. “Kau mau apa? Kau punya hak apa melarangku bertemu Ibu kandungku?”

“Kau, berani rupanya?”

“Kenapa? Kau kaget dengan apa yang aku lakukan? Kau kaget kalo aku bisa masuk rumahmu tanpa ada yang tau?” tanya Fadhil.

“Aku akan memastikan kau lenyap.”

“Silahkan saja kali kamu berani.”

“Nantang kau rupanya.”

“Cukup! Jangan bukin rubut di sini! Ini Rumah Sakit, bukan rumah kalian.” Shaka langsung menengahi dan membuat semua orang langsung terdiam.

“Jangan ikut campur! Siapa kau?” tanya Ismail sambil mengancam.

“Saya seorang dokter di sini, dan saya punya kewajiban menjaga ketenangan tempat saya bekerja. Ini tempat umum dan banyak orang yang mengharap kesembuhan di sini.”

“Kau tau siapa aku? Aku anggota dewan. Aku bisa mengadukanmu.” Ismail menuding Shaka dengan gayanya.

“Anggota dewan seharusnya menjadi teladan bagi kami, bukan seperti ini. Ingat ya, Anda sudah melakukan hal memalukan di hadapan orang banyak.” Ismail terdiam dan tersadar banyak orang yang melihat ulahnya. “Kalo Anda memang seorang anggota dewan, Anda tidak akan melakukan ha seperti yang baru Anda lakukan. Anda sudah menunjukkan siapa Anda sebenarnya. Kalo anda terus bikin onar di sini, saya gak ragu melaporkan ulah Anda ke pimpinan Rumah Sakit. Biar pimpinan rumah sakit tau, bagaimana ulah seorang anggota dewan di tempat ini.” Shaka mengatakan semua itu tanpa keraguan.

Keberanian Shaka membuat nyali Ismail ciut. Dia berani melaporkannya ke pimpina rumah sait, berarti Lelaki ini sama saja sudah melaporkannya ke pimpinan partai tempatnya bernaung.

“Shaka.” Fadhil memegang bahu Shaka yang sedang emosi.

“Saya tau Anda dari Partai apa, dan suami dari kepala Rumah Sakit ini adalah petinggi Partai tempat Anda bernaung. Kalo ada terus seperti ini, kita lihat saja tanggal mainnya.” Shaka terlihat sama sekali tidak gentar walaupun Fadhil khawatir dengan resiko yang akan Shaka hadapi.

“Shaka.” Fadhil terus memegang bahu Shaka dan berharap dia tidak lagi melakukan hal itu. Tapi, Fadhil juga senang dengan tindakan Shaka hari ini.

“Kalian, aku pastikan kalian akan mendapat konsekuensi dari ulah kalian sekarang.” Ismail pergi. Shaka dan Fadhil langsung diam melihat Lelaki itu menjauh.

“Shaka.” Fadhil meminta Shaka untuk menenangkan diri setelah kepergian Lelaki itu.

“Aku tidak bisa melihat ada orang seenaknya bikin ribut di Rumah Sakit ini, apalagi bawa-bawa jabatannya.”

“Shaka, kau kenapa bisa berani seperti itu?” tanya Fadhil.

“Kenapa? Selama ini, aku tidak pernah diajarkan takut kalo aku dalam posisi gak salah. Lalu, kalo aku yakin tindakanku gak salah, ngapain juga harus takut?”

“Shaka, aku senang punya teman kaya kamu. kamu sudah mengajarkan arti keberanian yang sesunguhnya.” Fadhil tersenyum.

“Gak ada yang harus dibanggakan. Ya sudah, aku permisi dulu. Aku waktunya ke klinik.” Shaka pergi dan Fadhil punya rencana untuk semua ini. Celah Ismail mulai terlihat dan dia bisa memainkan celah itu.

***

Lihat selengkapnya