Rumahku (Bukanlah) Surgaku

Zainur Rifky
Chapter #31

Ismail, Irwan dan Shaka

***

“Eyang, izinkan aku tinggal di sini!” pinta Umar yang melihat Neneknya ada di hadapannya. Fatimah yang tau kabar Umar sekarang berada di tempat Arumi sejak siang tadi, langsung meminta Imran untuk mengantarnya. Ingin sekali Fatimah bicara dengan Umar dan Arumi.

“Umar.”

“Aku mohon, aku hanya bisa tenang kalo tinggal di sini. Aku tidak perlu mendengar kalian bertengkar dan selalu ribut.” Umar memohon dan Fatimah hanya bisa diam.

“Kau tidak membenci Eyang kan, Le?” tanya Fatimah yang tidak kuasa menahan air mata.

“Aku tidak bisa membenci Eyang.”

“Eyang, mana mungkin Mas Umar benci sama Eyang. Mas Umar dan kami tidak bisa membenci Eyang. Kami gak punya alasan untuk membeci Eyang. Aku mohon, jangan punya pikiran seperti itu!” pinta Imran.

“Le, maafkan aku! Aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak bisa merwatmu dengan baik.” Fatimah memegang tangan Umar. jika sudah seperti ini, dia tidak punya pilihan lain selain menitipkan Umar ke tempat Arumi.

“Bu Fatimah, Ibu ini sudah usia. Memang bukan waktunya Bu Fatimah merawat Umar. Aku yang punya kewajiban merawat Umar, Bukan Ibu. Ibu waktunya istirahat. Tidak usah memikirkan bagaimana Umar ke depannya. Dia punya pilihan dan Alhamdulillah dia bisa kembali bekerja di sini. Banyak tawaran pekerjaan yang datang dari teman-temannya. Bu Fatimah gak perlu khawatir dengan Umar.” Fatimah hanya bisa diam mendengar apa yang Arumi ceritakan.

“Rum, tapi bagaimana masalah Mbak kamu?” tanya Fatimah.

“Eyang, masalah Bulek Suci dan Pak Ismail, serahkan padaku dan Mas Fadhil. Mas Fadhil sebentar lagi pulang dan akan membantu membereskan semua itu.” Imran mengatakan semua dan Fatimah terdiam mendengar nama Fadhil.

“Fadhil? Dia mau pulang?” tanya Fatimah.

“Iya. Ini semua dia lakukan demi Eyang. Apa yang dikatakan Bu Arumi memang benar. Eyang sudah seharusnya istirahat dan gak perlu pasang badan untuk masalah ini. Jangan berjuang sendirian!”

“Imran, tapi aku masih punya hutang sama Paklek kamu.”

“Bagi beban itu sama kami. Jangan pikul beban itu seorang diri. Kami akan bantu.” Imran tersenyum dan Fatimah hanya bisa tersenyum mendengar apa yang Imran baru saja katakan.

“Le, kau serius?”

“Kenapa aku harus gak serius? Paklek itu masih anak Eyang, berarti Beliau masih Paklekku.” Imran membuat Fatimah menatap ketiga orang yang ada bersamanya.

“Le, terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih. Semua ini akan aku lakukan untuk Eyang.” Fatimah tersenyum. Mereka banyak bicara dan tak terasa hari sudah malam. Fatimah harus pulang.

“Nduk, titip Umar ya.”

“Cucu Bu Fatimah akan aman di sini.” Arumi tersenyum melihat mereka yang mulai menjauh.

Fatimah menatap Imran yang berjalan bersamanya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi berhubung hari sudah malam dia hanya menanyakan terkait Fadhil.

“Imran, Fadhil beneran akan pulang?” tanya Fatimah.

Lihat selengkapnya