“Kau yang namanya Shaka kan? Kau yang menantangku kemarin kan? Urusan kita belum selesai.” Ismail mendekati Shaka dan Shaka hanya bisa terdiam. Tampak jelas jika Shaka menghadapi Lelaki itu dengan begitu tenang.
“Maaf kalo tindakan saya menyinggung Bapak. Tapi saya merasa, tindakan kemarin adalah hal yang benar. Jadi, saya tidak akan meminta maaf dengan alasan apapun.”
“Shaka, aku tawarkan damai. Jangan melaporkan semua ini pada siapapun.” Ismail medekat dan memperlihatkan segepok uang. Shaka tidak gentar menghadapi Lelaki yang ada di hadapannya dan dia memilih menolak tawaran itu.
“Apa maksud Anda? Anda mengancam saya? Apa maksud uang ini?”
“Aku tidak bermaksud mengancammu atau apapun itu. Aku hanya menawarkan damai padamu, atau kau akan tau konsekuensinya.” Ismail tersenyum dan Shaka haya bisa menarik napas dalam-dalam. “Shaka, keluargamu akan ikut kena imbasnya.”
“Jangan perah sentuh keluaga saya. Saya gak akan segan berbuat hal nekat jika Anda menyentuh keluga saya.” Shaka yang tau maksud Ismail, langsung mengatakan semua itu.
“Apa kau takut?” tanya Ismail.
“Jangan pernah berpikir, saya takut dengan ancaman Anda. Jika sudah ada kata-kata damai dan ingin memberikan sesuatu, pasti ada niat gak baik, dan Anda sudah jelas mengancam kelurga saya. Saya sudah tau bagaimana orang licik seperti Anda bermain.”
“Tinggal pilihb saja apa susahnya sih?” tanya Ismail. Ingin sekali dia menghabisi Shaka hari ini juga.
“Saya tidak pernah berurusan dengan Anda. Saya tidak pernah merasa punya masalah dengan Anda, jadi buat apa saya menerima kesepakatan damai?” tanya Shaka.
“Kurang ajar.” Ismail tersulut emosinya dan ingin memberi pelajaran pada Lelaki muda yang sekarang ada di hadapannya. Tapi, sebelum tangan itu mengenai tubuh Shaka, Irwan sigap memegang tangan itu dan melotot ke arah Ismail.
“Jangan pernh menyakiti saudara saya. Kalo memang Anda marah, silahkan sakit saya. Saya keluarganya Domter Shaka. Silahkan sakiti saya!”
“Mas Irwan?” tanya Shaka dan meminta agar Irwan mundur. Irwan meminta Shaka untuk dian dan membiarkan dia menjdi bulan-bulanan Ismail. “Mas Irwan, jangan! Kalo kamu kenapa-napa, siapa yang akan menolong Mas Umar? Kau sudah janji akan menolong Mas Umar kan?”
“Umar? Kalian dekat sama Umar?” tanya Ismail sambil tersenyum.
“Kenapa? Saya punya hutang sama Umar. Saya harus membayar hutang saya sama Umar. jadi, biarkan saya merasakan semua ini.”
“Mas Irwan, jangan! Kau yang dekat dengan Mas Umar. Kalo kamu kenapa-napa, bagaimana aku menjelaskan semuanya sama Mas Umar?” tanya Shaka.
“Dokter, semuanya gak akan kenapa-napa. Aku gak akan kenapa-napa.” Irwan tersenyum dan menatap Ismail. “Slahkan! Anda bisa sakiti saya sekarang.”
Tidak lama, ada seseorang yang mendekati Shaka dan kedatangan Peremuan itu membuat Ismail gemetar. Seorang Wanita yang anggun sedang mendekati Shaka dengan senyuman yang sontak membuat Ismail mundur beberapa langkah.
Ismail terdiam beberapa saat. Dia terdiam karena melihat seseorang yang medekati Shaka. Shala menyadari, jika seorang wanita yang tidak lain adalah Hamidah berada di belakangnya.
“Dokter Hamidah?” tanya Shaka. Hamidah tersenyum dan mendekati Ismail.
“Mas Ismail, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dokter Hamidah.
“Aku, gak ada apa-apa.”
“Gak perlu bohong. Aku sudah merekam apa yang kau lakukan pada mereka berdua. Kau sedang mengancam rekan kerjaku dan salah seorang paisenku. Bukankah begitu?” tanya Hamidah sekali lagi.
“Enggak, sama sekali enggak.”
“Aku punya buktinya. Kalo kamu terus melakukan semu ini, aku tidak akan segan mengirim ini ke direktur kami. Direktur kami akan tau apa yang dia lakukan.” Hamidah tersenyum.
“Jangan, jangan lakukan itu!” pinta Ismail dan memilih pergi. Shaka dan Irwan hanya bisa diam dan tersenyum.
“Kalian gak apa-apa?” tanya Hamidah.