“Pak Carik, Bapak mau kemana?” tanya Imran. Carik memilih tidak menjawab dan menuju rumah Fatimah. “Pak Carik, mau apa ke tempat Eyang? Eyang sedang istirahat.”
“Justru aku harus bicara sama Eyang kamu.”
“Pak Carik.” Imran terdiam. Carik dan Fatimah akhirnya bicara. Imran terdiam dan membiarkan mereka merencanakan sesuatu.
“Imran, Eyang kamu harus tau semua ini. Beliau yang akan memperlancar rencana kita.” Imran tidak bisa bicara apapun saat mengetahui apa yang direncanakan.
***
“Ini rekaman gak main-main kan?” tanya Fadhil. Dia tidak percaya jika Ibunya sudah terlibat dalam kejahatan yang disusun oleh Ismail dan kejahatan ini sudah begitu rapi.
“Mas, rekaman ini aku yang ambil. Orang yang ada di rekaman ini, aku sama Ibu. Jadi kau tidak salah dengar. Apa yang Ibu katakan, semuanya tidakbisa dibantah.” Imran menjelaskan semua yang dia ketahui. Fadhil langsung menangis. Dia sebenarnya tidak ingin Ibunya kenapa-apa apalagi sampai masuk penjara. Dia hanya ingin memberi pelajaran kepada Ismail. “Ayah, Pak Carik, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita gak punya piian lain. Kita gak punya alternatif lain. Kita harus bongkar semua ini. Kita harus bongkar kejahatan ini di hadapan warga Desa.” Pak Carik mengatakan itu dengan berat hati. Dia tau resiko jika semua itu dilakukan.
“Pak Carik, tapi bagaimana?” tanya Fadhil dan Carik menatap Imran dengan senyuman. Imran terdiam dan menatap orang sekitarnya dengan tatapan aneh.
“Ada apa? Kenapa sama aku?” tanya Imran.
“Imran, kau sudah dekat sama Ibu kamu. Tolong, jangan hancurkan itu! Kami yang akan mencari Bu Suci. Kau hanya perlu mengawasi keluarga Ibu kamu dengan modal kepercayaan yang sudah ada di antara kalian.” Ibrahim langsung mengatakan semua itu dan Imran tidak bisa berbuat banyak. “Fadhil, sudah saatnya kamu menemui Nenek dan Umar. mereka sudah saatnya tau kalo kamu ada di dekat mereka.”
“Mereka sudah tau? Mereka tau aku ada di Malang?” tanya Fadhil.
“Eyang sudah tau, karena aku sudah cerita. Tapi, Mas Umar belum tau. Sekarang, mereka sedang berada di tempat bu Arumi. Eyang tadi pagi meminta ke tempat Bu Arumi karena ingin bertemu Bu Arumi dan Mas Umar.” Imran mengatakan semua itu dan Fadhil langsung menuju lokasi yang dimaksud. Dia juga ingin melepas rindu pada Eyang dan sepupunya.
Sesampainya Fadhil di tempat Arumi, terlihat Fatimah yang sedang bersama Umar di halaman rumah. Fadhil memanggil kedua orang itu dan membuat Fatimah terharu melihat Cucunya. Cucu yang dia rindukan, sekarang sudah hadir di hadapannya.
“Fadhil, kau di sini? Bagaimana kabarmu?” tanya Fatimah. Umar yang melihat Fadhil bersama sang Nenek, juga ikut mendekat. Fadhil langsung memeluk sepupunya. Mereka masih saling menyayangi walaupun terpisah jauh selama dua tahun.
“Aku baik. Aku baik-baik saja. Eyang baik-baik saja kan?” tanya Fadhil. “Mas Umar, bagaimana kondisimu? Aku dengar, kamu lagi sakit. Sudah lebih baik?”
Umar terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu. Fatimah tersenyum dan meminta Fadhil untuk dudu dan ingin mendengar cerita dari cucunya.
“Le, Umar memang sedang sakit. Tapi, semua sudah baik-baik saja. tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Bukan begitu kan, Le?” tanya Fatimah.
“Aku tau semuanya. Aku tau kalo Mas Umar sedang gak sehat, bahkan aku sempat bertemu Mas Shaka. Mas Shaka cerita semuanya terkait Mas Umar. Mas Shaka cerita semuanya.”
“Gak ada yang baik-baik saja. Gak ada kabar baik buatku.” Umar mulai berkomentar. Fatimah dan Fadhil langsung diam dan mencoba menguatkan Umar yang sedang terpuruk.
“Mas, aku tau kalo sekarang ini gak baik-baik saja. Semuanya memang terlihat tidak berpihak sama kamu. tapi, aku masih yakin kalo masih ada orang seperti Bu Arumi yang menerimamu apapun yang terjadi.” Fadhil menggenggam tangan Umar yang tengah menangis.
“Fadhil, kau sudah ban yak tau tentang semua ini.” Fatimah hanya bisa terharu, melihat Fadhil menguatkan Umar.
“Eyang, Ayah udah banyak cerita tentang apa yang menimpa keluarga kita, termasuk Mas Umar. tapi, aku rasa Mas Umar memang harus ada di sini. Mas Umar akan aman kalo tinggal di tempat Bu Arumi.” Fadhil memandangi Umar yang terdiam.
“Fadhil, bagaimana dengan orang tua kamu?” tanya Fatimah. “Mereka sepertinya tidak akan….”
“Gak perlu khawatir sama Ayah Ismail dan Ibu. Imran dan yang lain sudah melakukan yang terbaik. Aku yakin, Bulek Suci akan segera ketemu. Bulek Suci akan segera bertemu dn tinggal sama Mas Umar.” Fadhil mengatakan apa yang tengah Imran dan Ayahnya lakukan.
“Ibu. Dimana Ibu?” tanya Umar dan membuat Fadhil terdiam beberapa saat. “Kamu tau dimana Ibu berada? Katakan padaku, dimana Ibu?”
“Mas, Pak Carik sudah tau titik Ibu kamu berda. Sekarang, mereka memastikan titik yang dimaksud. Aku harap mereka tidak sampai salah dan gak ketahuan sama orangnya Ayah Ismail. Kalo sampai ketahuan, pasti akan sulit.”
“Aku mau ikut. Aku mau ke sana.” Umar berdiri, tapi Fadhil mencegahnya. Dia tidak mau sampai Umar harus menghadapi resiko besar.
“Mas, jangan sekarang! Kalo kamu ikut sekarang, yang ada malah bahaya buat kamu sendiri. Kita tunggu informasinya dari Ayah. Kalo Ayah sudah memberi isyarat iya, aku akan temani kamu kesana. Eyang juga harus ikut. Mau kan?” tanya Fadhil.