Rumahku (Bukanlah) Surgaku

Zainur Rifky
Chapter #34

kutukan?

“Ibu ketemu? Dimana? Dimana Ibu sekarang?” tanya Umar. Umar tidak sabar untuk pergi, saat Fadhil mengatakan jika Suci sudah ditemukan.

“Mas, aku jelaskan semuanya di perjalanan. Kita gak punya banyak waktu. Ibu kamu harus kamu amankan dulu. Sekarang, ikutlah denganku!” pinta Fadhil dan mereka tidak punya pilihan lain.

“Ibu. Ibu dimana? Fadhil? Apa yang terjadi sama Ibu? Ibu gak apa-apa kan?” tanya Umar sepanjang perjalanan.

“Bu Arumi, Mas Umar, yang sabar ya kalo ketemu Beliau. Beliau sepertinya kondisinya lagi gak baik.” Fadhil hanya bisa meneteskan air mata mengingat kondisi Suci sekarang ini.

“Fadhil, Ibu kenapa? Ibu gak apa-apa kan?”

“Kita lihat kondisinya. Beliau memang masih hidup, tapi kondisnya tidak begitu bagus.” Fadhil menatap Umar dengan air mata yang terus mengalir. Mereka hanya diam. Tidak ada komentar apapun sampai mereka berhenti di sebuah tempat. “Mas, Ibu kamu ada di bangunan itu. Itu Eyang sama Ayah.”

“Eyang.” Umar akhirnya turun dan Fatimah langsung menggandeng Umar dan Arumi. Ibrahim memberi isyarat agar beberapa orang yang ada di tempat itu bisa mengikutinya.

“Semuanya, dobrak pintunya! Selamatkan keluarga kalian!” pinta Ibrahin dan semua orang di tempat tersebut akhirnya berhasil membuka pintu itu setelah didobrak ramai-ramai. Terlihat, beberapa orang wanita ada di dalam bangunan itu dengan kondisi yang mengenaskan. Mereka terlihat mendapat perlakuan yang tidak layak.

“Bu. Ibu.” Umar yang masih mengenali wajah Ibunya, langsung memeluk wanita yang kondisnya tidak bisa dikatakan baik.

“Nduk, kenapa kamu, Nduk? Suci, kenapa kamu bisa seperti ini, Nduk?” tanya Fatimah. Dia tidak bisa menyembunyukan air matanya. “Le, bawa Ibu kamu keluar! Kita harus bawa Ibu kamu keluar. Gak mungkin kita biarkan Ibu kamu ada di sini terus-menerus.”

Umar membantu Suci untuk bisa keluar dari tempat itu. Ibrahim dan Fadhil yang melihat kondisi Suci, hanya bisa meneteska air mata. Seorang anak yang lama terpisah dengan Ibunya, sekarang bisa bertemu dengan kondisi yang sangat tidak diinginkan.

“Ayah, Ibu keterlaluan. Bulek sampai kondisinya seperti ini, berarti Beliau dapat perlakuan yang gak layak dari orang yang menahan. Ini gak bisa dibiarkan. Ayah, aku gak bisa membiarkan semua ini.” Fadhil mengatakan semuanya dan dalam hatinya, ingin sekali memberikan hukuman pada Ismawati. Tapi, dia tidak tau apa yang harus dia lakuka pada Ismawati. Dia sangat menyayangi Ismawati, tapi juga kecewa dengan apa yang terjadi.

“Kalian semua, bawa keluarga kalian masing-masing ke Balai Desa! Kalian berhak mendapat jawaban dari Kepala Desa atas apa yang dialami keluarga kalian. Tanah ini adalah tanah Desa. Aku yakin semua yang terjadi di atas tanah Desa pasti diketahui oleh Kepala Desa.” Ibrahim meminta orang yang ada di sini melakukan semua itu.

“Pak Ibrahim, tapi Pak Carik saja tidak tau apa yang terjadi. Pak Carik sama sekali tidak tau mereka ada di sini.” Salah seorang warga Desa langsung memprotes.

“Makanya, kita sama-sama minta jawaba dari Kades. Kenapa bisa Pemerintah Desa tidak tau jika di tanah milik Desa ada hal seperti ini.” Ibrahim membuat semua orang terdiam dan yakin jika Kepala Desa harus menjawab apa yang terjadi. “Ini hak Njenengan semua. Njenengan harus tau, apa yang terjadi pada mereka ini.”

Semua orang akhirnya menuju Balai Desa dan Umar berada paling depan.

Di tempat lain saat Umar bersama orang-orang sedang mendobrak bangunan tempat keluarga mereka dikurung.

Ismail dan Ismawati berada di Balai Desa dan tengah membahas rencana pembangunan Desa ke depannya. Ismawati ingin menampilkan video rencana pembangunan Desa. Tapi, saat video diputar, bukanlah video yang mereka inginkan. Ismawati tampak kaget dengan video yang memperlihatkan aksi tidak pantas Aisha dengan pacarnya di salah satu sudut Desa dan disaksikan para warga yang berkumpul. Semua orang yang hadir di Balai Desa hanya bisa menutup mata dan histeris melihat apa yang dilakukan Aisha di Desa mereka.

“Bukannya itu anak Bu Kades dan Pak Ismail ya? Dia lagi apa sama pacarnya?”

“Mereka kan pendatang, kok berani banget melakukan hubungan itu di Desa ini.”

“Ya Tuhan, mereka belum nikah dan melakukan hubungan seperti itu?”

Lihat selengkapnya