“Kalian ingin Umar pergi dari Desa ini kan? Sekarang tuntutan kalian sudah terkabul dan aku juga akan pergi dari desa ini. Silahka kalian hidup dipimpin oleh pelaku kriminal! Desa ini akan dikenal sebagai desa kriminal. Sampai kapanpun, jangan pernah berharap kalian bisa menemuiku.” Fatimah pergi dengan air mata yang begitu deras mengucur.
***
“Dokter Shaka. Bagaimana kondisi Ibu saya?” tanya Umar sambil meneteskan air mata. Dia sangat berharap dengan apa yang akan Shaka katakan.
“Saya gak bisa bilang kalo kondisi Beliau ini baik. Tapi, harapan untuk sembuh masih terbuka lebar. Saya akan usahakan kesembuhan Beliau. Beliau masih bisa unuk disembuhkan.” Shaka tersenyu dan menepuk pundak Umar beberapa kali.
“Shaka, Mbakku ini masih bisa disembuhkan?” tanya Arumi.
“Bisa. Sangat bisa, Bu. Saya akan minta bantuan Dokter Spesialis yang lebih mengerti terkait kondisi Bu Suci. Beliau berhak sembuh dan kembali berkumpul sama anaknya.” Shaka tersenyum dan Umar hanya bisa menangis.
“Bulek, kenapa semuanya jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ibu harus mengalami nasib buruk seperti sekarang ini?” tanya Umar. Arumi hanya bisa terdiam dan mencoba menenangkan Umar.
“Umar, yang penting Ibu kamu sudah ketemu dan kita bisa menemaninya lagi. Beliau akan aman sama kita. Beliau akan aman sama kamu. Le, coba lihat wajah Ibu kamu! Beliau masih sama seperti dulu. Beliau masih menatapmu dengan kasih sayang, sama seperti saat kalian bertemu.” Umar menatap Ibunya yang menatapnya denga air mata.
“Ibu, kenapa Ibu jadi seperti ini?” tanya Umar. Tangan Suci perlahan bergerak dan menyentuh wajah anaknya. Umar terdiam dan ingat bagaimana Ibunya dulu selalu menghapus air matanya saat dia sedang menangis. Terlihat senyuman itu terpancar dan masih sama hangatnya dengan senyuman terakhir saat itu. “Ibu.”
“Umar, aku minta maaf. Arumi, maafkan aku.” Suci menatap anak dan adiknya yang setia menunggunya di ruangan ini.
“Mbak, anggap saja apa yang terjadi saat itu, hanyalah mimpi buruk. Sekarang, kita sudah terbanhgun dari mimpi itu. Lupakan semuanya. Kita mulai semuanya dari awal. Aku mohon, kamu sembuh dulu. Itu yang paling penting. Bu Fatimah sementara akan tinggal sama kita.” Arumi tersenyum dan menghpus air mata kakaknya. “Mbak, kau tau? Bu Fatimah selalu mengkhawatirkanmu selama ini. Beliau mengangap kamu adalah anaknya.”
Suci terdiam dan memandang anaknya yang terus menggenggam tanganya. Tidak lama, Ibrahim datang bersama Fatimah. Fatimah hanya bisa meneteskan air mata dan menatap Umar dan Suci dengan senyum.
“Eyang.” Umar berdiri dan Fatimah meminta agar Umar tetap berada di samping Suci.
“Le, tidak perlu khawatir. Semuanya sudah baik-baik saja. Ismail sudah mendapat hukuman yang layak. Dia sudah mendapat hukuman yang pantas dia terima.” Fatimah tersenyum dan memastikan jika tidak ada yang perlu mereka khawatirkan.
“Eyang, kenapa semuanya terjadi?” tanya Umar. Fatimah tersenyum dan mendekati Cucu dan menantunya.
“Semuanya terjadi, karena kau harus tau siapa yang menyayangimu dengan tulus, siapa yang menyayangimu demi sesuatu.” Fatimah mengajak cucunya duduk. “Semuanya gak usah dipikirkan. Sekarang sudah aman dan tidak ada yang harus kita khawatirkan.”
Umar terdiam dan menatap sang Ibu yang masih lemah. “Aku gak akan kembali ke Wanarandu. Aku gak akan kembali ke Desa itu, walau aku mati nanti. Aku ingin, jasadku dikubur di tempat yang jauh dari Wanarandu.”