Rumahku Hanyalah Kita

Rangkay0 Hayati
Chapter #1

Prolog

Aku mencintaimu bukan karena aku ingin memilikimu, tetapi karena tanpamu aku kehilangan diriku sendiri-Majnun

 

Senja di sudut kota rindu 2026

      Entah sudah berapa kali aku duduk di sini, menunggu senja datang di kota yang selalu membuatku rindu untuk selalu kembali ke sudut kota ini. Sebab bagiku senja yang merekah merah merona bahagia, tak hanya menenangkan dan mengajarkanku satu hal bahwa langit tak pernah meninggalkan senja, meskipun terkadang hitam tertutup awan gelap. Tapi juga merekam indahnya persahabatan kami yang tulus dan penuh cinta yang tak akan pernah lekang dimakan usia, walau kini hanya bisa kukenang. Persahabatan yang dulu menjadi rumah ternyaman bagi kami bertiga untuk selalu pulang.  Abadi dan terus hidup kisahnya di hatiku sampai badan ini berkalang tanah. Biarlah kenangan itu akan terus menemani setiap langkah di hidupku, meski aku tak bisa mengulangnya kembali.

     Pandanganku kini tertuju pada sebuah gapura di depan gang berwarna merah cerah keemasan bercampur hijau terang. Diapit oleh kedua tiang dengan gambar seekor ular naga melingkar berwarna emas, yang menandakan sebagai pintu masuk ke kawasan China Town dengan huruf mandarin. Tempat Larasati tumbuh dan dibesarkan oleh seorang keturunan Tionghoa, bernama Baba Ho. Sekaligus gang yang banyak menyimpan memori suka dan duka kebersamaan kami. Perlahan-lahan senja muncul di permukaan langit yang cerah. Sinar terang dari toko dan bangunan, lampu-lampu jalanan, bahkan dari kendaraan seperti bus, becak listrik, bajaj, dan beberapa gerobak delman mengeluarkan kerlip berwarna-warni yang indah. Menambah kesyahduan senja menjelang malam bermandikan cahaya sudut kota ini. Suara pengamen jalanan tak jauh dari tempatku duduk menikmati suasana kota, memunculkan kembali kenangan itu.

    “Salim, Ibnu! Ayo ikutan berjoget,” ajak Larasati yang tengah asyik menggoyangkan badannya di tengah musik dan suara pengamen mendendangkan sebuah lagu. Pengunjung yang lain juga ikut menari sambil tertawa-tawa gembira. Aku hanya menggeleng dan duduk memperhatikan di sebelah Ibnu yang juga menolak diajak bergoyang sambil ikut tergelak. Suasana malam minggu terasa semakin meriah dengan adanya pengamen jalanan melakukan konser kecil-kecilan, demi menghibur pengunjung, para wisatawan dan penduduk lokal. Sambil menggoyangkan badan, beberapa wanita dan pria memasukkan sejumlah uang ke kotak demi mendukung aksi pengamen yang sudah menghibur mereka.

    “Sulingnya suling bambuuu, gendangnya kulit lembu, iramanya melayuu duhai sedap sekaliii. Pinggul bergoyang-goyang rasa ingin berdendang.”

      Izinkan aku membagi kisah kami pada kalian semua. Kisah yang dimulai oleh sebuah kepahitan cinta tiada tara. Larasati dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Baba Ho, meskipun hanya anak angkat. Ibunya datang pada Baba Ho saat mengandung dirinya untuk meminta pekerjaan. Iba hati Baba Ho melihat wanita muda tanpa suami itu, hingga menerimanya sebagai karyawan yang tugasnya menjaga toko emasnya. Ketika ibunya meninggal saat melahirkan, Baba Ho juga yang memberikan nama Larasati yang memiliki makna keindahan abadi, anggun, lembut sekaligus memiliki kekuatan. Nama ini juga merujuk pada tokoh wayang Dewi Rarasati, istri Arjuna. Tokoh wayang kesukaan Baba Ho dalam kisah Ramayana. Sejak kelahiran Larasati, Baba Ho tak lagi merasa kesepian sebab Larasati meramaikan rumahnya dengan celoteh lucu dan kelincahannya. Maklumlah, kedua putranya sudah memiliki keluarga sendiri dan tinggal di luar negeri. Sementara istrinya sudah lama meninggal karena sakit dan dia tak tertarik untuk menikah lagi.

Lihat selengkapnya