"Sejatinya, seseorang tak bisa mencintai dua kekasih. Sebab hati tak mampu memuatnya”-Syeikhul Akbar, Muhyidin Ibnu Arabi
Suasana hari itu di kota rindu terasa lebih semarak, terutama di gang kawasan China Town. Hari bahagia bagi Larasati telah tiba, namun tidak bagi Ibnu. Iya bangun pagi tidak dengan semangat sebesar hari-hari kemarin.
“Ibnu, ini baju batik merah yang harus kamu pakai buat menghadiri pernikahan Larasati. Kita berangkat agak pagi-an ya, biar setelah itu ibu bisa kembali ke Laundry. Soalnya ibu hanya ijin setengah hari, ayo kamu bersiap-siap.”
“Iya bu,” jawab Ibnu malas-malasan
Dengan berat hati, ia tetap mandi dan berpakaian, walau hatinya masih belum bisa menerima kalau orang yang ia sayangi dan cintai sejak kecil dan selalu bermain bersamanya, mulai besok tak kan pernah ada lagi di sisinya. Tak hanya secara fisik tapi hatinya juga. Tuhan, kuatkan diri ini menghadiri pesta satu-satunya wanita yang kusayangi. Ia kuatkan hati untuk melangkah membawa sepucuk angpau merah di tangannya. Kadang penyesalan hadir belakangan sebab ketidakberaniannya mengutarakan rasa cinta yang sudah lama ia pendam pada Larasati. Mulanya hanya rasa sayang, lalu berubah menjadi rasa cinta sejak Larasati berpakaian putih abu-abu dengan rambutnya yang hitam legam sebahu. Kulit kuning langsat dan bola mata coklatnya yang indah dihiasi alis yang berbaris rapi. Ia mulai merasakan getaran-getaran begitu di dekat teman kecilnya itu. Sikap jaim pun mulai hadir tiba-tiba walau Larasati tetap tak berubah, tetap ceplas-ceplos dan apa adanya.
Begitu memasuki gedung pernikahan, terlihatlah warna merah mendominasi ruangan, terutama dekorasi pelaminan. Bunga Peony berwarna pink yang melambangkan keindahan dan cinta, merekah indah menghiasi beberapa sudut ruangan pesta. Bunga yang bermakna harapan bagi etnis Tionghoa. Semoga pasangan pengantin akan melewati hidup yang penuh kemakmuran setelah menikah. Ibnu dan ibunya segera mencari tempat duduk yang nyaman, sebelum menuju meja prasmanan khusus makanan muslim. Terlihat Larasati dan Jian dibalut busana pengantin berwarna merah cerah sedang melakukan prosesi Tea pai. membungkuk hormat di depan kedua orang tua. Lalu setelah itu pengantin wanita dan pria memberikan secangkir teh, sebagai simbol penghormatan dan bakti terhadap orang tua, serta rasa terima kasih atas doa restu.
Ibnu tak mampu menampik bahwa hari itu kecantikan Larasati terlihat lebih memancar dan memukau dirinya. Rasanya ia tak sanggup untuk berlama-lama menatap sang pengantin wanita. Bukankah aura kedukaan yang ia pancarkan dari perasaan kehilangannya tak baik bagi pengantin? Akan terjadi clash antara energi sukacita Larasati sama dukacita yang ia alami. Untuk itulah ia bergegas pamit ke toilet pada ibunya, sebagai alasan untuk menghilang dan pergi dengan motornya menyusuri jalanan tanpa arah. Melarikan perih hatinya yang menusuk-nusuk begitu tajam dan dalam hingga ke sumsum tulangnya.
Sementara itu di ruangan pesta, MC sedang memimpin acara Yamseng. Sebuah doa dan ucapan bagi pengantin, keluarga dan para undangan yang hadir dengan kata-kata yang baik agar seluruh rezeki dilancarkan, memakai bahasa Hokkien. Sambil mengangkat gelas masing-masing diiringi memanjatkan doa bersama. Ibunya yang gelisah menunggu Ibnu tak kunjung kembali akhirnya menyadari bahwa perasaan anaknya sedang tidak baik-baik saja. Sebab tak biasanya Ibnu bersikap agak ganjil seperti sekarang, apalagi sampai meninggalkan ibunya sendiri di tengah acara seperti ini. Sejak hari itu, awan kelabu Ibnu pun dimulai. Apalagi sejak Larasati tak pernah membalas WhatsApp dan email darinya. Secepat itukah seorang sahabat terdekat melupakan dirinya? Satu-satunya wanita yang selama ini melewati suka dan duka bersama. Bahkan sejak mereka sama-sama masih memakai celana dan rok pendek. Bersekolah di tempat yang sama dan mandi hujan berdua sambil berkejaran di tengah baju yang basah kuyub. Di mana setelahnya Ibnu demam karena masuk angin, tapi Larasati tetap sehat-sehat aja karena badannya lebih kuat meski wanita.
Sedari kecil Ibnu memang gampang sakit dan bila demam tinggi sedikit langsung kejang-kejang. Kalau sudah begitu, ibunya panik dan segera meminta obat panas pada Baba Ho, yang kebetulan memiliki toko obat China selain membuka toko emas. Ibnu yang tahu dirinya lemah dan sakit-sakitan sejak kecil, berusaha belajar keras dan rajin masuk sekolah, meski kadang sering ijin karena sakit untuk menutupi rasa mindernya, Ibnu berusaha untuk selalu rangking satu di kelas hingga bisa masuk kuliah negeri dan mendapatkan bea siswa. Ibnu juga giat ikut olahraga taekwondo dan angkat beban, hingga badannya tak lagi kurus dan ringkih. Ibnu pun menjadi jauh lebih ganteng karena wajahnya yang cakep, kini ditopang oleh badannya yang mulai berisi dan berotot. Dada nya pun lebih lebar sehingga ia merasa semakin percaya diri untuk bisa melindungi wanita yang ia cintai.
Kembali pada Ibnu yang akhirnya lebih banyak mengurung dirinya di kamar, sehabis pulang kuliah. Dirinya semakin tenggelam dalam buku-buku pelajaran psikologinya. Walau ibunya yakin tak akan berpengaruh pada studi anaknya. Bahkan Ibnu tamat lebih cepat karena terus belajar dan jarang keluar kamar, apalagi nongkrong seperti dulu bersama Salim di ruas jalan kota rindu. Sekedar memperhatikan orang yang lalu lalang sambil mengobrol dan bercanda. Di tengah suara pengamen jalanan dan kendaraan hingga derap langkah kaki kuda delman. yang melintas. Akhirnya Ibnu di wisuda dengan nilai cum laude. Namun kegembiraan Ibnu tetap tak sempurna tanpa Larasati yang tak hadir di acara kelulusannya. Hanya Ibu dan Salim yang mendampingi acara bahagia itu dengan mata berkaca-kaca memeluknya penuh rasa bangga dan bahagia.
Ibunya meskipun bahagia melihat Ibnu sudah lulus dengan nilai yang memuaskan, tetap menyimpan rasa khawatir.