“Namamu tak pernah lepas dari bibirku bahkan saat aku diam, hatiku terus menyebutmu”-Majnun
Menyusuri kota hati Konya, mengingatkanku pada slogan Gez Dunyayi Gor Konya'yi. Mengembaralah ke seantero dunia, tapi tengoklah Konya. Betapa negeri ini layak untuk di kunjungi sebagai kota spiritual dengan tarian berputarnya, selain sebagai tempat wisata. Hal pertama yang akan aku lakukan tentu saja menyaksikan tarian sema alias tarian Sufi yang terkenal seantero jagat raya. Semua orang dari berbagai negeri dan agama setiap tahun menyaksikannya. Aku pun menuju pusat kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi. Membayar tiket sekitar 50 tele, sebelum masuk ke studio pertunjukan dan bergabung dengan penonton lainnya di sebuah ruangan aula pelataran masjid yang cukup besar.
Sebelum memulai tarian, terlihat seorang Syekh yang akan memimpin pertunjukan, duduk di depan para darwis yang bersila melingkar. Memakai kostum khas sikke, berupa topi memanjang yang konon melambangkan batu nisan para wali dan suci yang ada di dataran Timur Tengah dengan bawahan rok tenur putih. Satu persatu darwis memberi salam pada sang ketua, lalu maju berputar-putar pelan sampai akhirnya semua serentak berputar bersamaan. Diiringi ney (suling bambu) dan rebana yang mengalun syahdu, tenang dan berirama menghanyutkan. Seiring gerakan berputar para darwis yang kian meningkat kecepatannya dengan kepala digoyang ke kanan dan ke kiri, hingga tampak seperti tengah terantuk-antuk dalam mabuk rindu sambil berzikir La Ilaha illa Allah tanpa rasa pusing dan vertigo. Amazing! Mungkin kalau orang awam yang melakukan akan jatuh pingsan. Para penari tentu saja sudah terlatih untuk melakukan gerakan berputar-putar tersebut. Bahkan katanya melakukan diet dengan menghindari beberapa makanan yang dapat meningkatkan asam lambung, dibarengi ketenangan batin. Setelah 45 menit, alunan seruling ney yang mengiris hati perlahan mulai mereda. Gerakan semazen yang berputar melampaui diri menemukan titik akhirnya, menandakan perjalanan spiritual telah mencapai puncaknya. Sebuah testamen abadi tentang cinta, pengabdian, dan kerinduan jiwa yang kekal berwujud kepasrahan.
Keheningan menyelimuti ruang Sema, setelah kembali dari sebuah ziarah ruh di antara kibaran rok putih, kain ego yang memudarkan dunia materi. Meleburkan jiwa ke dalam cinta Sang Ilahi. Ego diri pun telah mati dalam batu nisan kesombongan yang selesai ditunaikan oleh topi memanjang Sikke selama tarian. Para penari pun mengakhiri tarian dengan menyilangkan kembali kedua tangan dalam posisi tunduk merendahkan hati. Menapak kembali ke bumi dengan pribadi baru. Kini wadah jiwa yang telah dikosongkan itu, siap diisi oleh sinaran cinta Sang Pencipta. Pantulan cahaya yang mereka terima dengan tangan kanan yang menengadah ke atas, siap untuk membagikan yang mereka terima melalui tangan kiri yang mengarah ke bumi. Sedekah bagi sesama adalah perwujudannya sebagai rasa syukur dari anugerah yang diterima. Sesungguhnya tarian tak benar-benar berakhir, tapi tertinggal di hati yang penuh keheningan. Melahirkan sebuah kesadaran bahwa meski kaki berpijak di tanah yang fana, namun jiwa terus berputar dalam orbit cinta Sang Pemilik jiwa abadi. Di mana gerakan menjadi doa dan rotasi semazen adalah meditasi. Jiwaku seakan ikut ditarik ke dalamnya. Yah, ini bukan hanya sebuah pertunjukan tapi jalan suci!
Kehilangan dua orang penting dalam hidup Ibnu, berhasil membuatnya tenggelam dalam duka dan lebih banyak mengurung diri di kamar. Sebagai sahabatnya yang masih tersisa, aku hanya bisa memeluknya, demi meringankan bebannya. Dua orang yang ia cintai telah pergi secara beruntun. Sungguh sebuah pukulan yang tidak ringan bagi Ibnu. Akhirnya Ibnu semakin mengurung diri di kamarnya dibarengi tiduran terus tanpa gairah untuk bangun. Bahkan sekedar mengisi perutnya yang seharian kosong tanpa secuil makanan pun. Giliran aku yang kini cemas melihat kondisinya.
“Untuk apa aku harus bangun setiap pagi, Salim.”
Begitu jawaban Ibnu dengan tatapan mata yang hampa ketika aku mengajaknya bersemangat kembali.