Rumah ... sebenarnya aku tidak tahu apa itu maknanya.
Sepanjang hidup ini, kupikir rumah hanyalah bangunan yang berdiri di atas sebuah tanah dengan luasan tertentu. Sebuah alamat tempatku kembali dari perjalanan jauh, atau sekadar tempat beristirahat dari kesibukan mengejar mimpiku di luar sana.
Aku memahaminya seperti itu, atau setidaknya, kuyakini begitu sampai hari ini.
"Le, besok kamu pergi lagi?" tanya ayahku, kepalanya menyembul dari pintu kamar.
"Iya," jawabku singkat masih sambil sibuk kerja di depan komputer pribadiku.
"Tanggal merah loh?"
Aku berhenti mengetik dan menatapnya datar. "Ada tenggat waktu yang harus dikejar, Yah. Lagipula, di dunia kerja enggak ada istilah tanggal merah kalau proyeknya belum selesai."
Ayah tidak mendebat. Beliau hanya mengangguk pelan, lalu perlahan menarik kembali pintunya. "Ya sudah, jangan lupa makan."
Begitu pintu tertutup, keheningan kembali menyergap. Entah mengapa, ketukan jemariku di atas papan tik tidak lagi secepat tadi. Aku mencoba kembali fokus menyelesaikan tenggat waktu kerjaan, tetapi pikiranku jadi mendadak gelisah. Rasanya ada sesuatu yang salah.