Aku menyeka sisa air mata di pipi dengan kasar, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantung yang mulai melambat. Membiarkan Ayah kesepian di dapur sendirian jauh lebih membuatku merasa berdosa, walau jujur saja, aku tidak tahu harus memasang muka seperti apa di depannya nanti.
Kuputar kenop pintu perlahan. Bunyi deritnya sengaja kubuat agak nyaring agar Ayah tidak terkejut.
"Gale?" teriak Ayah dari dapur.
"Ya."
"Loh, bukannya tadi udah berangkat kerja?" tanya Ayah bingung sambil menghampiriku.
Aku sedikit tergagap. "Ada barang yang ketinggalan."
Ayah ber-O ria. "Eh, buru-buru mau pergi lagi gak?"
Aku menggeleng canggung.
"Kalau gitu, sarapan dulu. Tadi Ayah abis bikin nasi goreng udang, niatnya mau tak anter ke kantormu."
"Hm?"